Pages

Monday, May 11, 2009

nulis sambil ngantor? bisa!

Hari ini pertanyaan berikut masuk di shoutbox gue:

"numpang ngomong ya mbot, cr ngebagi waktu loh antara kerja dan ngeblog gimana si.." Berhubung jawabannya panjang, gue tulis di posting aja deh. Kali-kali bermanfaat buat lainnya.

Kalo boleh milih, tentunya gue lebih seneng nulis sambil santai, make celana pendek dan kaos robek, sambil denger musik, ngemil kacang dan minum es teh, sesekali ngecek FB dan main game, diseling nonton tv bentar, ngerokok sebatang dua batang, ngetik lagi, dst dst. Tapi makin lama kesempatan seperti itu makin jadi barang mewah, jadi ya... guenya yang harus mengerahkan upaya ekstra untuk tetep bisa nulis, baik untuk blog maupun buku ke dua.

Prinsip 1: tulisan nggak akan mungkin sempurna sebelum ADA Dulu waktu gue masih punya banyak waktu, untuk bikin sebuah posting gue membutuhkan waktu bisa sampe berhari-hari. Buat yang udah baca buku "Ocehan si Mbot", tulisan gue tentang Tujubelasan (hal 55 -85) itu gue tulis selama 3 hari non-stop. Diketik dulu di MS Word, pindahin ke Frontpage, dikasih warna-warna background, rapihin dulu kode-kode HTML-nya... wah, pokoknya ribet. Rentang waktu kejadian yang diceritain juga panjang dan detil banget. Tujuannya untuk bikin tulisan yang menurut gue 'sempurna'.

Kalo sekarang gue melakukan hal yang sama, bisa-bisa blog ini baru gue update 3 bulan sekali. Sekarang, gue memilih tema-tema tulisan yang bisa ditulis segera. Toh kalo ada kesalahan atau ketidaksempurnaan, bisa dipoles belakangan. Tema-tema yang kira-kira akan butuh penulisan yang ribet, gue simpen dulu sebagai draft untuk ditulis kapan-kapan kalo ada waktu luang.

Prinsip 2: keyboard sebagai proses akhir Artinya, proses penulisan gue lakukan secara abstrak di dalam kepala sebelum gue berkesempatan ketemu keyboard untuk nulis. Kalo prosesor komputer yang buatan manusia aja bisa melakukan multi-tasking alias mengerjakan beberapa kegiatan pada saat yang bersamaan, gue yakin otak buatan Tuhan mampu melakukannya dengan lebih baik lagi. Saat dapet ide, gue biarkan ide itu berkembang di dalam otak seperti adonan roti. Sesiangan proses itu berjalan, sementara gue ngerjain tugas-tugas kantor. Apalagi dalam sehari pasti ada aja saat di mana gue cuma bisa bengong tanpa ngerjain apapun, seperti misalnya ngantri pesen makan siang atau duduk di boncengan ojek. Saat-saat seperti itu gue manfaatkan untuk mengembangkan ide di kepala. Malam harinya, biasanya ide itu udah jadi, tinggal disalin dari dalam kepala ke keyboard.

Prinsip 3: umum ke khusus Kalo dulu gue menulis sesuatu secara lengkap dari awal sampe akhir, dengan dukungan referensi-referensi hasil browsing di google, sekarang gue memilih untuk memecah ide dalam bentuk yang lebih spesifik. Dengan demikian tulisannya bisa lebih pendek dan lebih gampang ditulis (dan lebih gampang dibaca juga, tentunya).

Prinsip 4: lebih baik sedikit daripada enggak sama sekali Karena nyari waktu yang khusus untuk duduk diem dan nulis sambil merenung-renung makin sedikit, ya gue manfaatin aja waktu yang ada - sesedikit apapun. Misalnya waktu makan siang. Sebagaimana orang kantoran lainnya, gue punya waktu makan siang 1 jam, dari jam 12.00 - 13.00. Lima belas menit pertama gue pake untuk makan siang, 10 menit untuk salat Zuhur, masih ada 35 menit untuk nulis. Dalam waktu 35 menit mungkin nggak banyak yang bisa ditulis, tapi kan lebih baik daripada enggak sama sekali.

Prinsip 5: ide sebagai 'password'

Kalo lagi kerja tiba-tiba dapet ide, gue tuliskan ide itu dalam satu - dua kalimat dan gue kirimkan via email ke alamat email pribadi gue. Suatu hari nanti kalo gue lagi butuh tambahan ide, gue tinggal buka email - email pendek itu. Seperti password, ide-ide pendek itu biasanya bisa membuka 'keran' ide dalam bentuk yang lebih kompleks.

Begitulah kurang lebih strategi yang gue jalankan untuk menyiasati waktu yang makin terbatas buat nulis. Buat himura 232, semoga menjawab ya!

Ada yang punya strategi lainnya? Silakan dibagi di sini.

gambar gue pinjem dari sini

No comments:

Post a Comment