Pages

Saturday, June 30, 2012

[2012-019] Test IQ = timbangan

Salah satu keponakan gue nanya begini:

"Oom Agung, aku abis ikut tes IQ kemarin. Kayaknya nggak lulus deh, soalnya pas waktunya abis masih banyak banget soal yang belum keisi. Ini artinya udah pasti nggak lulus ya?"

Ini termasuk pertanyaan yang lumayan sering gue denger, jadi jawabannya gue tulis aja di sini deh.

Ini jawaban gue:

Tes IQ itu dibuat untuk mengukur kecerdasan orang dari yang paling rendah sampai paling tinggi. Jadi, memang nggak banyak orang yang bisa mengisi semua soalnya dalam waktu yang ditentukan.

Berhubung intelegensi orang makin lama makin berkembang, tes-tes IQ baru biasanya lebih susah dari tes-tes IQ lama. Kalo elu pernah dites pake tes IQ yang lama trus ngerasain dites pake tes IQ yang baru, kemungkinan memang akan merasa jadi lebih bego karena proporsi soal yang bisa lu kerjain akan semakin sedikit. Tapi itu sebenernya sama seperti naik ke timbangan.

Kalo berat lu 70 kg, naik ke timbangan orang yang kapasitas maksimalnya 125 kg, maka lu akan ngeliat jarumnya bergerak sampe lebih dari separo jalan. Tapi kalo lu naik ke timbangan beras yang kapasitas maksimalnya 500 kg, jarumnya paling cuma gerak nggak sampe 1/5 jalan. Berat aktual lu tetep sama, tapi gerakan jarum di timbangannya beda - karena skalanya beda.

Jadi, nggak usah buru-buru stress kalo tes IQ-nya masih banyak yang kosong, ya! Sebaliknya juga berlaku: yang berhasil ngisi semua belum tentu bener kok.

[review] Abraham Lincoln Vampire Hunter

Film ini diangkat dari novel terbitan 2010 karya Seth Grahame-Smith. Entah apa yang terlintas di otaknya sehingga kepikiran mengadu mantan presidennya dengan vampir. Kalo selintas gue baca komentar para pembaca bukunya di goodreads, kayaknya sih novel ini novel komedi. Jadi ya nggak ada maksud apapun kecuali ingin nulis sesuatu yang gila-gilaan aja. Tapi kalo kata gue, mungkin ada kaitannya dengan sosok Abraham Lincoln yang kayaknya 'true American Hero' banget. Selain karena sosoknya yang jujur, tegas, terpelajar, dan anti perbudakan, meninggalnya pun dramatis. Idola yang lengkap untuk orang Amerika yang doyan hal-hal bombastis. Di jaman Perang Dunia II, poster perekrutan tentara menampilkan sosok 'Uncle Sam' yang ciri-cirinya mirip banget dengan Abraham Lincoln:
lincoln vs uncle sam

Di sejumlah film, sosok Abraham Lincoln juga ditampilkan sebagai pahlawan pembela kebenaran. Misalnya di film Night of the Museum 2 ini, patung Abraham Lincoln yang kebal senjata turun tangan menengahi pertempuran:

lincoln night of the museum
Kesimpulannya, kayaknya orang Amerika tergila-gila banget sama Abraham Lincoln. Jadi kalo sekalian dibuat ngelawan vampir, kenapa enggak?

Cerita filmnya sederhana aja, yaitu tentang perjuangan Abraham Lincoln (Benjamin Walker) melawan vampir. Tentunya biar meyakinkan, fakta sejarah diselipkan di sana-sini. Misalnya, diceritakan bahwa dendam Abraham kepada kaum vampir berawal saat ibunya meninggal karena sebuah penyakit misterius yang nggak bisa diobati dokter. Hanya Abraham doang saksi mata yang tahu bahwa vampirlah penyebab penyakit misterius tersebut. Faktanya, ibu Abraham Lincoln memang meninggal saat Abraham Lincoln baru berumur 9 tahun - tentunya bukan karena digigit vampir.

