Pages

Monday, June 18, 2012

[review] Soegija

Gue punya temen, yang tanpa ditanya sering bercerita kaya gini:
"Tau nggak,  tadi pagi pas mau berangkat ke kantor,  gue bangun pagi-pagi banget. Jam 5 udah bangun. Trus gue mandi, sarapan, abis itu bingung milih baju. Soalnya minggu lalu kan gue abis belanja, sale di Metro. Gue beli atasan dua, sama sepatu satu. Tapi baju barunya belum dicuci. Akhirnya gue pikir-pikir, pake baju yang lama aja deh, yang baru dicuci dulu. Terus gue berangkat. Eh nggak langsung ding, kan harus manasin mobil dulu. Abis itu baru berangkat. Belum sarapan tuh. Si mbak udah nyiapin roti, gue bawa aja, buat  dimakan di kantor. Tumben-tumbenan, jalanan macet banget lho. Padahal gue berangkat masih jam 6. Gue kira di tol ada kecelakaan atau apa, gitu. Taunya nggak ada apa-apa. Untung akhirnya gue berhasil sampe kantor sebelum jam 8."


Biasanya setelah dia cerita panjang lebar gitu, gue akan nanya, 


"Trus gimana?"


"Nggak ada. Ya cuma mau cerita aja pengalaman gue pagi ini. Emang nggak boleh?"

Ya boleh-boleh aja sik. Dan kurang lebih seperti itulah perasaan gue setelah nonton film Soegija.
Ringkasnya bisa dibilang film ini tentang Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ, uskup pribumi pertama di Indonesia. Tapi selain Soegija, juga ada (banyak) tokoh lainnya:
  • Lingling (Andrea Reva), bocah kecil yang tinggal bersama ibunya (Olga Lidya) dan kakeknya (Henky Solaiman). Mereka punya restoran. 
  • Mariyem (Annisa Hertami Kusumastuti), gadis yang sebenarnya bercita-cita jadi perawat tapi lebih sering bertugas nganter makanan dari restoran Lingling ke gereja. Mariyem adalah adik dari Maryono (Muhammad Abbe), seorang aktivis perjuangan.
  • Nobuzuki (Suzuki) tentara Jepang langganan restoran Lingling.
  • Suwito (Eko Balung) pemimpin grup musik gereja.
  • 2 orang Belanda yang bersahabat, Hendrick (Wouter Braaf) - wartawan foto, dan Robert (Wouter Zweers) - tentara.
  • Toegimin (Butet Kertaredjasa), asisten 'general affairs' alias ngurus segala macem keperluan Sogija mulai dari potong rambut sampe angkat barang.
  • Pak Besut (Margono), penyiar radio.
Tokoh sebanyak ini hilir mudik menghiasi film dengan permasalahannya masing-masing. Lingling terpisah dari ibunya yang diculik Jepang, Mariyem terpisah dari kakaknya yang ikut gerilya, Nobuzuki senang main ke restoran Lingling karena teringat anaknya yang seumuran Lingling, Hendrick PDKT melulu kepada Mariyem tapi sering dipahitin karena Mariyem kesel sama Belanda, Suwito gak bisa bebas latihan musik karena sering diganggu Jepang, Pak Besut juga nggak bisa bebas siaran karena mikrofonnya disita Belanda, sementara Robert sebenernya nggak tega lihat penderitaan rakyat tapi berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia cuma menjalankan tugas sebagai tentara.Akhirnya terasa nggak ada satu tema utama yang melatarbelakangi film ini. Tokoh-tokohnya nyaris punya porsi yang sama rata, sampe sosok Soegija-nya sendiri pun nggak terasa mendominasi cerita. Mungkin kalo judul film ini diganti jadi "PERJUANGAN INDONESIA MELAWAN PENJAJAH" rasanya masih cocok-cocok aja.

