Pages

Wednesday, August 26, 2009

makan siang dengan mantan

Beberapa minggu yang lalu, mantan gue ulang tahun. Gue menelepon pagi-pagi untuk mengucapkan selamat, dan berakhir dengan janjian makan siang bareng.�

Berhubung si mantan sekarang udah berstatus emak-emak, maka apa lagi obrolannya kalo bukan tentang anak. Dia udah punya seorang anak perempuan, kalo nggak salah umurnya udah 6 tahun.�

"Aku bingung deh mengarahkan anakku. Bakatnya banyak banget. Kalo menggambar, gambarnya bagus sekali. Kalo nyanyi, suaranya ada vibranya lho! Trus baru-baru ini, di sekolahnya ada pertunjukan drama. Dia tadinya ditunjuk jadi narator, tapi last minute, selang dua hari sebelum pertunjukan, tiba-tiba dia diubah jadi pemeran utama. Dia yang udah ngapalin naskah narator, tiba-tiba harus ganti ngapalin naskah pemeran utama dalam dua hari, dan bisa!"

"...wah hebat sekali ya..." kata gue sambil mikir kira-kira apa ya yang bisa dibanggain dari anak gue si kriting gembul Rafi.�

"Dia juga udah sering banget ditawarin orang jadi model. Dan kayaknya dia juga berminat. Cuma akunya yang masih ragu-ragu, kira-kira kalo anak sekecil dia, sehat nggak sih kalo udah ngerasain dunia model..."

"Tau dari mana dia berminat jadi model?"

"Dia sendiri yang bilang. 'Mama, i want to be a model', katanya,"

"Oh. Ngomongnya bahasa Inggris terus ya?"

"Iya, kan sejak pre-school sekolahnya udah bi-lingual."

Sementara si Rafi sejak umur 2 tahun udah menguasai... hmmm... apa ya? Denah Pasar Tebet Barat, barangkali. Dan sekarang menjelang usia ke tiga, dia merambah Pasar Tebet Timur...

"Eh dari tadi aku terus yang cerita. Coba, anakmu udah bisa apa?"

"Bisa... apa ya? Yah, MAKANnya banyak sih...."

Kesimpulannya, sebagai seorang bapak, walaupun sejauh ini prestasi anaknya barulah menghabiskan makanan porsi orang dewasa dan beberapa hari yang lalu berhasil bertahan jongkok selama lebih dari setengah jam di pelataran Pasar Tebet Timur karena nggak mau diajak pulang, bapak tetap bangga, nak!�


Foto: si mantan waktu menjenguk kelahiran Rafi. Coba tebak yang mana, yang jelas sih bukan yang paling kanan :-)�

Sunday, August 23, 2009

episode si mbot vs polantas: "Minta slip biru, pak!"

Tadi sore, gue abis dari Grand Indonesia mau mengarah pulang ke Tebet. Gue nggak ngeh, dari arah jalan Teluk Betung gue langsung masuk jalur cepat di dekat bunderan Thamrin. Langsung dicegat polisi. 

"Selamat sore pak," kata polisinya. "Bapak telah melanggar garis pemisah jalan, seharusnya tadi bapak ambil jalur lambat."

"Oh gitu ya? Jadi, harus ditilang ya?" jawab gue dengan nada biasa. Kan lagi puasa.

"Iya pak."

"Ok kalo gitu saya minta slip biru."

Sebelumnya udah sering gue baca di berbagai blog, bahwa untuk acara tilang-tilangan dengan polisi kaya gini ada dua jenis slip, slip merah dan slip biru. Kalo kita milih slip merah artinya kita menyangkal tuduhan pelanggaran dan memilih untuk membela diri dalam sidang. Kalo kita milih slip biru artinya kita mengakui kesalahan dan siap membayar denda lewat transfer bank. Denda yang harus dibayar ternyata nggak sebesar yang dikira orang selama ini, dan yang jelas dananya halal masuk kas negara, dan nggak meracuni mental polisi dengan kebiasaan 'tilang damai'. Posting-posting blog lainnya tentang slip merah dan biru antara lain bisa dibaca di sini

Petugas polisi yang nyegat gue nampak kaget denger gue minta slip biru. Sementara gue dalam hati meneguhkan niat nggak akan membiarkan urusan tilang menilang ini berakhir dengan cara lain kecuali slip biru. 

