Pages

Sunday, May 31, 2009

manekin informatif

Mungkin inilah manekin pertama di dunia, yang secara tersirat menyampaikan pesan edukatif bagi para calon pembeli:

PERINGATAN! Mengenakan baju ini tanpa mawas diri terlebih dahulu terhadap ukuran 'anggota tubuh tertentu' dapat berakibat fatal!



Lokasi: Butik "DePe" Ampera, Cilandak.

Friday, May 29, 2009

Kirimkan kue GRATIS dari kotakkue.com buat seseorang yang istimewa!

DCC special

Punya seseorang yang istimewa, dan berulang tahun di bulan Juni?

Kirimkan kado istimewa berupa Double Chocolate Cake Special dari kotakkue.com, hanya dengan menuliskan sebuah cerita pendek tentangnya.

Aturan mainnya bisa diklik di sini.

Saturday, May 16, 2009

[review] knowing

Info pertama yang gue terima tentang film ini adalah lewat e-mail forward-an yang berisi daftar film2 yang akan beredar di tahun 2009. Gue tertarik karena ceritanya yang lumayan unik: seorang anak menguburkan selembar kertas berisi deretan angka ke dalam kapsul waktu. Saat kapsul waktunya dibuka 50 tahun kemudian, lembaran kertas itu jatuh ke tangan seorang profesor yang akhirnya menemukan bahwa deretan-deretan angka itu sebenarnya tanggal, koordinat lokasi, dan jumlah korban dalam bencana-bencana besar yang terjadi di seluruh dunia.

Nicolas Cage berperan sebagai Jonathan Koestler, seorang dosen astrofisika di MIT. Dia hidup berdua dengan Caleb, putra tunggalnya. Caleb lah yang pertama kali menerima lembaran kertas aneh itu dari sebuah acara peringatan di sekolahnya. Saat menyadari makna angka-angka yang tertulis, Jonathan berusaha menyelidiki siapa penulisnya, dan mencegah agar ramalan 3 bencana yang tersisa itu jangan sampe terjadi.

Selintas dari segi tema cerita, film ini mirip dengan 'Final Destination': yaitu tentang sekelompok orang yang berusaha mencegah sebuah bencana sebelum terjadi. Tapi dari segi penceritaan, film ini terasa jauh lebih 'serius' ketimbang FD. 'Serius' dalam arti berusaha memberikan latar belakang yang cukup tentang apa, siapa, dan mengapa di balik rangkaian ramalan bencana; tanpa menjadikan film ini berat dan membosankan. Alur ceritanya tersusun secara sangat rapi dan penuh perhitungan, membuat gue terus penasaran bertanya-tanya tentang apa sebenarnya maksud lembaran kertas ini. Pak sutradara juga nggak lupa menyelipkan beberapa adegan ngagetin dengan latar belakang musik yang tegang banget, plus adegan-adegan kecelakaan yang ngeri-ngeri. Apalagi saat memasuki pertengahan film, mulai muncul beberapa sosok misterius berbaju serba hitam yang terus-menerus mendatangi Caleb. Siap-siap deg-degan deh!

Soal pemain, Nicolas Cage mendapat peran langganannya sebagai orang biasa-biasa aja yang terpaksa jadi 'superhero' karena desakan situasi dan kondisi (coba tonton 'Con Air', 'The Rock', juga 'WTC'). Nggak heran kalo permainannya meyakinkan banget. Tapi jangan kuatir, walaupun film didominasi wajah ngantuk Cage dan sosok si bocah Caleb, tetap ada sedikit 'pemanis' bagi para penonton pria yaitu Rose Byrne yang berperan sebagai Diana, putri Lucida Embry sang penulis kertas misterius. Dalam sebuah adegan yang sangat tidak penting, Rose Byrne tampil sekilas dalam lingerie hitam saat mau ngelonin anak. Sungguh sebuah adegan yang sangat kentara maksud dan tujuannya.

Sampe kurang lebih 2/3 film, gue sangat terkagum-kagum dengan film ini; baik dari ide ceritanya yang nggak biasa dan penggarapannya yang nggak membosankan. Tapi waktu pelan-pelan rahasia di balik rangkaian angka terjawab, jawabannya sungguh bikin sebel. Apalagi waktu penjelasan tentang identitas sosok-sosok berbaju gelap ternyata persis sama dengan perkiraan gue. Seolah-olah para pembuat film ini lagi asik kerja serius sampe filmnya 66% jadi, tau-tau produsernya bilang "eh buruan kelarin tuh film, udah mau jadwal tayang nih!" sehingga sepertiga bagian akhir menjadi sedemikian klisenya.

Bagaimanapun, walaupun rada kecewa dengan bagian akhirnya, secara umum gue bilang film ini bagus dan layak dapet 4 bintang.

[review] monsters vs. aliens

Buat yang niat mau nonton film ini mungkin udah baca sekilas resensinya di berbagai media; yaitu tentang sekelompok monster bumi yang dikaryakan untuk mengusir alien. Setelah barusan gue tonton filmnya, ternyata... ya memang gitu doang ceritanya. Nggak ada kejutan, nggak ada plot ekstra... Joke-jokenya terasa hasil daur ulang dari entah berapa ratus film animasi yang pernah mendahuluinya. Intinya ya cuma gimana sekelompok monster itu melawan alien, titik. Ada sih sedikit upaya untuk memperkaya cerita dengan menambahkan unsur kisah percintaan antara Susan si cewek setinggi 50 kaki dengan Derek, pacarnya. Tapi gue yakin sebagian besar penonton udah bisa nebak gimana endingnya sejak kali pertama kedua tokoh ini muncul di layar.

