Pages

Tuesday, September 08, 2009

Realisasi kopdar yang tertunda hampir 4 tahun

Dari sekian banyak contact gue di MP yang interaksinya lumayan intensif, cuma tinggal beberapa orang aja yang sampe hari ini belum pernah gue temui secara langsung. Kebanyakan sih karena domisili mereka di luar negeri, seperti misalnya Willy - escoklat atau Ferdina - Fdev.

Tapi ada satu contact yang entah kenapa licin banget untuk dikopdarin, padahal tinggalnya nggak jauh-jauh amat: Bogor. Dialah Denny "Baonk" Monoarfa, si blogger kambuhan yang sejauh ini udah 3 kali bikin dan 2 kali delete account MP, yaitu dennybaonk, dbaonk, dan terakhir dbaonkagain. Tiap kali ada acara kopdar raya, gue dateng setelah dia pulang, atau sebaliknya. Dari semua orang yang ngasih endorsement untuk buku Ocehan si Mbot, cuma makhluk satu ini doang yang belum pernah gue saksikan langsung seperti apa wujud aslinya.�

Kebetulan, beberapa minggu terakhir gue liat posting-postingnya dipenuhi dengan berita persiapan menyambut kelahiran anak ke dua. Posting terakhirnya memberitakan bahwa tanggal 5 September sudah ditetapkan sebagai tanggal kelahiran si anak bungsu lewat operasi caesar. Nah, mungkin ini udah suratan takdir untuk ketemu langsung dengan salah satu penulis resensi pertama Ocehan si Mbot, pikir gue.�

Kebetulan tanggal 5 gue ada acara kantor sampe malem, jadi gue merencanakan untuk dateng menjenguk pada tanggal 6-nya aja. Masalahnya, gue nggak tau di mana rumah sakitnya. Seinget gue dia pernah menuliskan di salah satu network messagenya, tapi gue cari-cari nggak nemu. Jadi, yah... apa boleh buat, walaupun niatnya mau bikin kunjungan kejutan, terpaksa deh tanya langsung pada yang bersangkutan via telepon.�

"Halo..." terdengar suara berlogat Bogor saat gue hubungi salah satu dari 4 nomor yang tercatat di phonebook gue atas nama "MP Dbaonk".

"Ini Denny?"

"Iyah."

"Di rumah sakit ya?"

"Iyah."

"Rumah sakitnya di mana?"

"Ini siapa ya?" Wah kebetulan, dia nggak mengenali nomer gue!

"Eee... orang ditanya. Rumah sakitnya di mana?"

"Mitra... Jatinegara. Ini siapa sih?"

"Halah pake nanya ini siapa, lagi. Kamar nomer berapa? Buruan!"

"Ini siapa dulu!" terdengar suaranya mulai sebel.

"Gampang lah itu ntar. Kamarnya dulu, nomer berapa!"

Abis itu terdengar dia seperti ngomong sama seseorang, mungkin istrinya. "Ini kayaknya temen kamu deh..." trus klik, teleponnya mati. Sial. Tapi lumayan, gue udah tau lokasi RS-nya, tinggal nanya kamarnya di sana.�

Setelah selesai menunggui istri ber-BOP dengan rombongan Oriflamenya, kami berdua meluncur ke Mitra Jatinegara. Resenya, RS yang satu ini ketat banget penjagaannya. Di pintu masuk berdetektor logam kami dihadang satpam.

"Saya mau jenguk istrinya Pak Denny Monoarfa pak, baru melahirkan kemarin," kata gue.

"Kamar nomer berapa pak?"

"Wah nggak tau saya."

"Namanya istrinya siapa?"

Halah, mana gue tau nama istrinya si Baonk. "Nggak tau juga pak. Masa bapak nggak pegang catatan nama suaminya sih?"

"Di sini tidak ada pak. Cuma ada nomor kamar dan nama ibunya aja. Mungkin bapak bisa hubungi yang bersangkutan lewat HP..."