"Sayang sekali bapak tidak bisa minta slip biru, pak!" kata polisinya. 

"Kenapa?"

"Sebab... memang itu aturan lama pak, sekarang sudah tidak berlaku lagi..."

"Kapan dicabutnya mas? Saya kok nggak denger?"

"Memang itu sudah instruksi dari atas pak, soalnya pimpinannya kan ganti, jadi sekarang berlaku aturan baru," si polisi mulai meracau dengan alasan nggak jelas. Gue memang denger banyak selentingan bahwa polisi seringkali 'enggan' mengeluarkan slip biru karena nggak memungkinkan mereka dapet 'penghasilan ekstra', tapi gue memilih untuk nggak langsung percaya selentingan sebelum mengalami sendiri. Dan ternyata memang selentingan yang gue denger terbukti. 

"Saya tau saya berhak dapet slip biru pak, jadi saya minta dibuatin slip biru," jawab gue keras kepala.

"Nggak bisa pak, sebab ini sedang operasi! Kalau tidak sedang operasi, bapak bisa minta slip biru, tapi kalau sedang operasi Zebra seperti sekarang ini, tidak bisa pak!"

"Masa sih ini sedang operasi Zebra? Biasanya kan kalo sedang operasi ada tulisannya mas! Sekarang dari mana saya bisa tau bahwa ini beneran sedang operasi, dan kalaupun memang benar sedang operasi, apa hubungannya antara operasi dengan slip biru?"

"Pokoknya selama operasi tidak bisa mengeluarkan slip biru, pak!"

"Kenapa?"

"Karena selama operasi petugasnya kan tidak berasal dari sini, jadi nanti bapak kesulitan mengambil kembali simnya!"

"Ah saya rasa enggak sulit. Mas kan tinggal kasih tau saya aja, habis ini mau tugas di mana, nanti setelah saya bayar dendanya saya yang datang ngambil sim saya ke mas. Atau saya juga bisa kirim kurir saya untuk ngambil ke tempat mas. Itu sih nggak masalah, mas."

"..." polisinya nampak putus asa, dan akhirnya bilang "Silakan tunggu di sini pak!"

Abis itu dia jalan ke sarangnya, berunding bersama beberapa orang temannya di sana. Cukup lama juga, sekitar 15 menit ada kali. Abis itu petugas yang lain mendekati mobil gue dengan membawa... slip biru!

"Ini pak, silakan ditandatangani di sini," kata petugas ke dua. 

"Oh, ternyata bisa ya mas, pake slip biru?"

"Bisa, pak..." katanya. 

"Soalnya tadi kata temannya nggak bisa. Mungkin dia belum ngerti kali mas, tolong dikasih tau ya..."

Pertama kalinya dalam hidup gue, gue puas dan bahagia saat ditilang. Terserah nanti denda yang harus gue setor di bank berapa, yang penting duitnya halal masuk kas negara dan bukan dipake 'ngasih makan Zebra'!

Tuesday, August 18, 2009

istri dan kartu hadiah susu yes

susu yesBeberapa hari yang lalu, kami beli susu Yes untuk Rafi, kemasan 6 botol (kalo nggak salah). Ternyata berhadiah kartu permainan. Ada 6 kartu: 1 kartu bergambar maling, 1 kartu bergambar polisi, dan 4 kartu bergambar teman. Cara bermainnya, semua kartu diletakkan di meja, menghadap ke bawah. Masing-masing pemain (yang sebaiknya berjumlah minimal 4 orang) mengambil satu kartu. Pemain yang mendapat kartu maling, harus 'merampok' temannya dengan memberikan kode rahasia (misalnya colekan atau kedipan mata). Orang yang kena rampok harus membuka kartunya. Sementara tugas pemain yang jadi polisi adalah menangkap maling sesegera mungkin, tapi nggak boleh salah tangkap.
OK, kurang lebih gitulah aturan permainannya.
Dan mengapa oh mengapa, sekitar 15 menit yang lalu, di jam 1.45 dini hari, Ida yang lagi nggak bisa tidur tiba-tiba ngajak main kartu bodoh ini.
"Suami, ayo kita main kartu ini!"
"Gimana cara mainnya?" jawab gue dengan antusiasme setara orang lagi disuruh nenggak air aki.
"......" Ida menjelaskan aturan permainannya.
"OK, jadi kalo aku kebagian jadi maling, aku ngedipin kamu?"
"Iya!"
"Trus yang mau nangkep siapa? Kita kan cuma berdua!"
"Iya juga ya suami... trus gimana dong suami, kita terpaksa main kedip-kedipan tanpa kartu?"
"Boleh tambah dengan colek-colekan tanpa kartu juga nggak?"