Teknik animasinya memang keren, tapi kalo ceritanya basi ya ngantuk juga nontonnya. Yang jelas, film ini akan jadi film bersejarah buat Rafi, karena inilah kali pertama dia bisa bertahan di dalam bioskop tanpa rewel minta keluar - mungkin dipengaruhi kondisi bahwa dia ketiduran di pertengahan film.

[review] jamila dan sang presiden

Buat kalian yang biasanya make review gue sebagai pertimbangan milih film, tolong lebih berhati-hati menyikapi review gue yang satu ini. Gue sendiri bahkan nggak tau kenapa gue kasih bintang 4 untuk film ini.

Temponya lumayan lambat, temanya berat, dialog-dialognya terkadang terlalu 'nyastra' banget, endingnya bisa gue tebak saat film baru jalan seperempatnya... pokoknya bukan jenis film yang biasanya akan gue nikmati dan puji-puji. Tapi kenyataannya gue sama sekali nggak ketiduran - dan itu sebuah parameter yang sangat signifikan untuk menentukan kualitas sebuah film (menurut ukuran gue, tentunya).

Film ini bercerita tentang kehidupan Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang PSK yang ujug-ujug menyerahkan diri ke polisi dengan mengakui telah membunuh seorang menteri bernama Nurdin. Dia ditahan di penjara yang dipimpin oleh seorang kepala sipir bernama Ria (Christine Hakim). Sementara itu, kasus pembunuhan Nurdin berkembang jadi kasus yang sangat dipolitisir dan muncullah seorang pimpinan 'organisasi massa berbasis agama tertentu' (Fauzi Baadilah) yang bolak-balik menggelar demo menuntut Jamila dihukum mati. Lewat adegan-adegan flashback, pelan-pelan penonton dikasih liat siapa sebenarnya Jamila, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik pembunuhan Nurdin.

Ini adalah debut Ratna Sarumpaet menyutradarai sebuah film layar lebar, dan kalo gue mau sok pake istilah ala resensi film kelas majalah, 'dia menuliskan tanda tangannya dengan tinta tebal dalam film ini'. Temanya dia banget, tentang perdagangan dan pelacuran anak di bawah umur, dan dia bolak-balik menyodorkan potret-potret suram tentang masalah ini. Bukan cuma itu, lewat berbagai simbol dia menantang persepsi penonton tentang realita sosial di Indonesia, dan mempertanyakan penilaian-penilaian mereka sendiri. Lewat tokoh Ria yang dibawakan secara jaminan mutu oleh Christine Hakim, dia menyuarakan pemikiran gue yang sebel liat tingkah Jamila:
"Apakah karena hidup kamu menderita, lantas kamu boleh membunuh orang?"
atau
"Membunuh orang kamu tega, tapi cuma mimpi buruk saja bikin kamu berteriak-teriak seperti orang gila!"

Siapa sih Jamila? Dia ditampilkan di depan penonton sebagai sebuah sosok yang nggak mengundang simpati. PSK papan atas yang doyan dugem dan akhirnya membunuh orang. Buat apa sih penonton bersimpati kepadanya?

Di akhir film, mungkin sebagian penonton akan menyesali penilaian mereka yang terlalu dini. Saat itu, 'gimana endingnya' udah bukan lagi hal yang penting untuk dipertanyakan.

Sebagai film, 'Jamila dan Sang Presiden' bukanlah tontonan yang nyaman. Tapi kalau potret-potret suram yang ditampilkannya memang betulan mewakili realita, apakah berarti filmnya yang gagal jadi tontonan? Atau jangan-jangan kitanya yang telah gagal jadi masyarakat beradab?

[review] bukan cinta biasa

"Nonton apa ya? 'Crank 2'? 'Bukan Cinta Biasa'?"
"'Bukan Cinta Biasa' aja pak, lucu deh!"
Rada surprised juga gue denger rekomendasi yang begitu bersemangat keluar dari mulut mbak-mbak penjual tiket di Pejaten Village XXI tadi malem. Kebetulan memang gue rada tertarik nonton film itu setelah nonton trailernya bbrp minggu yang lalu. Dan ternyata ini adalah keputusan yang tepat.

Ringkasan cerita:
Tommy (Ferdy Element) adalah seorang rocker jadul yang secara kurang sadar umur masih aja mempertahankan gaya hidup rockernya di saat eranya udah jauh lewat. Pada suatu hrai, Tommy kedatangan tamu seorang ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jansen) yang mengaku sebagai anaknya. Ternyata Nikita adalah anak Lintang (Wulan Guritno), seorang cewek yang pernah dipacari (dan dihamili) Tommy 16 tahun yang lalu. Wulan sekarang udah punya suami bule bernama Steven dan lagi siap-siap untuk balik ke Amerika dan menetap di sana. Sementara itu Nikita merasa tanggung ninggalin sekolahnya yang tinggal satu semester lagi sebelum kenaikan kelas. Akhirnya Nikita memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang 6 bulan itu dengan tinggal bareng ayah-ketemu-gede-nya.

Komentar gue:
Film ini membuktikan betapa unsur-unsur yang tepat, kalo diolah dalam wadah yang juga tepat, bisa menciptakan film bertema biasa jadi tontonan yang menghibur. Mulai dari pemilihan pemeran utamanya, Nikita, kok ya bisa pas banget nemu orang yang mirip banget sama Wulan Guritno, sehingga cocok megang peran sebagai anaknya. Ferdy juga pas memerankan karakter rocker tua yang masih merasa diri cool padahal perut udah bergelambir. Selain itu juga ada sederetan wajah-wajah terkenal muncul sebagai cameo, seperti Aa Jimmy (Aa Gym gadungan), Aom Kusman, Tike Extravaganza, dan Roy Tobing. Bahkan Julia Perez yang cuma muncul sekilas-sekilas juga pas banget memerankan pacar Tommy, dengan dandanan dan tingkah lakunya seolah berteriak keras, "L**TE!!!"

