Pages

Sunday, July 12, 2009

unsolved mystery: apa bedanya es campur dan es shanghai?

Sebagai penggemar aneka jenis es serut, jenis es yang satu ini memang rada membingungkan. Biasanya, sebuah restoran cuma menyediakan es shanghai aja, ATAU es campur aja. Sempet terpikir oleh gue bahwa es campur itu sekedar nama lain dari es shanghai. Toh penampakannya kurang lebih sama: aneka buah-buahan, kolang-kaling, cincau, kadang ada tape singkong juga, ditimbun es serut yang dikucuri sirup merah dan susu kental manis putih. Tapi di beberapa resto, kedua jenis es ini tampil bersamaan di daftar menu. Hasilnya adalah kerancuan parah di kalangan para waiter.

Seperti yang pernah gue alami di sebuah resto masakan sunda di bilangan Cikini Raya. Es Campur dan Es Shanghai sama-sama tercantum di menu. Maka bertanyalah gue kepada mas waiter, "Mas, apa sih bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Shanghai pakai santan, pak..." jawab si mas yakin.
"Kalau Es Campur?"
"JUGA".

=ini dialog 100% nyata, gue nggak ngarang walaupun kedengerannya seperti cuplikan salah satu joke dari e-mail=

Barusan, gue abis makan di sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo. Lagi-lagi ada Es Campur dan Es Shanghai di menu.
"Mbak, apa bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Campur, pakai cendol, pak. Kalau Es Shanghai tidak pake cendol," jawab si mbak yang nampak lebih koheren ketimbang mas waiter di Cikini.
"OK, kalau gitu saya pesan Es Shanghai, dan untuk istri saya Es Campur," kata gue.

Nggak lama kemudian muncul seorang mas waiter membawakan dua mangkok es serut yang selintas nampak identik. Saat dia meletakkan pesanan di meja, gue tanya, "Mas, yang mana yang Es Campur?"
"Yang ini pak," katanya sambil menunjuk salah satu mangkok. Maka gue serahkah mangkok tersebut kepada Ida.
Nggak lama kemudian ida mulai bertanya-tanya, "Mana, katanya Es Campur ada cendolnya, ini kok nggak ada?"
"Yang ada cendolnya, Es Shanghai, bu," jawab mas waiter.

Sekitar lima menit kemudian, mbak waiter yang pertama menerima pesanan muncul untuk mengantarkan makanan, dan bilang, "Pak, mohon maaf, seharusnya yang Es Campur yang ini," katanya sambil menunjuk mangkok di hadapan gue, "YANG ADA CENDOLNYA."

Buat yang lagi makan di resto dan mulai kehabisan bahan obrolan, coba deh cek daftar menunya. Kalo ada Es Shanghai dan Es Campur tercantum di sana, tanyain apa bedanya sama para waiter, dan nikmati pembahasan filosofis tentang makna dan hakikat semangkok es serut...

Gambar: Es Campur (atau Es Shanghai?) dari sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo

No comments:

Post a Comment