Pages

Sunday, May 10, 2009

[review] watchmen

"Jadi, siapa penjahatnya?" adalah pertanyaan yang selama ini nggak pernah perlu muncul setelah nonton film superhero. Sekalipun film 'Dark Knight' yang disebut-sebut orang sebagai penggambaran aspek psikologis yang paling nyata dari sebuah karakter komik pun masih menarik garis yang jelas: jagoannya Batman, penjahatnya Joker. Tapi, 'Wathcmen' berhasil bikin pertanyaan sederhana ini jadi rumit.

Bahkan ringkasan ceritanya juga sulit gue tuliskan tanpa membongkar kejutan-kejutan yang dengan rapih disusun rata di sepanjang film. Intinya, film ini bercerita tentang kehidupan sekelompok 'superhero' yang menyebut diri 'Watchmen', dari kurun waktu alternatif. Di dunia mereka, Richard Nixon masih jadi presiden Amerika di tahun 1985, dan menang perang di Vietnam. Cerita dibuka dengan kematian 'The Commedian', salah satu anggota Watchmen, dan penonton diajak mengikuti penyelidikan Rorchach, juga anggota Watchmen, yang penasaran ingin menangkap siapa pembunuh rekannya itu. Sayangnya teman-teman Rorschach nggak nampak antusias menyambut ajakan tersebut, dan memilih meneruskan kehidupan mereka sebagai orang biasa. Maklum, saat itu Watchmen udah dinyatakan bubar, dan masing-masing anggotanya punya kegiatan sendiri-sendiri.

Jadi, siapa penjahatnya?
Bahkan siapa jagoannya pun nggak gampang dijawab.

Kalo definisi superhero yang ada selama ini adalah tokoh berkekuatan super yang merahasiakan identitasnya, selalu siap membasmi kejahatan dan membela yang lemah, maka Rorschach adalah pilihan yang paling mendekati. Tapi di film ini karakter Rorschach malah tampil sebagai si ajaib yang nggak dimengerti orang lain, termasuk teman-temannya sesama anggota Watchmen yang mencap dia sebagai sociopath. Apakah lantas pahlawannya adalah Dr. Manhattan, yang kekuatannya tak terbatas, bisa melakukan apapun yang dia mau termasuk mengubah benda apapun menjadi apapun, berteleportasi hingga ke planet lain? Dia bahkan nggak cukup peduli untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dari todongan senjata. Apakah berarti jagoannya adalah The Commedian, yang sedemikian patriotiknya sehingga upacara pemakamannya dilaksanakan secara militer? Dia nggak lebih dari bapak tua cabul yang nggak bisa berhenti mabuk, sekalipun lagi menghadiri rapat bersama Watchmen.

Film ini bener-bener menjungkirbalikkan citra tentang superhero yang ada di benak orang selama ini. Mungkin kalo Jerry Siegel dan Joe Shuster, para pencipta tokoh Superman yang baik hati, hidup lurus dan pantas diteladani itu dibangkitkan dari kubur dan diajak nonton Watchmen, mereka bisa mati lagi karena jantungan ngeliat ada superhero menembak rakyat sipil dari belakang sambil ketawa-ketawa. Beberapa anak kecil terdengar menjerit ketakutan saat di salah satu adegan 2 anggota Watchmen mematahkan tangan perampok dan kamera dengan isengnya mengambil close-up tulang-tulang yang mencuat menembus daging. Mungkin karena di poster ada tokoh-tokoh berkostum, orangtuanya mengira ini film anak-anak. Nggak kebayang gimana sibuknya mereka menutup mata anak-anaknya saat di layar muncul adegan perkosaan, atau tokoh Dr. Manhattan yang dengan santainya mondar-mandir ke sana ke mari sambil bugil dan membiarkan salah satu anggota tubuhnya gondal-gandul kayak timun matang pohon.

"Who watches the Watchmen?" seru masyarakat yang ketakutan lewat sebuah grafiti di tembok. Sebuah ketakutan yang sangat beralasan pada sekumpulan manusia menyedihkan, yang merasa diri superhero hanya karena mereka bertopeng.

Di akhir film, 'siapa penjahatnya' nggak lagi penting untuk dijawab, karena benak penonton dipenuhi oleh sejumlah pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab.

No comments:

Post a Comment