Setting kota Bandung yang dari dulu terkenal sebagai kota kelahiran banyak band rock legendaris juga pilihan yang tepat banget. Apalagi ketika peran-peran pendukung juga diserahkan kepada pemain-pemain yang besar di Bandung, antara lain Joe dan Daan P-Project, bikin celetukan-celetukan spontan ala Bandung terdengar lebih natural.

Satu 'penyakit' yang sering menyerang film-film komedi Indonesia adalah usaha yang terlalu 'ngotot' untuk menyuguhkan adegan lucu. Akibatnya yang nongol di layar adalah tindakan-tindakan memperbodoh diri sendiri atau adegan-adegan yang 'trying too hard' to be funny. Syukurlah, film ini (relatif) berhasil meloloskan diri dari jebakan serupa. Film ini bersandar sepenuhnya pada komedi situasi, perpaduan berbagai unsur situasi yang sebenernya nggak bermaksud melucu tapi tiba-tiba saling bertabrakan sehingga menimbulkan kejutan yang lucu.

Ambil contoh waktu Tommy pertama kali kenalan dengan Steven, suami Lintang. Sebagai mantan pacar yang masih 'memendam rasa', Tommy ngomongin Steven pake bahasa Sunda, dengan asumsi si bule itu nggak akan ngerti. Eh taunya Steven balik ngomelin Tommy pake bahasa Sunda pasaran dengan fasihnya, karena dia pernah tinggal lama di... Soreang! Sebagai ekspresi kekagetannya, Tommy lantas nyeletuk, "Elu sebenernya orang Amrik atau orang Tasik sih?"

Celetukan-celetukan yang serba tepat waktu bertebaran di film ini, dengan tema utama menertawakan ulah para rocker tua. Mereka yang selama ini menjaga image sebagai sosok yang gahar, keren, dan macho harus terjebak dalam situasi yang "nggak rocker banget" seperti dilarang ngerokok oleh seorang ABG berumur 16 tahun, digodain homo tua di bioskop, belajar ngaji sambil sarungan dan berpeci, atau harus dorong mobil tua mogok:

"Heh, dorongnya yang bener dong!"
"Eeee... saya ini bassist, bukan kenek!" sahut Joe.


Film ini juga dengan isengnya mencampuradukkan adegan - adegan penuh perasaan yang memancing keharuan penonton dengan celetukan asal jeplak, seperti,

"Saat ini, gue merasa menjadi manusia seutuhnya," kata Tommy.
"Lah, emangnya selama ini merasa diri apa, tomat?"


Walaupun secara umum film ini sangat sangat sangat menghibur dengan cara yang enggak murahan, tetep ada beberapa hal yang terasa agak mengganggu. Misalnya adegan dialog serius Nikita dan Tommy di parkiran, terasa mendadak teralu nyastra banget. Juga beberapa hal yang rasanya agak kurang kuat untuk mendukung logika alur cerita, seperti:
  • kenapa Lintang dengan rela hati mau menitipkan anak satu-satunya selama 6 bulan ke tangan bapak rocker yang nggak pernah ditemuinya selama 16 tahun?

  • keperluan apa yang membuat Lintang dan suaminya harus segera berangkat ke Amerika, sehingga nggak bisa nunggu 6 bulan biar Nikita bisa menyelesaikan sekolahnya?


Tapi yang paling mengganggu adalah pilihan endingnya. Saat film baru berjalan seperempat Ida tiba-tiba menyeploskan ramalannya tentang bagaimana film ini akan diakhiri, dan sepanjang film gue berharap semoga ramalannya meleset. Eh taunya bener. Sial, endingnya bikin gue dengan sangat terpaksa memotong satu bintang dari film ini.

Selain itu gue juga curiga ada sesuatu yang serius terjadi dengan Joe di tengah proses shooting, karena kurang lebih di 1/4 bagian menjelang akhir film tiba-tiba menghilang dan nggak muncul lagi di layar tanpa penjelasan yang kuat. Kira-kira kenapa dia, ya? Sakit? Atau nggak cocok dengan crew filmnya?

Sebagai tontonan, film ini berpotensi untuk memuaskan semua penonton. Buat para cewek, bisa menikmati dramanya yang mengharukan, sementara para cowok bisa menikmati komedinya plus bonus Olivia Lubis Jansen yang selalu nampak segar dan renyah seperti lalapan baru dipetik:



Sekilas tentang Olivia Lubis Jansen: ini adalah debutnya di dunia film. Dia ditemukan oleh Asisten Sutradara film ini lagi jalan-jalan di Paris Van Java, Bandung dan langsung lolos casting. Walaupun baru pertama kali main film, tapi aktingnya nggak mengecewakan - bahkan sampe dapet pujian dari Menpora Adhyaksa Dault. Lahir di Denmark tanggal 11 April 1993, dan sekarang duduk di kelas 2 Bandung International School. Sekedar informasi, pada tahun 1993 di mana bocah ini baru dilahirkan ke dunia, gue udah kuliah semester 4. Fakta ini sedikit banyak membuat gue merasa tua bangka. Saat ini konon lagi terlibat 'cinlok dengan Afgan yang menyanyikan OST film ini. Ketika dikonfirmasi, tanggapan Afgan adalah: “Ya kita lihat sajalah ke depannya nanti. Nggak ada yang nggak mungkin.” Afgan, mari sini oom toyor sedikit, boleh? Sukses buat dek Olivia, pesan oom berhati-hatilah menjaga kartu keluarga dan akte kelahiran sebab kalo sampe hilang ngurusnya jauh.