Abraham lantas dilatih oleh seorang pemburu vampir bernama Henry Sturgess (Dominic Cooper). Di awal film nggak langsung dijelaskan dari mana asal usul si Henry ini, tapi gue yakin sebagian penonton udah bisa nebak bahwa dia juga seorang vampir. Hubungan Henry dengan Abraham sebagaimana layaknya Nick Fury dengan Black Widow: Henry yang melatih Abraham dan menentukan target yang harus diburunya, Abraham tinggal melaksanakan tanpa banyak tanya.

Puncak film adalah pertempuran Gettysburg antara pasukan Utara yang pro kemerdekaan budak versus pasukan Selatan yang pro perbudakan. Tentunya dalam film ini, tentara Selatan didukung oleh pasukan vampir yang bisa ngilang dan kebal peluru sehingga sulit dikalahkan!

Satu-satunya film Timur Bekmambetov, sutradara film ini, yang pernah gue tonton lengkap adalah Wanted (Angelina Jolie, Morgan Freeman). Gue inget sebagian besar orang yang nonton film itu bilang 'adegan action-nya lebay, gak masuk akal.' Tapi emang begitulah ciri khas Timur, seneng bikin adegan action dalam gerakan lambat yang disajikan super detil. Mungkin terkesan lebay dan didramatisasi secara berlebihan, tapi buat gue lebih bisa dinikmati ketimbang adegan action ala Michael Bay yang bikin pusing saking cepetnya (kalo nggak percaya nonton lagi Transformers 2).

Secara umum film ini cukup menghibur, actionnya seru, cuma gue kok nggak menangkap unsur komedi seperti yang dibilang para pembaca novelnya di Goodreads, ya? Yang jelas, gue penasaran kira-kira ada nggak penulis Indonesia yang 'berani' bikin plesetan sejarah kayak gini. Soeharto pemburu Babi Ngepet, barangkali? Anyone?

Kesimpulan: ****- dari *****

Thursday, June 28, 2012

[2012-018] Singkatan Jenius yang Meleset

Dua hari yang lalu, gue berkunjung ke sebuah rumah sakit dalam rangka medical check-up tahunan waktu ngelihat poster ini:
Ini adalah poster kampanye agar para perempuan rajin memeriksa payudaranya sendiri setiap tanggal 8, agar dapat menemukan gejala penyakit sedini mungkin. Sekilas kampanye ini cukup cerdas, karena:
  • Bentuk angka 8-nya udah mengingatkan pada bagian mana yang harus rajin diperiksa
  • Tulisan 'Delapan'-nya bisa dirangkai-rangkai menjadi kepanjangan yang kayaknya cukup iye yaitu "DEteksi berkaLA Payudara ANda"
Tapi apakah benar kepanjangan itu nyambung dengan tema kampanyenya?

Menurut gue agak melenceng, kalo nggak mau dibilang mengarah ke penyalahgunaan.

Permasalahannya terletak pada kata "Deteksi".

Kalo kita buka kamus Bahasa Indonesia, makna deteksi adalah:

men�de�tek�si v menemukan atau menentukan keberadaan atau kenyataan sesuatu; melacak;

Artinya kata yang mengikuti kata 'deteksi' adalah benda yang hendak ditemukan / ditentukan keberadaannya.

Contoh:

Deteksi logam: upaya untuk menemukan keberadaan logam yang tersembunyi di balik benda lainnya.

Deteksi kebohongan: upaya untuk menemukan perkataan yang bohong di antara perkataan lainnya.

Jadi...kalo deteksi payudara, artinya upaya menemukan payudara, dong?

Ini gawat banget, karena bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab demi kesenangan pribadi. Mana tahu terjadi insiden berikut:

"HEH! Apa-apaan lu colek-colek, BANG**T!?"
"Eits, jangan marah sayang, ini kan tanggal 8, biasa... oom lagi mendeteksi..."

Gawat banget, kan?

Gue sarankan kepada pihak penggagas kampanye tersebut untuk segera merevisi singkatannya. Mungkin lebih baik jadi...

GAPAPA SI

GerakAn PeriksA PAyudara SendirI

atau

AH PAPA SI

Aliansi Hobi Periksa Payudara SendirI

Semoga usul ini diterima.

