Pages

Saturday, May 16, 2009

[review] bukan cinta biasa

"Nonton apa ya? 'Crank 2'? 'Bukan Cinta Biasa'?"
"'Bukan Cinta Biasa' aja pak, lucu deh!"
Rada surprised juga gue denger rekomendasi yang begitu bersemangat keluar dari mulut mbak-mbak penjual tiket di Pejaten Village XXI tadi malem. Kebetulan memang gue rada tertarik nonton film itu setelah nonton trailernya bbrp minggu yang lalu. Dan ternyata ini adalah keputusan yang tepat.

Ringkasan cerita:
Tommy (Ferdy Element) adalah seorang rocker jadul yang secara kurang sadar umur masih aja mempertahankan gaya hidup rockernya di saat eranya udah jauh lewat. Pada suatu hrai, Tommy kedatangan tamu seorang ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jansen) yang mengaku sebagai anaknya. Ternyata Nikita adalah anak Lintang (Wulan Guritno), seorang cewek yang pernah dipacari (dan dihamili) Tommy 16 tahun yang lalu. Wulan sekarang udah punya suami bule bernama Steven dan lagi siap-siap untuk balik ke Amerika dan menetap di sana. Sementara itu Nikita merasa tanggung ninggalin sekolahnya yang tinggal satu semester lagi sebelum kenaikan kelas. Akhirnya Nikita memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang 6 bulan itu dengan tinggal bareng ayah-ketemu-gede-nya.

Komentar gue:
Film ini membuktikan betapa unsur-unsur yang tepat, kalo diolah dalam wadah yang juga tepat, bisa menciptakan film bertema biasa jadi tontonan yang menghibur. Mulai dari pemilihan pemeran utamanya, Nikita, kok ya bisa pas banget nemu orang yang mirip banget sama Wulan Guritno, sehingga cocok megang peran sebagai anaknya. Ferdy juga pas memerankan karakter rocker tua yang masih merasa diri cool padahal perut udah bergelambir. Selain itu juga ada sederetan wajah-wajah terkenal muncul sebagai cameo, seperti Aa Jimmy (Aa Gym gadungan), Aom Kusman, Tike Extravaganza, dan Roy Tobing. Bahkan Julia Perez yang cuma muncul sekilas-sekilas juga pas banget memerankan pacar Tommy, dengan dandanan dan tingkah lakunya seolah berteriak keras, "L**TE!!!"

Setting kota Bandung yang dari dulu terkenal sebagai kota kelahiran banyak band rock legendaris juga pilihan yang tepat banget. Apalagi ketika peran-peran pendukung juga diserahkan kepada pemain-pemain yang besar di Bandung, antara lain Joe dan Daan P-Project, bikin celetukan-celetukan spontan ala Bandung terdengar lebih natural.

Satu 'penyakit' yang sering menyerang film-film komedi Indonesia adalah usaha yang terlalu 'ngotot' untuk menyuguhkan adegan lucu. Akibatnya yang nongol di layar adalah tindakan-tindakan memperbodoh diri sendiri atau adegan-adegan yang 'trying too hard' to be funny. Syukurlah, film ini (relatif) berhasil meloloskan diri dari jebakan serupa. Film ini bersandar sepenuhnya pada komedi situasi, perpaduan berbagai unsur situasi yang sebenernya nggak bermaksud melucu tapi tiba-tiba saling bertabrakan sehingga menimbulkan kejutan yang lucu.

Ambil contoh waktu Tommy pertama kali kenalan dengan Steven, suami Lintang. Sebagai mantan pacar yang masih 'memendam rasa', Tommy ngomongin Steven pake bahasa Sunda, dengan asumsi si bule itu nggak akan ngerti. Eh taunya Steven balik ngomelin Tommy pake bahasa Sunda pasaran dengan fasihnya, karena dia pernah tinggal lama di... Soreang! Sebagai ekspresi kekagetannya, Tommy lantas nyeletuk, "Elu sebenernya orang Amrik atau orang Tasik sih?"