Selamat juga buat Benni Setyawan, sang sutradara merangkap penulis cerita. Semoga masa depannya cerah dan produktif memproduksi film-film sekualitas ini lagi. Satu pesan gue; tolong di film berikutnya cari designer poster yang baru ya! Poster film ini bener-bener nggak sebanding dengan kualitas filmnya.

Sumber foto: situs resmi bukan cinta biasa

Monday, May 11, 2009

nulis sambil ngantor? bisa!

Hari ini pertanyaan berikut masuk di shoutbox gue:

"numpang ngomong ya mbot, cr ngebagi waktu loh antara kerja dan ngeblog gimana si.." Berhubung jawabannya panjang, gue tulis di posting aja deh. Kali-kali bermanfaat buat lainnya.

Kalo boleh milih, tentunya gue lebih seneng nulis sambil santai, make celana pendek dan kaos robek, sambil denger musik, ngemil kacang dan minum es teh, sesekali ngecek FB dan main game, diseling nonton tv bentar, ngerokok sebatang dua batang, ngetik lagi, dst dst. Tapi makin lama kesempatan seperti itu makin jadi barang mewah, jadi ya... guenya yang harus mengerahkan upaya ekstra untuk tetep bisa nulis, baik untuk blog maupun buku ke dua.

Prinsip 1: tulisan nggak akan mungkin sempurna sebelum ADA Dulu waktu gue masih punya banyak waktu, untuk bikin sebuah posting gue membutuhkan waktu bisa sampe berhari-hari. Buat yang udah baca buku "Ocehan si Mbot", tulisan gue tentang Tujubelasan (hal 55 -85) itu gue tulis selama 3 hari non-stop. Diketik dulu di MS Word, pindahin ke Frontpage, dikasih warna-warna background, rapihin dulu kode-kode HTML-nya... wah, pokoknya ribet. Rentang waktu kejadian yang diceritain juga panjang dan detil banget. Tujuannya untuk bikin tulisan yang menurut gue 'sempurna'.

Kalo sekarang gue melakukan hal yang sama, bisa-bisa blog ini baru gue update 3 bulan sekali. Sekarang, gue memilih tema-tema tulisan yang bisa ditulis segera. Toh kalo ada kesalahan atau ketidaksempurnaan, bisa dipoles belakangan. Tema-tema yang kira-kira akan butuh penulisan yang ribet, gue simpen dulu sebagai draft untuk ditulis kapan-kapan kalo ada waktu luang.

Prinsip 2: keyboard sebagai proses akhir Artinya, proses penulisan gue lakukan secara abstrak di dalam kepala sebelum gue berkesempatan ketemu keyboard untuk nulis. Kalo prosesor komputer yang buatan manusia aja bisa melakukan multi-tasking alias mengerjakan beberapa kegiatan pada saat yang bersamaan, gue yakin otak buatan Tuhan mampu melakukannya dengan lebih baik lagi. Saat dapet ide, gue biarkan ide itu berkembang di dalam otak seperti adonan roti. Sesiangan proses itu berjalan, sementara gue ngerjain tugas-tugas kantor. Apalagi dalam sehari pasti ada aja saat di mana gue cuma bisa bengong tanpa ngerjain apapun, seperti misalnya ngantri pesen makan siang atau duduk di boncengan ojek. Saat-saat seperti itu gue manfaatkan untuk mengembangkan ide di kepala. Malam harinya, biasanya ide itu udah jadi, tinggal disalin dari dalam kepala ke keyboard.

Prinsip 3: umum ke khusus Kalo dulu gue menulis sesuatu secara lengkap dari awal sampe akhir, dengan dukungan referensi-referensi hasil browsing di google, sekarang gue memilih untuk memecah ide dalam bentuk yang lebih spesifik. Dengan demikian tulisannya bisa lebih pendek dan lebih gampang ditulis (dan lebih gampang dibaca juga, tentunya).

Prinsip 4: lebih baik sedikit daripada enggak sama sekali Karena nyari waktu yang khusus untuk duduk diem dan nulis sambil merenung-renung makin sedikit, ya gue manfaatin aja waktu yang ada - sesedikit apapun. Misalnya waktu makan siang. Sebagaimana orang kantoran lainnya, gue punya waktu makan siang 1 jam, dari jam 12.00 - 13.00. Lima belas menit pertama gue pake untuk makan siang, 10 menit untuk salat Zuhur, masih ada 35 menit untuk nulis. Dalam waktu 35 menit mungkin nggak banyak yang bisa ditulis, tapi kan lebih baik daripada enggak sama sekali.

Prinsip 5: ide sebagai 'password'

Kalo lagi kerja tiba-tiba dapet ide, gue tuliskan ide itu dalam satu - dua kalimat dan gue kirimkan via email ke alamat email pribadi gue. Suatu hari nanti kalo gue lagi butuh tambahan ide, gue tinggal buka email - email pendek itu. Seperti password, ide-ide pendek itu biasanya bisa membuka 'keran' ide dalam bentuk yang lebih kompleks.

Begitulah kurang lebih strategi yang gue jalankan untuk menyiasati waktu yang makin terbatas buat nulis. Buat himura 232, semoga menjawab ya!

Ada yang punya strategi lainnya? Silakan dibagi di sini.

gambar gue pinjem dari sini

Sunday, May 10, 2009

ulang tahun yang nggak perlu dirayain

Mei 2006, Ibu gue yang lagi nginep di rumah kakak gue di Makassar tiba-tiba sakit keras. Ibu panas tinggi sampa kesadarannya menurun jauh. Berdasarkan pemeriksaan, tim dokter memutuskan ibu harus dioperasi karena mengalami infeksi parah di lututnya. Tanggal 11 Mei 2006, ibu menjalani operasi tersebut. Hasilnya, infeksi berhasil dipadamkan, tapi akibatnya ibu nggak bisa jalan dan harus berkursi roda.