Tuesday, June 26, 2012

[review] Snow White and the Huntsman


Ngeliat judulnya, bisa ditebak bahwa film ini adalah reka ulang dongeng Snow White. Bedanya, di film ini dunia Snow White jauh lebih gelap, monsternya lebih serem, dan nenek sihirnya lebih sadis. Untunglah yang main si cantik Charlize Theron.

Film dibuka dengan kilasan gambaran masa kecil Snow White sebagai putri raja yang berani dan baik hati. Lalu muncullah Ravenna (Charlize Theron) penyihir licik yang dengan segala tipu daya berhasil merebut tahta kerajaan dan mengurung Snow White di menara. Bertahun-tahun Snow White dikurung sampe dia tumbuh besar. Sebagaimana lazimnya orang yang lama dikurung sendirian, wajar kalo pas udah gede Snow White jadi datar gitu ekspresinya. Maka nggak heran peran ini dipercayakan pada Kristen Stewart yang kedataran ekspresinya udah teruji di rangkaian film Twilight. Coba aja perhatikan perbandingan foto berikut, mana yang ekspresinya lebih jelas?



ekspresi


Sebagaimana pakem aslinya, Ravenna mulai berkonsultasi pada mirror mirror on the wall tentang siapa perempuan yang tercantik. Maklum cermin nggak punya otak, nggak heran kalo nasehatnya ngaco. Cermin bilang, ada satu perempuan yang lebih cantik dari Ravenna yaitu Snow White. Mari kita buktikan langsung nasehat tersebut dengan perbandingan berikut, apa benar Snow White lebih cantik dari Ravenna:



perbandingan


OK confirmed, cerminnya ngaco.

Cermin menyarankan agar Ravenna segera membunuh Snow White, tapi karena satu dan lain hal, Snow White berhasil lolos. Dia lantas ngumpet di sebuah hutan angker, yang saking angkernya kesaktian Ravenna nggak bisa beroperasi di sana. Maka Ravenna mengutus seorang Huntsman (Chris Hemsworth) untuk menangkap Snow White.

Sementara itu, temen masa kecil Snow White yang namanya William (Sam Claflin) sekarang udah jadi pangeran ganteng. Begitu dia denger Snow White ngumpet di hutan, dia langsung ikutan nyari. Trus buntut-buntutnya si Snow White jadi rada dilema gitu deh, dikerumuni 2 orang cowok ganteng.

Waktu pertama kali liat poster film ini, gue udah tertarik nonton. Ekspektasi gue adalah penggambaran dongeng Snow White secara lebih gelap. Ternyata bener. Cuma waktu itu gue agak kuatir dengan pemilihan Kristen Stewart sebagai Snow White. Dan sayangnya itu juga bener. Kayaknya, si penulis cerita mau menampilkan sosok Snow White versi baru yang lebih cekatan, rada tomboy, tapi tetap lembut hati. Sedangkan di tangan Kristen Stewart, Snow Whitenya jadi apatis kaya pegawai kelurahan gitu.
Untunglah ada Charlize Theron. Tokoh Ravenna yang multi dimensi: ya seksi, ya manipulatif, ya sadis, terbawakan secara sempurna. Simak deh adegan dia marah-marah waktu denger Snow White berhasil kabur dari tahanan: sangar mampus!

Kesimpulannya, sebuah upaya interpretasi ulang yang cukup menarik, bisa ngasih nuansa baru atas dongeng yang udah ratusan tahun didengar orang.

Monday, June 18, 2012

[review] Soegija

Gue punya temen, yang tanpa ditanya sering bercerita kaya gini:
"Tau nggak,  tadi pagi pas mau berangkat ke kantor,  gue bangun pagi-pagi banget. Jam 5 udah bangun. Trus gue mandi, sarapan, abis itu bingung milih baju. Soalnya minggu lalu kan gue abis belanja, sale di Metro. Gue beli atasan dua, sama sepatu satu. Tapi baju barunya belum dicuci. Akhirnya gue pikir-pikir, pake baju yang lama aja deh, yang baru dicuci dulu. Terus gue berangkat. Eh nggak langsung ding, kan harus manasin mobil dulu. Abis itu baru berangkat. Belum sarapan tuh. Si mbak udah nyiapin roti, gue bawa aja, buat  dimakan di kantor. Tumben-tumbenan, jalanan macet banget lho. Padahal gue berangkat masih jam 6. Gue kira di tol ada kecelakaan atau apa, gitu. Taunya nggak ada apa-apa. Untung akhirnya gue berhasil sampe kantor sebelum jam 8."


