Pages

Saturday, May 16, 2009

[review] jamila dan sang presiden

Buat kalian yang biasanya make review gue sebagai pertimbangan milih film, tolong lebih berhati-hati menyikapi review gue yang satu ini. Gue sendiri bahkan nggak tau kenapa gue kasih bintang 4 untuk film ini.

Temponya lumayan lambat, temanya berat, dialog-dialognya terkadang terlalu 'nyastra' banget, endingnya bisa gue tebak saat film baru jalan seperempatnya... pokoknya bukan jenis film yang biasanya akan gue nikmati dan puji-puji. Tapi kenyataannya gue sama sekali nggak ketiduran - dan itu sebuah parameter yang sangat signifikan untuk menentukan kualitas sebuah film (menurut ukuran gue, tentunya).

Film ini bercerita tentang kehidupan Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang PSK yang ujug-ujug menyerahkan diri ke polisi dengan mengakui telah membunuh seorang menteri bernama Nurdin. Dia ditahan di penjara yang dipimpin oleh seorang kepala sipir bernama Ria (Christine Hakim). Sementara itu, kasus pembunuhan Nurdin berkembang jadi kasus yang sangat dipolitisir dan muncullah seorang pimpinan 'organisasi massa berbasis agama tertentu' (Fauzi Baadilah) yang bolak-balik menggelar demo menuntut Jamila dihukum mati. Lewat adegan-adegan flashback, pelan-pelan penonton dikasih liat siapa sebenarnya Jamila, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik pembunuhan Nurdin.

Ini adalah debut Ratna Sarumpaet menyutradarai sebuah film layar lebar, dan kalo gue mau sok pake istilah ala resensi film kelas majalah, 'dia menuliskan tanda tangannya dengan tinta tebal dalam film ini'. Temanya dia banget, tentang perdagangan dan pelacuran anak di bawah umur, dan dia bolak-balik menyodorkan potret-potret suram tentang masalah ini. Bukan cuma itu, lewat berbagai simbol dia menantang persepsi penonton tentang realita sosial di Indonesia, dan mempertanyakan penilaian-penilaian mereka sendiri. Lewat tokoh Ria yang dibawakan secara jaminan mutu oleh Christine Hakim, dia menyuarakan pemikiran gue yang sebel liat tingkah Jamila:
"Apakah karena hidup kamu menderita, lantas kamu boleh membunuh orang?"
atau
"Membunuh orang kamu tega, tapi cuma mimpi buruk saja bikin kamu berteriak-teriak seperti orang gila!"

Siapa sih Jamila? Dia ditampilkan di depan penonton sebagai sebuah sosok yang nggak mengundang simpati. PSK papan atas yang doyan dugem dan akhirnya membunuh orang. Buat apa sih penonton bersimpati kepadanya?

Di akhir film, mungkin sebagian penonton akan menyesali penilaian mereka yang terlalu dini. Saat itu, 'gimana endingnya' udah bukan lagi hal yang penting untuk dipertanyakan.

Sebagai film, 'Jamila dan Sang Presiden' bukanlah tontonan yang nyaman. Tapi kalau potret-potret suram yang ditampilkannya memang betulan mewakili realita, apakah berarti filmnya yang gagal jadi tontonan? Atau jangan-jangan kitanya yang telah gagal jadi masyarakat beradab?

No comments:

Post a Comment