Bulan Juni ibu diboyong pulang ke Jakarta, dan di rumah berangsur-angsur sembuh. Tapi, ibu yang dulunya seneng jalan-jalan window shopping di mall sekarang jadi males keluar rumah. Jangankan ke mall, cari angin di teras aja ibu memilih waktu - waktu sepi, dini hari atau tengah malam sekalian. Alasannya, biar nggak dilihat tetangga. Malu, karena pakai kursi roda.

Waktu itu gue bilang, "Kenapa malu? Ibu-ibu lain mungkin banyak yang masih bisa jalan, tapi sama siapa? Paling ditemenin suster, atau sesama ibu-ibu tua lainnya. Sedangkan ibu, walaupun pakai kursi roda, tapi yang dorong dari belakang kan anak-anaknya sendiri, menantunya, cucunya. Bukan suster, bukan orang lain. Mungkin malah mereka iri sama ibu!"

Perlahan-lahan semangat ibu bangkit. Sekarang udah mulai nagih kalo seminggu nggak diajak mampir ke mal, dan udah bisa melakukan banyak hal sendiri - termasuk naik dan turun tangga. Hari ini, 11 Mei 2009, adalah ulang tahun ke tiga dari sebuah peristiwa yang nggak ingin kami rayakan.Tapi kami bersyukur punya Ibu yang semangat pantang menyerahnya membuat kami bangga.

Serial posting gue tentang sakitnya Ibu di Makassar bisa dibaca mulai dari sini, dan di sini.
foto: Ibu dan seluruh anak, menantu, dan cucu dalam acara selametan rumah baru, awal 2009.

[review] watchmen

"Jadi, siapa penjahatnya?" adalah pertanyaan yang selama ini nggak pernah perlu muncul setelah nonton film superhero. Sekalipun film 'Dark Knight' yang disebut-sebut orang sebagai penggambaran aspek psikologis yang paling nyata dari sebuah karakter komik pun masih menarik garis yang jelas: jagoannya Batman, penjahatnya Joker. Tapi, 'Wathcmen' berhasil bikin pertanyaan sederhana ini jadi rumit.

Bahkan ringkasan ceritanya juga sulit gue tuliskan tanpa membongkar kejutan-kejutan yang dengan rapih disusun rata di sepanjang film. Intinya, film ini bercerita tentang kehidupan sekelompok 'superhero' yang menyebut diri 'Watchmen', dari kurun waktu alternatif. Di dunia mereka, Richard Nixon masih jadi presiden Amerika di tahun 1985, dan menang perang di Vietnam. Cerita dibuka dengan kematian 'The Commedian', salah satu anggota Watchmen, dan penonton diajak mengikuti penyelidikan Rorchach, juga anggota Watchmen, yang penasaran ingin menangkap siapa pembunuh rekannya itu. Sayangnya teman-teman Rorschach nggak nampak antusias menyambut ajakan tersebut, dan memilih meneruskan kehidupan mereka sebagai orang biasa. Maklum, saat itu Watchmen udah dinyatakan bubar, dan masing-masing anggotanya punya kegiatan sendiri-sendiri.

Jadi, siapa penjahatnya?
Bahkan siapa jagoannya pun nggak gampang dijawab.

Kalo definisi superhero yang ada selama ini adalah tokoh berkekuatan super yang merahasiakan identitasnya, selalu siap membasmi kejahatan dan membela yang lemah, maka Rorschach adalah pilihan yang paling mendekati. Tapi di film ini karakter Rorschach malah tampil sebagai si ajaib yang nggak dimengerti orang lain, termasuk teman-temannya sesama anggota Watchmen yang mencap dia sebagai sociopath. Apakah lantas pahlawannya adalah Dr. Manhattan, yang kekuatannya tak terbatas, bisa melakukan apapun yang dia mau termasuk mengubah benda apapun menjadi apapun, berteleportasi hingga ke planet lain? Dia bahkan nggak cukup peduli untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dari todongan senjata. Apakah berarti jagoannya adalah The Commedian, yang sedemikian patriotiknya sehingga upacara pemakamannya dilaksanakan secara militer? Dia nggak lebih dari bapak tua cabul yang nggak bisa berhenti mabuk, sekalipun lagi menghadiri rapat bersama Watchmen.

Film ini bener-bener menjungkirbalikkan citra tentang superhero yang ada di benak orang selama ini. Mungkin kalo Jerry Siegel dan Joe Shuster, para pencipta tokoh Superman yang baik hati, hidup lurus dan pantas diteladani itu dibangkitkan dari kubur dan diajak nonton Watchmen, mereka bisa mati lagi karena jantungan ngeliat ada superhero menembak rakyat sipil dari belakang sambil ketawa-ketawa. Beberapa anak kecil terdengar menjerit ketakutan saat di salah satu adegan 2 anggota Watchmen mematahkan tangan perampok dan kamera dengan isengnya mengambil close-up tulang-tulang yang mencuat menembus daging. Mungkin karena di poster ada tokoh-tokoh berkostum, orangtuanya mengira ini film anak-anak. Nggak kebayang gimana sibuknya mereka menutup mata anak-anaknya saat di layar muncul adegan perkosaan, atau tokoh Dr. Manhattan yang dengan santainya mondar-mandir ke sana ke mari sambil bugil dan membiarkan salah satu anggota tubuhnya gondal-gandul kayak timun matang pohon.

"Who watches the Watchmen?" seru masyarakat yang ketakutan lewat sebuah grafiti di tembok. Sebuah ketakutan yang sangat beralasan pada sekumpulan manusia menyedihkan, yang merasa diri superhero hanya karena mereka bertopeng.