Tapi seperti pertanyaan temen gue tadi, "Emangnya nggak boleh, sebuah film dengan banyak cerita paralel kayak gini?" -  rasanya ya boleh-boleh aja. Walaupun ketiga orang temen yang nonton bareng film ini kompakan bilang film ini ngebosenin banget, bagi gue enggak kok. Memang awalnya sempet terbingung-bingung saat berusaha menebak yang mana cerita utamanya, gue berhasil nonton film ini utuh tanpa ketiduran. Padahal nonton Sherlock Holmes dan Haywire yang banyak berantemnya aja gue sempet ketiduran beberapa kali. Mungkin masalahnya ada di gue, yang udah terbiasa nonton film Hollywood dengan alur cerita tunggal dan gamblang, jadi nggak sreg saat nonton film dengan banyak cerita paralel kayak gini.Setelah filmnya jalan setengah, gue berhenti berusaha menebak arah cerita film dan menikmati aja suguhan adegan-adegan di dalamnya. Ternyata itu lebih mudah dan nyaman. Apalagi ini filmnya Garin Nugroho, yang sejak dulu terkenal doyan banget menyisipkan simbol-simbol tersamar dalam filmnya. Soal kemunculan tokoh Soegija yang nggak dominan di film ini, misalnya. Gue curiga ini memang disengaja oleh Garin untuk menggambarkan sosok asli Soegija yang lebih suka kerja diam-diam dan nggak suka menonjolkan diri. Untung juga sih, film ini disutradarai Garin Nugroho. Kalo Agung Nugroho yang bikin, mungkin ceritanya akan jadi gini:

Mariyem pacaran dengan Hendrick, tapi diem-diem Robert juga naksir sama Marsiyem. Akhirnya terjadi cinta segi tiga. Sementara itu Nobuzuki terlibat affair dengan ibunya Lingling. Sesudah Jepang kalah perang akibat dibom Amerika, Nobuzuki ngajak ibunya Lingling kawin lari ke Jepang. Saat mereka lagi beres-beres barang mau ngabur, datanglah Robert meminta Nobuzuki menyerahkan senjata. Nobuzuki menolak, Robert menembak, tapi di detik terakhir muncul ibunya Lingling sambil menggandeng Lingling mencoba menghalang-halangi tembakan Robert. Akhirnya ibunya Lingling dan Lingling yang kena tembakan dan mati. Stress karena melihat pacarnya mati, Nobuzuki harakiri. Sedangkan Robert juga stress karena salah tembak dan mencoba bunuh diri dengan menembak kepalanya. Tapi muncul Mariyem berusaha merebut pistol Robert, akibatnya justru Mariyem yang ketembak dan mati. Hendrick menyalahkan Robert karena menyebabkan Mariyem mati, akhirnya Hendrick menembak Robert sampe mati. Terakhir Hendrick bunuh diri. Jadi kan dramatis, tokohnya mati semua. Lha trus Soegija-nya kapan muncul? Soegija muncul terakhir, memimpin upacara pemakaman orang-orang itu. Nggak lupa muncul juga Pak Besut si penyiar radio, melaporkan berita dan diakhiri dengan kalimat "It was beauty killed the beast" - ala film King Kong.  Keren kan? Enggak ya.


Yang jelas gambar-gambarnya keren, dan setting suasana 40-annya sukses banget. Penulisan naskahnya juga pasti susah banget, karena dialog-dialog dibawakan dengan bahasa aslinya. Orang Jepang dialognya bahasa Jepang, yang orang Belanda pake bahasa Belanda. Jadi nggak kaya 'Ayat-Ayat Cinta', misalnya, ujug-ujug orang Mesir bisa bahasa Indonesia.Bahkan dialog-dialog berbahasa Jawa-nya di film ini juga menggunakan logat Semarang yang pas, menandakan film ini dibuat dengan sangat teliti. Soalnya film lainnya suka gitu tuh, mentang-mentang tokohnya Jawa, asal ngomongnya dimedok2in dikit udah merasa aman. Padahal walaupun sama-sama berbahasa Jawa, masing-masing daerah di Jawa Tengah dan Timur punya logat khasnya sendiri-sendiri. 

Terlepas dari nyaman atau enggaknya untuk ditonton, film ini bagus dan poin pentingnya: digarap secara sangat serius. Kita perlu lebih banyak film yang dibuat seserius ini.

===
Kunjungi juga posting aslinya di Mbot's HQ mbot.multiply.com

No comments:

Post a Comment