Biasanya setelah dia cerita panjang lebar gitu, gue akan nanya, 


"Trus gimana?"


"Nggak ada. Ya cuma mau cerita aja pengalaman gue pagi ini. Emang nggak boleh?"

Ya boleh-boleh aja sik. Dan kurang lebih seperti itulah perasaan gue setelah nonton film Soegija.
Ringkasnya bisa dibilang film ini tentang Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ, uskup pribumi pertama di Indonesia. Tapi selain Soegija, juga ada (banyak) tokoh lainnya:
  • Lingling (Andrea Reva), bocah kecil yang tinggal bersama ibunya (Olga Lidya) dan kakeknya (Henky Solaiman). Mereka punya restoran. 
  • Mariyem (Annisa Hertami Kusumastuti), gadis yang sebenarnya bercita-cita jadi perawat tapi lebih sering bertugas nganter makanan dari restoran Lingling ke gereja. Mariyem adalah adik dari Maryono (Muhammad Abbe), seorang aktivis perjuangan.
  • Nobuzuki (Suzuki) tentara Jepang langganan restoran Lingling.
  • Suwito (Eko Balung) pemimpin grup musik gereja.
  • 2 orang Belanda yang bersahabat, Hendrick (Wouter Braaf) - wartawan foto, dan Robert (Wouter Zweers) - tentara.
  • Toegimin (Butet Kertaredjasa), asisten 'general affairs' alias ngurus segala macem keperluan Sogija mulai dari potong rambut sampe angkat barang.
  • Pak Besut (Margono), penyiar radio.
Tokoh sebanyak ini hilir mudik menghiasi film dengan permasalahannya masing-masing. Lingling terpisah dari ibunya yang diculik Jepang, Mariyem terpisah dari kakaknya yang ikut gerilya, Nobuzuki senang main ke restoran Lingling karena teringat anaknya yang seumuran Lingling, Hendrick PDKT melulu kepada Mariyem tapi sering dipahitin karena Mariyem kesel sama Belanda, Suwito gak bisa bebas latihan musik karena sering diganggu Jepang, Pak Besut juga nggak bisa bebas siaran karena mikrofonnya disita Belanda, sementara Robert sebenernya nggak tega lihat penderitaan rakyat tapi berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia cuma menjalankan tugas sebagai tentara.Akhirnya terasa nggak ada satu tema utama yang melatarbelakangi film ini. Tokoh-tokohnya nyaris punya porsi yang sama rata, sampe sosok Soegija-nya sendiri pun nggak terasa mendominasi cerita. Mungkin kalo judul film ini diganti jadi "PERJUANGAN INDONESIA MELAWAN PENJAJAH" rasanya masih cocok-cocok aja.

Tapi seperti pertanyaan temen gue tadi, "Emangnya nggak boleh, sebuah film dengan banyak cerita paralel kayak gini?" -  rasanya ya boleh-boleh aja. Walaupun ketiga orang temen yang nonton bareng film ini kompakan bilang film ini ngebosenin banget, bagi gue enggak kok. Memang awalnya sempet terbingung-bingung saat berusaha menebak yang mana cerita utamanya, gue berhasil nonton film ini utuh tanpa ketiduran. Padahal nonton Sherlock Holmes dan Haywire yang banyak berantemnya aja gue sempet ketiduran beberapa kali. Mungkin masalahnya ada di gue, yang udah terbiasa nonton film Hollywood dengan alur cerita tunggal dan gamblang, jadi nggak sreg saat nonton film dengan banyak cerita paralel kayak gini.Setelah filmnya jalan setengah, gue berhenti berusaha menebak arah cerita film dan menikmati aja suguhan adegan-adegan di dalamnya. Ternyata itu lebih mudah dan nyaman. Apalagi ini filmnya Garin Nugroho, yang sejak dulu terkenal doyan banget menyisipkan simbol-simbol tersamar dalam filmnya. Soal kemunculan tokoh Soegija yang nggak dominan di film ini, misalnya. Gue curiga ini memang disengaja oleh Garin untuk menggambarkan sosok asli Soegija yang lebih suka kerja diam-diam dan nggak suka menonjolkan diri. Untung juga sih, film ini disutradarai Garin Nugroho. Kalo Agung Nugroho yang bikin, mungkin ceritanya akan jadi gini:

Mariyem pacaran dengan Hendrick, tapi diem-diem Robert juga naksir sama Marsiyem. Akhirnya terjadi cinta segi tiga. Sementara itu Nobuzuki terlibat affair dengan ibunya Lingling. Sesudah Jepang kalah perang akibat dibom Amerika, Nobuzuki ngajak ibunya Lingling kawin lari ke Jepang. Saat mereka lagi beres-beres barang mau ngabur, datanglah Robert meminta Nobuzuki menyerahkan senjata. Nobuzuki menolak, Robert menembak, tapi di detik terakhir muncul ibunya Lingling sambil menggandeng Lingling mencoba menghalang-halangi tembakan Robert. Akhirnya ibunya Lingling dan Lingling yang kena tembakan dan mati. Stress karena melihat pacarnya mati, Nobuzuki harakiri. Sedangkan Robert juga stress karena salah tembak dan mencoba bunuh diri dengan menembak kepalanya. Tapi muncul Mariyem berusaha merebut pistol Robert, akibatnya justru Mariyem yang ketembak dan mati. Hendrick menyalahkan Robert karena menyebabkan Mariyem mati, akhirnya Hendrick menembak Robert sampe mati. Terakhir Hendrick bunuh diri. Jadi kan dramatis, tokohnya mati semua. Lha trus Soegija-nya kapan muncul? Soegija muncul terakhir, memimpin upacara pemakaman orang-orang itu. Nggak lupa muncul juga Pak Besut si penyiar radio, melaporkan berita dan diakhiri dengan kalimat "It was beauty killed the beast" - ala film King Kong.  Keren kan? Enggak ya.


Yang jelas gambar-gambarnya keren, dan setting suasana 40-annya sukses banget. Penulisan naskahnya juga pasti susah banget, karena dialog-dialog dibawakan dengan bahasa aslinya. Orang Jepang dialognya bahasa Jepang, yang orang Belanda pake bahasa Belanda. Jadi nggak kaya 'Ayat-Ayat Cinta', misalnya, ujug-ujug orang Mesir bisa bahasa Indonesia.Bahkan dialog-dialog berbahasa Jawa-nya di film ini juga menggunakan logat Semarang yang pas, menandakan film ini dibuat dengan sangat teliti. Soalnya film lainnya suka gitu tuh, mentang-mentang tokohnya Jawa, asal ngomongnya dimedok2in dikit udah merasa aman. Padahal walaupun sama-sama berbahasa Jawa, masing-masing daerah di Jawa Tengah dan Timur punya logat khasnya sendiri-sendiri. 

Terlepas dari nyaman atau enggaknya untuk ditonton, film ini bagus dan poin pentingnya: digarap secara sangat serius. Kita perlu lebih banyak film yang dibuat seserius ini.

===
Kunjungi juga posting aslinya di Mbot's HQ mbot.multiply.com

Thursday, June 14, 2012

[review] Kartu Motivasi bagi Para Dementor!