Di akhir film, 'siapa penjahatnya' nggak lagi penting untuk dijawab, karena benak penonton dipenuhi oleh sejumlah pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab.

Friday, May 08, 2009

For sale: "Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran"

Buat yang sedang, akan, pernah, atau memutuskan untuk nggak akan pernah jadi orang kantoran, ini buku buat kalian :-)

Yak, "Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran" adalah kumpulan posting gue di blog http://mbot.multiply.com khususnya yang bertema seputar kehidupan di kantor. Ada 38 artikel yang terangkum di sini, termasuk beberapa artikel baru yang belum pernah gue publikasikan sebelumnya. Selain itu juga ada beberapa ilustrasi, gambar gue sendiri :-).

Buku setebal 272 halaman ini udah beredar di toko-toko buku se-Indonesia mulai tanggal 21 Oktober 2008, dengan harga cuma Rp. 33.000 saja.

Masih kurang yakin? Mending baca aja komentar para blogger berikut deh...

Saya adalah penggemar karya Agung ‘si mbot’ Nugroho sejak lama. Sebagai orang yang pernah merasakan hidup di taman kubikel, kumpulan cerita ini benar-benar natural, lucu, dan sangat menghibur. Tidak dapat dihitung berapa kali saya tersenyum dan tertawa ketika membaca buku ini. Agung ‘si mbot’ Nugroho is dangerously funny!
Ninit Yunita, penulis buku best seller “Test Pack”
www.istribawel.com

“Belum pernah gue ketemu orang sakit kayak Mbot. Yang menseparasi buku / blog Mbot dari yang lain – dan membuat gue yakin dia akan menjadi penulis sukses setelah ini – adalah observasi tajam dan humor lawak yang selalu konsisten selama bertahun-tahun menulis. Buku ini wajib baca kalo elo mau nangis ketawa dan pasti akan ngakuin ‘kok ada ya manusia ajaib kek dia?’”
Adhitya Mulya, penulis buku best seller “Jomblo”
www.suamigila.com

“Mengenal Agung - mbot sejak 2004 lewat multiply, membuat saya penasaran dengan kekocakan tulisan-nya yang lain. Beruntung kami akhirnya saling mengenal juga di dunia nyata, dan tiada hari tanpa tertawa bila ada di dekat Agung! Ini sungguh membuat saya beruntung mempunyai teman seperti Agung. Semoga buku perdana-nya membuat teman-teman lain bisa tertular tawa yang tulus... Selamat tertawa!
Ari Wijaya, penyiar radio, pengajar IT, presiden komunitas Multiply Indonesia
srisariningdiyah.multiply.com

“’Bener, ni anak salah jurusan!’ begitu kata-kata yang sering terlontar kala mengomentari karya-karya Agung dari masa mudanya (cieh!). Alih-alih mengambil jurusan terkait seni dengan bakat kreativitas sekaligus iseng-iseng tapi seriusnya itu, Agung malah masuk jurusan Psikologi--hal yang sangat berbahaya sebenarnya, karena sifat iseng dan usilnya bukan lantas surut, namun malah mendapatkan ‘extra charge’ dengan tambahan pengetahuan soal sifat alami manusia! Dan jadilah perpaduan antara semua 'permasalahan' yang dimilikinya tersebut membuat Agung muncul sebagai seorang penulis yang kreatif, penuh keingintahuan, analistis, kritis, dan... usil! Selamat datang ke dunia mbot.multiply.com!”
Bayu Amus, penulis dan pemerhati kuliner
kangbayu.multiply.com

“Postingan Agung hampir selalu bikin gue cekikikan sendiri. Atau terharu. Atau dua-duanya. Kalo saat baca gue sedang di Jakarta, gue langsung nelpon dia dan bicarakan detail-detail (penting dan nggak penting) cerita itu. Pastinya! Kalo sedang berada di negeri garing, gue cuma bisa ketawa sendiri, komentar, 'Duh gilanya nih anak!' :) Nevertheless, those stories really made my days!”
Nanin, teman kuliah, pembenci bunga plastik dan peniti karatan yang ditaruh sembarangan di pinggir bak mandi.
nanin.multiply.com

“Salah satu tulisan senior beda universitas… seru! Lucu! Dan informatif. Aku banyak belajar dari tulisannya Mas Agung Mbot. Belajar CSS (Cascading Style Sheet), CCP (Cari Cari Perhatian), ataupun CCO (Cela-Cela Orang), atau bahkan CCTIYJKSSCC (Cerita-Cerita-Tentang-Istri-Yang-Bikin-Kue-Salah-Satunya-Chocolate-Cake). Kalo disuruh beli bukunya Mas Agung, aku mau, lah... Kali aja ada resep instan (yang kalo dicelupin bukunya dalem air panas, bisa langsung jadi chocolate cake). Pokoknya, selama aku gabung di MP, tulisan-tulisan Mas Agung jadi pelipur lara!”
Diah Ramli, calon psikolog
diahramli.multiply.com

“Tulisan di blog si Mbot itu sangat sarat dengan tema yang kadang informatif dan kadang tidak penting sama sekali. Hebatnya, walau informasinya tidak penting, tulisannya tetap lucu dan menghibur, padahal kadang Mbot sama sekali tidak bermaksud bercanda. Kalau tulisan dalam blog-nya dibukukan, sudah barang tentu ini menjadi buku yang wajib untuk dimiliki dan dibaca...”
Menhariq Noor, PNS pemerhati gadget
menhariq.multiply.com