Celetukan-celetukan yang serba tepat waktu bertebaran di film ini, dengan tema utama menertawakan ulah para rocker tua. Mereka yang selama ini menjaga image sebagai sosok yang gahar, keren, dan macho harus terjebak dalam situasi yang "nggak rocker banget" seperti dilarang ngerokok oleh seorang ABG berumur 16 tahun, digodain homo tua di bioskop, belajar ngaji sambil sarungan dan berpeci, atau harus dorong mobil tua mogok:

"Heh, dorongnya yang bener dong!"
"Eeee... saya ini bassist, bukan kenek!" sahut Joe.


Film ini juga dengan isengnya mencampuradukkan adegan - adegan penuh perasaan yang memancing keharuan penonton dengan celetukan asal jeplak, seperti,

"Saat ini, gue merasa menjadi manusia seutuhnya," kata Tommy.
"Lah, emangnya selama ini merasa diri apa, tomat?"


Walaupun secara umum film ini sangat sangat sangat menghibur dengan cara yang enggak murahan, tetep ada beberapa hal yang terasa agak mengganggu. Misalnya adegan dialog serius Nikita dan Tommy di parkiran, terasa mendadak teralu nyastra banget. Juga beberapa hal yang rasanya agak kurang kuat untuk mendukung logika alur cerita, seperti:
  • kenapa Lintang dengan rela hati mau menitipkan anak satu-satunya selama 6 bulan ke tangan bapak rocker yang nggak pernah ditemuinya selama 16 tahun?

  • keperluan apa yang membuat Lintang dan suaminya harus segera berangkat ke Amerika, sehingga nggak bisa nunggu 6 bulan biar Nikita bisa menyelesaikan sekolahnya?


Tapi yang paling mengganggu adalah pilihan endingnya. Saat film baru berjalan seperempat Ida tiba-tiba menyeploskan ramalannya tentang bagaimana film ini akan diakhiri, dan sepanjang film gue berharap semoga ramalannya meleset. Eh taunya bener. Sial, endingnya bikin gue dengan sangat terpaksa memotong satu bintang dari film ini.

Selain itu gue juga curiga ada sesuatu yang serius terjadi dengan Joe di tengah proses shooting, karena kurang lebih di 1/4 bagian menjelang akhir film tiba-tiba menghilang dan nggak muncul lagi di layar tanpa penjelasan yang kuat. Kira-kira kenapa dia, ya? Sakit? Atau nggak cocok dengan crew filmnya?

Sebagai tontonan, film ini berpotensi untuk memuaskan semua penonton. Buat para cewek, bisa menikmati dramanya yang mengharukan, sementara para cowok bisa menikmati komedinya plus bonus Olivia Lubis Jansen yang selalu nampak segar dan renyah seperti lalapan baru dipetik:



Sekilas tentang Olivia Lubis Jansen: ini adalah debutnya di dunia film. Dia ditemukan oleh Asisten Sutradara film ini lagi jalan-jalan di Paris Van Java, Bandung dan langsung lolos casting. Walaupun baru pertama kali main film, tapi aktingnya nggak mengecewakan - bahkan sampe dapet pujian dari Menpora Adhyaksa Dault. Lahir di Denmark tanggal 11 April 1993, dan sekarang duduk di kelas 2 Bandung International School. Sekedar informasi, pada tahun 1993 di mana bocah ini baru dilahirkan ke dunia, gue udah kuliah semester 4. Fakta ini sedikit banyak membuat gue merasa tua bangka. Saat ini konon lagi terlibat 'cinlok dengan Afgan yang menyanyikan OST film ini. Ketika dikonfirmasi, tanggapan Afgan adalah: “Ya kita lihat sajalah ke depannya nanti. Nggak ada yang nggak mungkin.” Afgan, mari sini oom toyor sedikit, boleh? Sukses buat dek Olivia, pesan oom berhati-hatilah menjaga kartu keluarga dan akte kelahiran sebab kalo sampe hilang ngurusnya jauh.



Selamat juga buat Benni Setyawan, sang sutradara merangkap penulis cerita. Semoga masa depannya cerah dan produktif memproduksi film-film sekualitas ini lagi. Satu pesan gue; tolong di film berikutnya cari designer poster yang baru ya! Poster film ini bener-bener nggak sebanding dengan kualitas filmnya.

Sumber foto: situs resmi bukan cinta biasa

No comments:

Post a Comment