Hikmah berumah tangga: adalah bertoleransi terhadap keajaiban-keajaiban pasangan tanpa kehilangan cinta.

Monday, August 17, 2009

reputasi orangtua di tangan anak

"Setiap orang bertanggung jawab atas reputasinya sendiri."

Dulunya gue sangat percaya akan hal tersebut. Sampai tiba saatnya gue punya anak. Terutama saat si anak mulai masuk sekolah.

Satu hal yang cukup membuat gue dan ida khawatir saat membiarkan rafi berinteraksi dengan khalayak ramai adalah: nafsu makannya. Untuk urusan makan, anak ini memang tergolong sulit... maksudnya kalau udah mulai makan sulit berhenti. Tanda-tanda ke arah ini udah muncul saat dia baru berusia 7 bulan. Waktu itu situasinya kami lagi ditraktir salah satu orangtua murid waktu Ida masih jadi guru TK, dan kebetulan kami lagi membawa si gembul berambut jarang yang satu ini.

Memang waktu itu jam makannya udah rada kelewat, dan rupanya dia udah lapar berat. Saat nasi hainam pesanannya terhidang, dia mulai nampak beringas mengendus aromanya. Keberingasannya meningkat saat Rafi menilai ibunya terlalu lama saat menghaluskan butir-butir nasi di mangkoknya, dan mulailah dia beraksi dengan berteriak-teriak, "MA-AM! MA-AM! AAAH! MA-AM!" sambil memukul-mukul meja pake sendok.
"Aduh, lucunya si adek, udah lapar banget ya?" kata orangtua murid sambil tersenyum ramah.
"Iya kayaknya nih, maaf ya mommy, dia ini memang kalau sudah lapar jadi (buas) begini," jawab Ida setengah tengsin.
"Nggak papa ya dek, ya... namanya juga orang lapar..."
"MA-AM!"

Alhasil acara makan siang kali itu jadi salah satu acara makan siang yang cukup memalukan dengan hasil akhir butir-butir nasi hainam berceceran di seantero muka dan rambut Rafi, dan saat semangkok nasi hainam ludes disikat dia masih menggapai-gapai mangkok es campur yang lagi diminum ibunya dengan tampang penuh minat.

Seiring dengan pertambahan umur Rafi, nafsu makannya makin menggila. Untungnya dia suka bergerak, jadi untuk mengimbanginya kami membiasakan Rafi untuk berolah raga setiap pagi berupa bersepeda naik-turun tanjakan depan rumah sampe keringetan. Cuma menjelang dia masuk sekolah, gue dan Ida semakin kuatir, "gimana kalo anak ini nanti menggeragas di sekolah dan membajak bekal teman-temannya?"

Untuk mengantisipasi insiden memalukan tersebut, sejak jauh-jauh hari kami mengindoktrinasi Rafi soal adab memakan bekal di sekolah.
"Rafi, sebentar lagi Rafi kan mau sekolah, ya kan?"
"Iya! Di TK Aisiyah!"
"Nah, nanti kalau Rafi pergi ke sekolah, bunda akan bawain Rafi bekal makanan untuk dimakan di sekolah ya! Inget lho, di sekolah nanti Rafi makan makanannya sendiri, nggak boleh makan makanan temannya ya!"
"Kenapa?"
"Sebab kasihan kan, temannya nanti nggak punya makanan, kalau dia lapar gimana? Ingat ya, di sekolah, Rafi makan makanan Rafi sendiri. Oke?"
"OK sip!"

Pesan ini kami ulang-ulang dalam setiap kesempatan, misalnya...
"Rafi, nama lengkapnya siapa?"
"Nadiv Rafi Nugroho!"
"Kalau di sekolah makan apa?"
"Makanannya sendiri!"