Masih inget tulisan gue tentang Dementor, orang yang kerjanya negatif melulu dan bikin lingkungan sekitar jadi ikutan depresi? Ternyata ada lho orang yang cukup gokil untuk bikin kartu motivasi bagi mereka!
Sekilas benda ini nampak seperti kartu-kartu motivasi biasa, yang isinya kutipan bijak dari orang terkenal. Tapi begitu dibaca satu per satu, baru ketahuan sintingnya. Berikut beberapa contoh "motivasi" di dalam kartu anti-motivasi ini:
anti-motivasi

anti-motivasi 2

anti-motivasi 3

Para penulisnya, menurut gue, kalo nggak sangat sinis, pasti sangat sebel sama orang-orang sini sampe kepikiran bikin kartu kayak gini. Konon kutipan-kutipan yang tercantum di sini adalah cuplikan dari sebuah buku. Jadi penasaran ingin baca kayak apa sih bukunya. Lumayan buat hiburan kalo bosen di kantor :-)
Kartu ini bisa dibeli di toko Aksara, di deretan yang berdekatan dengan kartu-kartu motivasi 'betulan'. Jadi hati-hati buat yang lagi nyari kartu motivasi betulan, jangan sampe salah beli! Harganya nggak tau, karena ini hadiah dari kakak gue. 

Judul asli: Today I Will Nourish My Inner Martyr
===
Kunjungi juga posting aslinya di Mbot's HQ mbot.multiply.com

Wednesday, June 13, 2012

[2012-012] Penemuan hari ini... kerjasama online shop dan artis

Malam ini baca-baca timelinenya @hijaubiru dan nemu twit ini:


hijaubiru


Jadi ternyata salah satu trik promosi yang umum dilakukan para OLS (online shop) adalah menawari seorang artis untuk memakai produknya secara gratis. Sebagai imbal baliknya, artis tersebut memposting foto dirinya lagi pake produk OLS tersebut disertai tulisan nama akun OLS-nya. Jadi sama-sama untung: OLS dapet promosi (dengan biaya relatif murah - cuma ngorbanin satu atau dua produk) sementara artisnya dapet baju gratis. Kan konon artis bajunya harus sering ganti. Kalo sama terus ntar dikira Batman. *apa sih.

Gue jadi merhatiin timeline salah satu artis FTV yang belum pernah gue denger namanya sebelumnya, penuh dengan respon dia terhadap para OLS. Para OLS mention dia dengan sebuah foto berisi beberapa alternatif produk, trus dia menjawab dengan retweet seperti ini:


@Artis: Black 39 ;) RT @OLS: @Artis mau sayang? Baru nih. Jelly shoes. 5cm heels. Only 300k -link gambar produk-

@Artis: Pink ;) RT @OLS: Po legging polka 4wrna coffee, pink, black, mustard cuma 56rb, mauu darl @Artis? -link gambar produk-

...dst.


Gue itungin, dalam kurun waktu 10 menit doang, si artis ini udah mengeluarkan reply-reply sejenis sebanyak 7 twit. Artinya ada 7 barang yang akan melayang ke alamatnya, gratis. Asik yak?

Sayangnya sampe detik ini belum ada OLS yang tertarik minta endorse ke seorang pegawai biasa-biasa aja kayak gue. Mungkin kalopun suatu hari gue nekad pasang twitpic pake baju baru dengan memajang nama akun OLS seperti ini:

mbot pake produk OLS


maka respon dari OLS terkait adalah:

@OLSxyz123: kepada sdr @mbot mohon segera menghapus twipicnya yang memuat akun kami, krn merugikan image kami. Tersedia imbal jasa tunai apabila bersedia. Tks.


Tapi pikir-pikir, gue kurang tertarik juga sih dapet baju gratis banyak-banyak. Kalo boleh milih, mendingan ngiklanin OLS sembako deh. Jadi nanti twit endorsement gue kayak gini:


@mbot: Rojo Lele 5 kilo RT @OLS: mau beras Rojo Lele, Pandan Wangi, Kepala, @mbot darling?

@mbot: kirimin minyak goreng dong. Bakal goreng risol kribo RT @OLS: gimana @mbot, sabun colek dan minyak goreng yang minggu lalu udah abis belom?

@mbot: air galonan dah. Gasnya masih RT @OLS: lagi butuh gas elpiji atau air galonan, @mbot sayang?


Dan setelah dikirimin sembakonya gue akan memposting twitpic:


mbot endorse


Ada nggak ya, OLS sembako yang tertarik?