“Kreatif, itu kalo baca tulisan mbot, nyentil tapi memang realitanya seperti itu.
“Ketawa sambil senyum miris kalo baca sambil merenung.
“Karena siapa tahu kita juga pernah mengalami hal-hal seperti itu tapi luput.
“Dan kalau udah ketemu langsung ama orangnya, ga beda jauh dengan tulisannya :D”
Wahyu Wibowo, “The Black Angel”
wib711.multiply.com

“Sebetulnya saya lebih suka menyarankan jangan pernah baca tulisan Mbot. Cukup saya saja yang ketagihan membaca tulisan-tulisan 'aya-aya wae' kalau kata orang Sunda. Tulisan Mbot yang informatif tapi ditulis dengan bahasa yang bisa bikin ketawa geli & hari paling mendung jadi bermatahari lagi, lebih parah dari zat adiktif paling yahud. Ketagihan seperti itu sungguh menyiksa. Sampai sekarang saya masih heran, kenapaaaaa dulu baca jurnalnya.”
DBaonk, mantan blogger kambuhan
http://dbaonk.multiply.com (RIP)

Membaca blog Agung membuat saya seperti mengalami ceritanya sendiri. Gaya penuturannya yang luwes dan jenaka membangkitkan gairah saya untuk ikut-ikutan ngeblog. Sayang konsistensinya tidak serta merta ikut menular.
Avianto ‘the magic finger’ Sagoro, penggemar klakson ‘not-not’
safetyrider.multiply.com

“MBOT? Bentar, mengingatkan sesuatu kalo denger kata Mbot... Ah ya, SEPEDA ANJRIT. Meskipun si lulusan psikologi ini ternyata yang bikin istilah PENGOKOT menyebar di seantero milis, tapi buat gue pribadi, MBOT identik dengan istilah SEPEDA ANJRIT. “Gaya bercerita yang unik, mudah dipahami, dan dibumbui humor membuat tulisan-tulisan dari seorang mbot ini enak dibaca dan pasti membuat senyum-senyum sampai tertawa-tawa.”
Alan Ridlon, aktivis B2W, suaminya Shanti
rauffy.multiply.com

“Blogger yang isi blog-nya lucu-lucu siy banyak ya, blogger yang isi blognya serius dan bermutu juga banyak. Tapi kalau blogger yg bisa menggabungkan cerita serius dan bermutu kemudian menampilkannya dengan gaya penulisan yang lucu, jelas hanya ada segelintir saja. Salah satunya sudah pasti Agung-Mbot, yang tulisan-tulisannya membius saya sejak akhir 2004, dan seringkali membuat saya cekikikan di kubikel pojok kantor di pagi buta ketika belum banyak teman yang datang. Renyah, krispy, sekaligus bergizi. Kalau boleh mengaku, hal pertama yang saya lakukan ketika membuka komputer adalah connect inet dan mengecek message board, sekedar mencari tahu adakah postingan terbaru dari Agung-Mbot. Sampai sebegitunya...”
Shanti Saptaning, aktivis B2W, istrinya Alan
myshant.multiply.com

“Tulisan Agung memiliki gaya bahasa yang unik dan selalu dapat menemukan humor dalam setiap kejadian sehari-hari, tanpa ada kesan dipaksakan.
Watty Soewono, kakak
myumyu.multiply.com

“Ketidaknormalan yang begitu normal, itu yang gue temui di hampir setiap tulisan Agung di mbot.multiply.com. Baik dalam blognya yang selalu diwarnai sama hal-hal yang bikin gue manggil-manggil suami buat ikutan baca dan ngakak berdua. Tapi yang paling favorit gue adalah tulisannya tentang interaksi sehari-hari Agung dan Ida sang istri yang ratu risol kribo (dan Rafi tentunya, bahkan jauh sebelum Rafi lahir). Gak normal abisss!!! (In a good way tentunya.) Ada kekonyolan, kejujuran dan faktor surprise dalam setiap tulisannya yang sebenernya selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari, tapi Agung berhasil nuanginnya dalam tulisan yang kalau kita udah baca, we will never be that same 'normal' person anymore. :-)”
Drg. Nila Alya Yusuf, pemilik klinik gigi‘The Smile Centre’
nilaalya.multiply.com

“Tulisan Agung selama ini meskipun ga semua saya baca, tapi hampir semua yang saya baca itu membuat saya ketawa, mikir dan ikutan mencela. Celaan-celaannya cukup orisinil dan sepikiran sama saya, hanya saya kurang berani buat mencetuskannya. Tulisan-tulisannya adalah pengalamannya sehari hari, yang sadar ga sadar juga terjadi pada kita. “Gaya penuturan Agung dalam bentuk tulisan adalah juga gaya penuturannya sehari-hari, sehingga dengan membacanya seolah saya mendengar dia berbicara dan ngobrol dengan dia.“Satu lagi, tak kenal makanya tak sayang, kalo yang ga kenal Agung, dan baca tulisan celaan dia, asli pasti sakit hati, seperti beberapa teman saya dulu yang kesal berat dengan Pak Agung ini.
“Jadi intinya apa komentar saya ini terhadap tulisan Agung? BERANI, hehehe...”
Puji Hastuti, karyawati swasta
pujay.multiply.com

“Efek nyata setelah membaca tulisan Mas Agung adalah selalu membuat para pembacanya merasa sedikit lebih pintar daripada sebelumnya... karena pasti ada aja suatu hal yang menambah pengetahuan (baik yang termasuk dalam kategori penting maupun kurang penting) yang disajikan dalam kata-kata yang membantu senam muka karena membuat orang banyak tertawa ^_^ mulai dari kejadian sehari-hari dalam keluarga sampai segala hal yang menyangkut tips & trik psikologi serta dunia kerja. Dijamin sekali baca pasti nggak bakal bisa berhenti sebelum selesai... apalagi kalau dalam bentuk buku... Definitely unputdownable!! ^_^”
Chika Hakim, calon notaris merangkap gymfreak
putrihakim.multiply.com