"Masalahnya ini kejutan, Pak..." kata Ida, "Kami baru datang dari luar kota, langsung ke sini." Ya bener juga sih, Ida kan baru dateng dari Bandung ke Jakarta, 4 tahun yang lalu. Tapi kan ukuran 'baru' itu relatif.

"Kalau begitu silakan ditanyakan aja nama ibunya ke bagian Customer Service!"�

Untunglah Customer Servicenya nggak punya terlalu banyak pertanyaan seperti si satpam. "Sebentar ya Pak, kebetulan hari Sabtu kemarin ada 16 orang yang melahirkan di sini, dan datanya harus dibuka satu per satu..."

"Nah, untung cuma 16 kan mbak," kata gue membesarkan semangat.�

Lima menit kemudian, gue dan Ida kembali menghampiri satpam, dengan nama ibu dan nomer kamar di tangan. Bingo, kami boleh lewat dan langsung naik lift ke lantai 3. Ealah, ternyata di sini juga ada satpam. Lagi-lagi kami dicegat karena bukan jam berkunjung, dan hanya satu orang yang boleh masuk ke area kamar inap.�

"Kamu aja yang masuk, aku tunggu sini," kata Ida.�

"Tapi... kalo tau-tau di kamar lagi acara menyusui atau apa gitu, gimana?"

"Ya kan kamu yang dari tadi mau nengok, gimana sih!"

Gue tinggalkan istri yang kurang kooperatif itu dan melangkah melewati gerbang menuju area kamar inap, belok kanan di kamar nomor 314. Begitu gue buka pintu, walah... ada 3 tempat tidur yang masing-masing tertutup tirai rapat. Yang mana nih tempat tidurnya si baonk? Ntar kalo gue main buka aja tau-tau...."Halo Nyonya Denny... selamat ya!! Apa, ibu bukan istrinya Denny? Yakin? Oh baiklah kalo gitu. Ngomong-ngomong, teruskan memberikan ASI eksklusif seperti sekarang ini ya Bu! Jangan putus asa! Nampak jelas stok ibu berlimpah ruah. Yak, dan tidak perlu berteriak histeris atau �memanggil satpam...taro tombol belnya ibu... ya ya ya saya keluar!"

Gue memutuskan untuk mengambil langkah aman, yaitu dengan kembali menggunakan HP.�

"Halo?" kali ini terdengar suara perempuan. Mungkin istrinya

"Halo, bisa bicara dengan Denny?"

"...orang yang tadi nih," terdengar bisikan yang menjauh dari corong telepon, "Ini dengan siapa ya?"

Berhubung udah kadung nyampe di lokasi, terpaksa deh gue membongkar identitas, "dari Agung." Habis itu terdengar suara kresek-kresek telepon berpindah tangan.�

"Halo?"

"Den, keluar dong..."

"Ini Agung mana ya?"

"Agung, Agung. Keluar dong..."

"Agung mbot ya?"

"Keluar napa Den..."

"Ini masalahnya lagi menyusui..."

"Emangnya yang menyusui elu? Keluar gih, buruan!"

Nggak sampe semenit kemudian, akhirnya keluar juga sosok cungkring yang selama 4 tahun terakhir rajin meneror posting-posting blog gue di MP.�

"Gue tuh paling nggak seneng kejutan. Untung teleponnya tadi nggak gue tutup," omelnya.�

"Hah. Yang penting kan gue berhasil tau rumah sakitnya di mana!" kata gue.�

Sebagai bukti tangkapan, gue berfoto bareng dengan celeb blog yang satu ini.

Akhirnya... ketemu juga!�

Monday, September 07, 2009

jangan bugil di depan kamera... ever!

Kantor gue lagi dilanda sedikit kehebohan. Ada seorang pegawai perempuan, sebutlah namanya si A, berpacaran dengan seorang lelaki bernama B, yang bukan pegawai kantor gue. Rupanya tidak terjadi kecocokan antara A dan B sehingga akhirnya mereka putus, dan kemudian A nikah dengan C, yang kebetulan juga pegawai kantor gue. Setelah nikah, A resign dari kantor gue.

