Pages

Sunday, August 23, 2009

episode si mbot vs polantas: "Minta slip biru, pak!"

Tadi sore, gue abis dari Grand Indonesia mau mengarah pulang ke Tebet. Gue nggak ngeh, dari arah jalan Teluk Betung gue langsung masuk jalur cepat di dekat bunderan Thamrin. Langsung dicegat polisi. 

"Selamat sore pak," kata polisinya. "Bapak telah melanggar garis pemisah jalan, seharusnya tadi bapak ambil jalur lambat."

"Oh gitu ya? Jadi, harus ditilang ya?" jawab gue dengan nada biasa. Kan lagi puasa.

"Iya pak."

"Ok kalo gitu saya minta slip biru."

Sebelumnya udah sering gue baca di berbagai blog, bahwa untuk acara tilang-tilangan dengan polisi kaya gini ada dua jenis slip, slip merah dan slip biru. Kalo kita milih slip merah artinya kita menyangkal tuduhan pelanggaran dan memilih untuk membela diri dalam sidang. Kalo kita milih slip biru artinya kita mengakui kesalahan dan siap membayar denda lewat transfer bank. Denda yang harus dibayar ternyata nggak sebesar yang dikira orang selama ini, dan yang jelas dananya halal masuk kas negara, dan nggak meracuni mental polisi dengan kebiasaan 'tilang damai'. Posting-posting blog lainnya tentang slip merah dan biru antara lain bisa dibaca di sini

Petugas polisi yang nyegat gue nampak kaget denger gue minta slip biru. Sementara gue dalam hati meneguhkan niat nggak akan membiarkan urusan tilang menilang ini berakhir dengan cara lain kecuali slip biru. 

"Sayang sekali bapak tidak bisa minta slip biru, pak!" kata polisinya. 

"Kenapa?"

"Sebab... memang itu aturan lama pak, sekarang sudah tidak berlaku lagi..."

"Kapan dicabutnya mas? Saya kok nggak denger?"

"Memang itu sudah instruksi dari atas pak, soalnya pimpinannya kan ganti, jadi sekarang berlaku aturan baru," si polisi mulai meracau dengan alasan nggak jelas. Gue memang denger banyak selentingan bahwa polisi seringkali 'enggan' mengeluarkan slip biru karena nggak memungkinkan mereka dapet 'penghasilan ekstra', tapi gue memilih untuk nggak langsung percaya selentingan sebelum mengalami sendiri. Dan ternyata memang selentingan yang gue denger terbukti. 

"Saya tau saya berhak dapet slip biru pak, jadi saya minta dibuatin slip biru," jawab gue keras kepala.

"Nggak bisa pak, sebab ini sedang operasi! Kalau tidak sedang operasi, bapak bisa minta slip biru, tapi kalau sedang operasi Zebra seperti sekarang ini, tidak bisa pak!"

"Masa sih ini sedang operasi Zebra? Biasanya kan kalo sedang operasi ada tulisannya mas! Sekarang dari mana saya bisa tau bahwa ini beneran sedang operasi, dan kalaupun memang benar sedang operasi, apa hubungannya antara operasi dengan slip biru?"

"Pokoknya selama operasi tidak bisa mengeluarkan slip biru, pak!"

"Kenapa?"

"Karena selama operasi petugasnya kan tidak berasal dari sini, jadi nanti bapak kesulitan mengambil kembali simnya!"

"Ah saya rasa enggak sulit. Mas kan tinggal kasih tau saya aja, habis ini mau tugas di mana, nanti setelah saya bayar dendanya saya yang datang ngambil sim saya ke mas. Atau saya juga bisa kirim kurir saya untuk ngambil ke tempat mas. Itu sih nggak masalah, mas."

"..." polisinya nampak putus asa, dan akhirnya bilang "Silakan tunggu di sini pak!"

Abis itu dia jalan ke sarangnya, berunding bersama beberapa orang temannya di sana. Cukup lama juga, sekitar 15 menit ada kali. Abis itu petugas yang lain mendekati mobil gue dengan membawa... slip biru!

"Ini pak, silakan ditandatangani di sini," kata petugas ke dua. 

"Oh, ternyata bisa ya mas, pake slip biru?"

"Bisa, pak..." katanya. 

"Soalnya tadi kata temannya nggak bisa. Mungkin dia belum ngerti kali mas, tolong dikasih tau ya..."

Pertama kalinya dalam hidup gue, gue puas dan bahagia saat ditilang. Terserah nanti denda yang harus gue setor di bank berapa, yang penting duitnya halal masuk kas negara dan bukan dipake 'ngasih makan Zebra'!

No comments:

Post a Comment