Pages

Saturday, May 16, 2009

[review] knowing

Info pertama yang gue terima tentang film ini adalah lewat e-mail forward-an yang berisi daftar film2 yang akan beredar di tahun 2009. Gue tertarik karena ceritanya yang lumayan unik: seorang anak menguburkan selembar kertas berisi deretan angka ke dalam kapsul waktu. Saat kapsul waktunya dibuka 50 tahun kemudian, lembaran kertas itu jatuh ke tangan seorang profesor yang akhirnya menemukan bahwa deretan-deretan angka itu sebenarnya tanggal, koordinat lokasi, dan jumlah korban dalam bencana-bencana besar yang terjadi di seluruh dunia.

Nicolas Cage berperan sebagai Jonathan Koestler, seorang dosen astrofisika di MIT. Dia hidup berdua dengan Caleb, putra tunggalnya. Caleb lah yang pertama kali menerima lembaran kertas aneh itu dari sebuah acara peringatan di sekolahnya. Saat menyadari makna angka-angka yang tertulis, Jonathan berusaha menyelidiki siapa penulisnya, dan mencegah agar ramalan 3 bencana yang tersisa itu jangan sampe terjadi.

Selintas dari segi tema cerita, film ini mirip dengan 'Final Destination': yaitu tentang sekelompok orang yang berusaha mencegah sebuah bencana sebelum terjadi. Tapi dari segi penceritaan, film ini terasa jauh lebih 'serius' ketimbang FD. 'Serius' dalam arti berusaha memberikan latar belakang yang cukup tentang apa, siapa, dan mengapa di balik rangkaian ramalan bencana; tanpa menjadikan film ini berat dan membosankan. Alur ceritanya tersusun secara sangat rapi dan penuh perhitungan, membuat gue terus penasaran bertanya-tanya tentang apa sebenarnya maksud lembaran kertas ini. Pak sutradara juga nggak lupa menyelipkan beberapa adegan ngagetin dengan latar belakang musik yang tegang banget, plus adegan-adegan kecelakaan yang ngeri-ngeri. Apalagi saat memasuki pertengahan film, mulai muncul beberapa sosok misterius berbaju serba hitam yang terus-menerus mendatangi Caleb. Siap-siap deg-degan deh!

Soal pemain, Nicolas Cage mendapat peran langganannya sebagai orang biasa-biasa aja yang terpaksa jadi 'superhero' karena desakan situasi dan kondisi (coba tonton 'Con Air', 'The Rock', juga 'WTC'). Nggak heran kalo permainannya meyakinkan banget. Tapi jangan kuatir, walaupun film didominasi wajah ngantuk Cage dan sosok si bocah Caleb, tetap ada sedikit 'pemanis' bagi para penonton pria yaitu Rose Byrne yang berperan sebagai Diana, putri Lucida Embry sang penulis kertas misterius. Dalam sebuah adegan yang sangat tidak penting, Rose Byrne tampil sekilas dalam lingerie hitam saat mau ngelonin anak. Sungguh sebuah adegan yang sangat kentara maksud dan tujuannya.

Sampe kurang lebih 2/3 film, gue sangat terkagum-kagum dengan film ini; baik dari ide ceritanya yang nggak biasa dan penggarapannya yang nggak membosankan. Tapi waktu pelan-pelan rahasia di balik rangkaian angka terjawab, jawabannya sungguh bikin sebel. Apalagi waktu penjelasan tentang identitas sosok-sosok berbaju gelap ternyata persis sama dengan perkiraan gue. Seolah-olah para pembuat film ini lagi asik kerja serius sampe filmnya 66% jadi, tau-tau produsernya bilang "eh buruan kelarin tuh film, udah mau jadwal tayang nih!" sehingga sepertiga bagian akhir menjadi sedemikian klisenya.

Bagaimanapun, walaupun rada kecewa dengan bagian akhirnya, secara umum gue bilang film ini bagus dan layak dapet 4 bintang.

No comments:

Post a Comment