Diselipkan juga dalam sesi dongeng menjelang tidur...
"Bapak, mau diceritain Barney dong..."
"OK. Pada suatu hari, si Barney pergi sekolah di TK Aisiyah dan di sekolah BARNEY MAKAN MAKANANNYA SENDIRI DAN TIDAK MAKAN MAKANAN TEMANNYA...."

Sampai akhirnya tiba saatnya Rafi bersekolah untuk pertama kali. Dengan harap-harap cemas kami melepas dia berinterasi dengan teman-temannya, dan hal pertama yang ditanyakan Ida kepada ibu gurunya adalah, "Apakah Rafi merampok makanan temannya?"
Huff... syukurlah, di minggu pertama dan ke dua, doktrin-doktrin kami nampaknya berhasil mengerem nafsu ngeragas Rafi walaupun kalau diamati dia nampak sangat berminat pada bekal yang dibawa teman-temannya. Biasalah, bekal tetangga selalu nampak lebih menggiurkan, bukan?

Sampai akhirnya terjadilah saat yang dikuatirkan itu.... di minggu ke tiga, Ida disambut oleh ibu guru Rafi di akhir jam sekolah dengan laporan, "Ibu, ini lho, tadi Rafi BERBAGI MAKANAN dengan temannya..." Tentu saja istilah 'berbagi makanan' sekedar penghalusan dari peristiwa sebenarnya, yaitu ngerampok. Nggak lama kemudian muncullah Rafi dari dalam kelas, jalan berlenggang kangkung dengan tangan kanan dan kiri menggenggam kentang goreng... padahal jelas-jelas Ida nggak membawakan bekal kentang goreng hari itu.
"Rafi! Heh, Rafi kok ambil makanan temannya? Inget nggak, bunda bilang apa, Rafi makan makanannya sendiri!"
Dibilangin gitu Rafi cuma senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Faktanya memang bener sih, dia makan makanannya sendiri sampe habis, tapi sesudahnya dia merasa nggak ada salahnya mencicipi makanan orang lain juga.

Karena merasa kebiasaan ini bisa jadi kebiasaan yang buruk yang memalukan kalau dibiarkan, Ida mencoba berdialog dengan Rafi, "Rafi, denger ya. Bunda kan udah bilang, Rafi makan makanannya sendiri, tidak ambil makanan teman. Sekarang, kentang goreng ini Rafi ambil dari siapa?"
"Temen."
"Siapa namanya?"
"Nggak punya nama."
"Yang mana temennya?"
"Itu." kata Rafi sambil menunjuk salah satu temannya yang lewat.
"Ya udah, sekarang Rafi bilang terima kasih sama dia, dan besok-besok tidak ambil makanannya lagi, ya!"
"Terima kasih, teman!" kata Rafi.

Tapi satu hari yang paling memalukan dalam konteks Rafi dan bekal makanan adalah, ketika hari itu pesanan kue Ida lagi numpuk dan Ida lagi nggak sempet siapin bekal untuk Rafi. Maka hari itu Ida membawakan tempat makanan kosong buat Rafi, sambil berpesan, "Rafi, ini tempat makannya masih kosong, Rafi bawa dulu ya. Nanti sesudah bunda anter Rafi ke sekolah, bunda pergi dulu sebentar beli makanan buat Rafi, ya?"
"Iya, bunda..." jawab Rafi manis.

Setelah mengantar Rafi ke sekolah, Ida bergegas ke toko kue terdekat untuk beli cemilan ala kadarnya buat Rafi. Abis itu dia buru-buru balik ke sekolah, dan... lho, kok tempat makan Rafi udah tercecer di luar tasnya?

Dengan ngeri Ida membayangkan yang terburuk dan firasatnya benar.... salah satu orangtua murid yang menunggui di depan kelas melaporkan sambil cekikikan geli, "Bunda, itu lho si Rafi tadi lari-lari di depan kelas sambil bawa-bawa tempat makannya dan teriak-teriak, 'INI LHOOOO TEMPAT MAKANKU KOSONG! TEMPAT MAKANKU KOSONG! AKU NGGAK PUNYA MAKANAN! TEMPAT MAKANKU KOSOOOOOONGGGGG!!!'"

Pelajaran yang gue petik sejak menjadi orangtua adalah, "Setiap orangtua, suka nggak suka, akan turut menanggung reputasi yang diciptakan oleh anaknya..."

Foto: Rafi, membantu bunda membersihkan cetakan kue.