Pages

Sunday, July 05, 2009

[review] transformers: revenge of the fallen


Tanpa gue sadari, ternyata selama ini gue ngefans sama Michael Bay. Baru beberapa hari yang lalu gue tau bahwa dialah sutradara dari sejumlah film yang menurut gue bagus. Transformers, Bad Boys I & II, The Rock, Pearl Harbour, Armageddon, bahkan The Island yang jeblok di box-office pun menurut gue keren, dan semuanya disutradarai oleh Bay. Dan tahun ini, muncullah karya Bay yang terbaru: Transformers: Revenge of the Fallen (selanjutnya gue singkat TROTF).

Satu hal yang gue suka dari film-filmnya Bay adalah; selain adegan-adegan actionnya gila-gilaan, nggak sayang buang-buang duit untuk bikin adegan yang seru, juga punya cerita yang lumayan berbobot. Minimal nggak asal tembak, tonjok dan meledak; ada sisi-sisi kemanusiaan yang ikutan terangkat ke layar. Makanya waktu denger dia lagi ngegarap sekuel Transformers, ekspektasi gue lumayan tinggi. Toh udah terbukti Bad Boys II nggak kalah seru dibanding Bad Boys pertama.

Eh ternyata, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan.

Resiko yang harus ditanggung sebuah film sekuel adalah mau nggak mau penonton akan membandingkannya dengan film pertamanya. Masalahnya, film Transformers pertama itu bagus. Ada sejumlah plot paralel yang menceritakan tokoh Mayor Lennox yang kebingungan menghadapi serbuan robot asing di Qatar, dan Sam yang kebingungan ngeliat mobil barunya bisa ngabur sendiri dari garasi. Belum lagi ada unsur salah paham dari pihak pemerintah yang sempat menyandera Bumblebee, sementara para Decepticons yang seharusnya ditangkep malah bebas berkeliaran merencanakan serbuan pembebasan sang Megatron. Penonton dibikin gregetan dan harap-harap cemas. Sedangkan di TROTF, Autobots dan pemerintah udah berteman baik. Bumblebee udah jadi piaraan Sam. Mayor Lennox udah naik pangkat dan hidup makmur (kayaknya, soalnya dia jadi rada gendutan). Belum-belum film ini udah kehilangan sejumlah elemen penting yang sempet menyumbang ketegangan di film pertamanya. Dan untuk mengkompensasinya, Michael Bay melakukan kesalahan yang sama dengan banyak sutradara film sekuel lainnya: menambah karakter.

Coba inget dari serial Lethal Weapon, Batman pasca Tim Burton - pra Batman Begins, X-Men, dan Spiderman: bertambahnya angka di judul film diiringi oleh bertambahnya jumlah tokoh, dan berkurangnya kekuatan cerita. Secara statistik bego-begoan aja, kalo sebuah film dengan durasi 120 menit bercerita tentang 2 orang tokoh, maka rata-rata setiap tokoh kebagian jatah waktu 60 menit. Kalo film tersebut dibuat sekuelnya, dan ditambahi 3 tokoh baru sementara durasinya tetap 120 menit, udah jelas jatah waktu untuk menceritakan tokoh-tokohnya akan berkurang drastis. Akibatnya, para tokoh jadi terkesan numpang lewat, dan cerita filmnya jadi terkesan kurang solid.

Plot utama TROTF sangat terasa diada-adainnya: sejak petualangannya di film Transformers pertama, rupanya Sam kemasukan sejumlah informasi dari Allspark (kubus ajaib yang jadi rebutan antara kubu Autobots dan Decepticons). Akibatnya, di kepala Sam tersimpan informasi tentang The Matrix, yaitu... benda ajaib lainnya yang akan jadi rebutan antara Autobots dan Decepticons! Sementara plot pendukungnya yaitu tentang pengalaman Sam masuk kuliah terasa kurang kuat, dan cuma buat alasan untuk menampilkan adegan-adegan konyol dari kedua orangtuanya (nangis secara berlebihan, dan mabok brownies ganja di kampus).

Sedangkan robot-robot barunya, yah secara special effect pastinya nggak perlu dikomentarin lagi. Udah pasti canggih dan mulus, walaupun di beberapa adegan pengambilan super close-up malah bikin penonton kesulitan nangkep adegannya. Tapi yang paling mengganggu adalah karakterisasinya itu lho, maksa banget. Bumblebee yang di akhir film Transformers 1 diceritain udah bisa memulihkan suaranya sehingga nggak perlu ngomong lewat siaran radio lagi, di TROTF tiba-tiba kembali gagu. Trus tiba-tiba ada salah satu anggota Decepticons yang bisa nyamar jadi manusia. Padahal sejak film Transformers 1 digambarkann bahwa para robot itu cuma bisa meniru manusia dalam bentuk hologram yang duduk di belakang setir untuk menyamarkan fakta bahwa mereka bisa keluyuran sendiri tanpa supir. Itupun hologramnya nggak sempurna, kadang masih kedip-kedip gitu. Kalo memang mereka bisa menyamar jadi manusia, ngapain capek-capek nyamar jadi mesin giling yang gampang ketahuan? Belum lagi kemunculan 2 robot kembar, Mudflaps dan Skid yang bertingkah kenegro-negroan dan cekcok melulu biar nampak agak lucu, tapi malah jadi norak. Mereka mengingatkan gue pada tokoh konyol Jar-Jar Blinks di film Star Wars episode I, yang abis-abisan dicaci-maki para fans setia Star Wars dan secara mengenaskan langsung nggak pernah nongol lagi di episode II dan III. Asal tau aja, George Lucas, sutradara Star Wars, adalah teman sekaligus mentor panutan Michael Bay. Makanya gue bilang, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan. Untuk urusan ide-ide memunculkan tokoh lucu, kayaknya George Lucas bukanlah mentor yang baik.

Abis itu Megan Fox, yang pamornya melejit di Transformers pertama sebagai cewek super hot, di sini tampil mati-matian untuk menjadi lebih hot. Dulu, posenya yang lagi nungging di depan kap mesin Bumblebee jadi salah satu adegan yang paling dikenang orang dari film Transformers. Di TROTF, Bay berusaha mengulang hal yang sama dengan membuat Megan Fox kembali nungging, kali ini di atas motor. Gue nggak akan heran kalo di film Transformers 3 diceritakan pembatunya Megan Fox lagi mudik sehingga dia terpaksa kembali nungging untuk ngepel rumah. Tapi yang jelas, salah seorang temen gue berkomentar sebagai berikut: "Adegan paling keren dari TROTF adalah waktu Megan Fox lari slow motion, cuma pake tanktop, dan dadanya gondal-gandul seperti mau melarikan diri keluar." Andaikan Bay denger komentar ini, mungkin dia akan jedot-jedotin kepala ke aspal setelah menghabiskan budget 200 juta dollar untuk bikin aneka special effect tapi yang diinget penonton cuma 2 onggok lemak gondal-gandul.

Akhir kata, film ini seru, keren, canggih, tapi sebelum film mulai tolong matikan dulu otak kalian. Atau minimal, kurangi kepedulian kalian pada cerita, dan fokuslah pada special effectnya.

No comments:

Post a Comment