Pages

Thursday, June 11, 2009

[being nice for dummies] #0014: mencari kesempatan berbagi

Temen gue yang bernama Gandhi* sejak dulu kala punya kebiasaan unik yang dijalankannya nyaris tanpa absen setiap hari, yaitu bagi-bagi cemilan. Di mejanya hampir selalu tersedia aneka cemilan, mulai dari kacang, crackers, emping, krupuk, dllsb. Sebagian kecil dia makan sendiri, sebagian besar buat dikasih-kasihin ke setiap orang yang mampir di mejanya. Dia terkenal banget dengan kebiasaannya ini, sehingga tiap hari ada aja orang mampir ke mejanya dengan alasan ingin ngobrol namun dengan tampang ingin ngemil. Kalo gue itung-itung, sebenernya lumayan gede juga lho, budget yang harus dikeluarkan Gandhi untuk aksi penyediaan cemilan gratis ini. Gue perhatiin rata-rata dia menyediakan cemilan bernilai sekitar 15 ribu sampe 20 ribu per hari, dikali 20 hari kerja artinya dia bisa mengeluarkan dana sampe 400 ribu per bulan - cuma buat meladeni nafsu ngemil temen-temennya yang nggak tau diri ini.

Perubahan terjadi sekitar 2 bulan yang lalu ketika Gandhi tiba-tiba kena vonis harus diet oleh dokter, karena kadar kolesterol darahnya mengkhawatirkan. Apakah lantas Gandhi berhenti menyediakan cemilan? Ternyata enggak, cuma bentuk cemilannya aja yang berubah. Kalo dulu berkisar pada makanan-makanan kering, sekarang beralih ke buah-buahan. Apel, jeruk, pisang, pir, bergelimpangan di mejanya. Tetep dia sediakan dalam jumlah banyak supaya bisa menjamu para tamu yang mampir, padahal jelas-jelas buah-buahan itu harganya jauh lebih mahal daripada sebungkus kacang atau emping. Gue perkirakan budget jamuan cemilan Gandhi sekarang bisa mencapai 40 ribuan per hari, dikali 20 hari kerja = 800 ribu per bulan!

Pagi tadi, dua orang temen gue muncul di deket meja Gandhi sambil cengar-cengir khas muka-muka orang nyari cemilan.
"Assalamualaikum.... Kang Gandhi punya cemilan apa hari ini...? Kebetulan... kami belum sarapan nih... hehehe..."
"Waduh, maap... maap... tadi belum sempet beli, nggak punya apa-apa nih," jawab Gandhi dengan tampang menyesal. "Maap sekali ya...!"
"Oh... ya udah deh nggak papa."
Kedua orang bermental parasit itupun ngeloyor pergi, balik ke mejanya masing-masing.

Gue yang lagi konsen ngetik tadinya nggak terlalu memperhatikan kejadian itu, sampe waktu Gandhi colek-colek, "Gung, kalo mau pesen risol kribo dadakan gini, bisa nggak ya?"
"Oooh kayaknya sih bisa, sekarang hampir tiap hari kita ada stok kok. Bentar ya, saya teleponin ke rumah," kata gue sambil angkat telepon. Tapi mendadak gue inget sesuatu. "Eh, kok mau pesen risol kribo sih? Udah bosen diet ya? Gimana sih, udah bagus kemarin-kemarin disiplin makan buah, kolesterol turun, sekarang udah mau kumat lagi ngemil gorengan!"
"Bukan... buat itu tuh, anak-anak, kasihan pada lapar belum sarapan..."
"HALAH! Anak-anak itu pake dipikirin! Nggak usah! Kebiasaan tuh Gan, asal mau ngemil maunya tinggal minta ke Gandhi... padahal kan mereka juga punya duit, bisa beli sendiri! Ngapain sih repot-repot?"
"Bukan gitu gung, ini kan kesempatan untuk bersedekah. Mumpung ada orang yang jelas-jelas lapar, minta makanan ke kita, kalo kita bisa ngasih makanan, pahalanya gede Gung... biarpun dia punya duit bisa beli sendiri..."



Kalo denger kata 'kesempatan', apa yang terlintas di benak kita? Biasanya sih segala sesuatu yang berkaitan dengan 'menerima':
"Kesempatan memenangkan hadiah...." "Kesempatan promosi..." "Kesempatan dapat beasiswa..."
Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa kesempatan untuk memberi dan berbagi, juga perlu untuk dicari dan diusahakan?

*pernah muncul sebagai bintang tamu di posting yang ini
foto: Gandhi, di meja kerjanya yang lama, tahun 2007.

No comments:

Post a Comment