Eh, nggak taunya diam-diam si B masih menyimpan rasa kesel karena ditinggal oleh A, sedemikian rupa sehingga kemudian dia membuat sebuah account di gmail yang seolah-olah milik A, lantas menggunakan account itu untuk menyebarluaskan video dan foto adegan syur antara A dan B kepada orang-orang di kantor gue. Bukan cuma itu, si B ini juga membuat beberapa account di situs2 jejaring sosial dan memposting foto-foto tsb di sana. Tentunya dengan cermat dia memilih foto-fotonya sedemikian rupa sehingga hanya wajah A yang tampil, sementara wajah dia sendiri aman tersembunyi. Sekarang urusan konyol ini udah sampe ke kuping direktur, dan kebetulan gue yang tadi siang ditugasi menginvestigasi udah sampe di mana laju penyebaran foto dan video tersebut. Masalahnya, baik di sebaran email maupun di account jejaring sosial, terpampang dengan jelas nama kantor gue termasuk alamat dan nomor teleponnya segala.�

Kasus kaya gini emang boleh dibilang mulai basi, tapi toh kejadian lagi dan lagi. Gue nggak kebayang apa yang terjadi di tengah rumah tangga A dan C sekarang, karena namanya foto dan video yang udah kadung nyebar di internet ya susah untuk direm. Pesan gue buat kalian yang lagi dilanda asmara di luar sana, jangan - jangan - jangan pernah sekalipun mendokumentasikan aktivitas ranjang kalian dalam bentuk apapun, khususnya di media digital. Mungkin kalian merasa aman karena yakin partner kalian bisa dipercaya, alat yang dipake juga milik sendiri - bukan pinjeman dari orang, dan rasanya seru, sexy dan kinky untuk merekam adegan saru kalian sendiri, tapi...

  • ...selalu ada kemungkinan HP / kamera yang kalian pake dicuri orang dan kita nggak bisa mencegah malingnya untuk bertindak kreatif dengan file-file di dalamnya.�

  • ...bisa aja kalian butuh duit dan memutuskan untuk menjual HP / kamera berisi adegan seru tersebut tanpa mendeletenya sebelumnya.

  • ...atau kalian udah mendelete filenya, tapi dengan bantuan aplikasi yang sangat sederhana, semua file digital yang pernah dihapus bisa direcover lagi!

Saran gue, buat yang belum pernah melakukan, udahlah jangan iseng. Sedangkan yang udah pernah melakukan, saran gue adalah...

  • �...kalo file video / gambarnya ada di memory card (SD card, micro SD, CF, dsb) atau flashdisk sebaiknya copot tuh memory card, bakar sampe rada meleleh, trus buang. Memang konon dengan memformatnya beberapa kali maka file akan hilang selamanya tanpa bisa direcover, tapi buat apa sih ambil resiko. Lagian hari gini harga memory card udah murah, nggak akan sebanding dengan harga diri kalian kalo isinya nyebar di internet.
  • ... kalo ada di CD, nggak cukup dengan dirusak dengan cara digores. Patahin CD-nya jadi dua, atau bakar.
  • ... kalo ada di harddisk, nah ini rada repot. Memang rada nyesek kalo kalian harus ngebakar harddisk, jadi minimal yang bisa kalian lakukan adalah memformatnya, mengisi dengan file2 lain sampe penuh, format lagi, isi lagi sampe beberapa kali. Dan banyak-banyak berdoa jangan sampe harddisk tersebut sampe dicolong orang.�

Intinya, ingatlah bahwa setiap kali kalian mendokumentasikan kebugilan diri sendiri, selalu ada resiko ditonton oleh orang lain. Dan belum tentu kebugilan kalian tersebut mampu menghibur penontonnya.