 

Review tentang "Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran":

  1. Di blognya Denny Baonk
  2. Di MP-nya Eriq
  3. Di MP-nya Alya
  4. Di blognya Mamih Ria
  5. Di MP-nya Dinar Ardanti
  6. Di MP-nya Fadli Cahyono
  7. Di MP-nya Tria "Idunk" Yusa
  8. Di MP-nya Fitria Moorcy
  9. Di MP-nya Vera NS
  10. Di MP-nya Pujay
  11. Di MP-nya Wib
  12. Di MP-nya Djoko Cimahi
  13. Di MP-nya Ailsa
  14. Di MP-nya Chika
  15. Di MP-nya Bondan
  16. Di MP-nya Nadnuts
  17. Di MP-nya Bunda Karina
  18. Di MP-nya Lina
  19. Di MP-nya Inna
  20. Di MP-nya Sinar Bulan
  21. Di MP-nya Iwok
  22. Di MP-nya Weny
  23. Di MP-nya Dhian
  24. Di MP-nya Riki Gede
  25. Di blogspot-nya Najlazea
  26. Di MP-nya Shanti
  27. Di MP-nya Agus Didin
  28. Di MP-nya Anto "Not-Not"
  29. Di MP-nya Amoeba Asterix
  30. Di harian Media Indonesia
  31. Di website Gatra.com
  32. Di MP-nya Dr. Vina
  33. Di MP-nya Ifa
  34. Di MP-nya Inna
  35. Di MP-nya Ristya
  36. Di MP-nya Leila
  37. Di MP-nya Sarah
  38. Di MP-nya Irma
  39. Di MP-nya Ira
  40. Di MP-nya Melly
  41. Di MP-nya Windie
  42. Di MP-nya Anna Cindil
  43. Di MP-nya Mutz
  44. Di Friendster-nya Dini
  45. Di wordpress-nya Desti
  46. Di MP-nya Sita
  47. Di MP-nya Arfa
  48. Di MP-nya Rinda
  49. Di blogspot-nya Wardha
  50. Di MP-nya Gunawan
  51. Di MP-nya Dita
  52. Di wordpress-nya Mina
  53. Di MP-nya Dian
  54. Di MP-nya Vitanew

Terima kasih juga buat promonya...

"Ocehan si Mbot: Gilanya Orang Kantoran" bisa dibeli secara online di:

Link lainnya:

berita paling penting di kompas.com

Kalo lagi ada kasus heboh nasional, terkadang ulah media jauh lebih menarik ketimbang kasusnya sendiri. Yang paling gres tentunya kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang melibatkan Ketua KPK nonaktif Antasari Azhar dan seorang caddy Rani Juliani. Kompas.com sampe merasa perlu membuat sebuah serial khusus dengan tombol berjudul serem: Pembunuhan Nasrudin - Bukan Cuma Skandal Cinta?

Berhubung udah punya serial khusus, nggak mungkin dong dibiarin kosong begitu aja. Ada maupun nggak ada berita, harus ada update baru. Maka muncullah berita yang judulnya "Tato Kupu di Pinggang Rani Juliani".

Berita sepanjang nyaris 400 kata ini* membahas secara sangat detil dan spekulatif keberadaan tato gambar kupu-kupu di pinggang Rani Juliani. Dimulai dengan pemaparan fakta bahwa kalo Rani make kaos pendek, maka akan tersembul tato gambar kupu-kupu di pinggangnya. Dilanjutkan dengan menyebutkan bahwa kupu-kupu juga lambang grup musik Slank, yang baru-baru ini menyatakan dukungannya kepada KPK. Jaka Sembung bawa clurit, nggak nyambung, Njrit.

Makin ngelantur lagi saat artikel membahas kesaksian seorang tetangga Rani Juliani yang tidak ingin disebutkan namanya, bahwa setelah menikah Rani Juliani sering pake baju seksi. Ya, terus kenapa?

Abis itu balik lagi menghubungkan antara tato kupu-kupu dan lambang grup musik Slank: "Informasi yang beredar, tato kupu-kupu milik Rani merupakan suatu ekspresi kekagumannya terhadap Ketua KPK nonaktif Antasari Azhar. Mengapa kupu-kupu? Binatang itu identik dengan grup musik Slank yang menjadi ikon KPK. Dan pada saat itu KPK dipimpin Antasari, Slank sudah dua kali manggung di Gedung KPK."

Kenapa Sindentosca nggak ikut dihubungkan? Padahal kan dia nyanyi lagu yang menyebutkan ulat berubah jadi kupu-kupu? Jangan-jangan lagu itu melambangkan perubahan Rani Juliani yang tadinya caddy menjadi seleb blog. Atau barangkali perlu ditelusuri ke para guru SD Rani Juliani, untuk mengecek apakah dulu waktu kecil dia suka nyanyi "Pok Ame Ame Belalang Kupu-Kupu".

Berita ngelantur ini ditutup dengan pernyataan kakak Rani Juliani yang menyatakan akan bikin konferensi pers pada hari Minggu. Sayang, cuma sampe di situ beritanya. Mereka kurang tertarik untuk menggali mengapa kakak Rani memilih hari Minggu untuk bikin konferensi pers. Apakah dulunya dia suka nyanyi "Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota..."?

Yang lebih lucu dari beritanya adalah komentar salah satu pengunjung, yang mungkin juga sama senewennya dengan gue membaca berita maksa ini, sehingga menuliskan sebuah komentar sinis yang bikin gue ngakak:



Terima kasih Kompas.com, kalian telah mencerahkan hari ini :-)

*tenang, gue pake MS Word kok buat ngitung, bukannya kerajinan.