Pages

Sunday, July 22, 2012

[review] The Dark Knight Rises

Film yang mengambil setting 8 tahun sejak The Dark Knight ini menceritakan Batman yang udah mengundurkan diri dari urusan persuperheroan. Bukan cuma Batman-nya, tapi Bruce Wayne-nya juga menutup diri dari pergaulan. Gotham City damai tenteram sampe Komisaris Gordon bilang, "kalo keadaannya begini terus, lama-lama tugas polisi adalah nagihin buku yang telat dikembaliin dari perpustakaan."


Tapi kemudian muncullah Bane (Tom Hardy), penjahat super sadis yang kesadisannya dimunculin sejak awal film. Bane punya rencana besar untuk menghancurleburkan kota Gotham. Dan, menurut gue, di sinilah masalah buat gue, sebagai penonton, dimulai.

Maksud gue gini:

Setiap superhero punya musuh yang lebih kuat dari dia, itu udah jadi rumus baku. Misalnya, di film The Amazing Spider-Man: digambarkan kekuatan The Lizard lebih besar dari Spiderman. Badannya lebih gede, cakarnya maut, dan kalo tangannya putus bisa numbuh lagi. Pas Spider-Man berantem lawan The Lizard, penonton harap-harap cemas ingin tau gimana caranya Spiderman ngalahin musuhnya, karena di atas kertas The Lizard lebih unggul dari Spider-Man. Bayangin kalo The Lizard ini kurus kering, kena tonjok sekali pingsan, atau kalo kaget latah, penonton nggak akan tertarik nonton berlama-lama. Tapi sebaliknya, kalo The Lizard digambarkan segede Godzilla, tingginya 60 meter, kebal peluru dan bisa nyemburin api dari mulutnya, juga nggak akan seru. Selisih kekuatannya kejauhan, dan nggak banyak yang bisa dilakukan Spider-Man untuk ngelawan musuh sedahsyat itu. Kalopun menang, pasti berkat campur tangan pihak-pihak lain yang ngebantuin Spider-Man.

Dan itu adalah yang pertama kali terlintas di benak gue saat ngeliat skala kerusakan yang ditimbulkan oleh Bane.

Bane bikin kerusuhan yang melibatkan ribuan napi, banyak bom, teror, dan pada saat yang bersamaan juga memerangkap pasukan polisi sehingga nggak bisa bergerak. Kekacauan sebesar itu rasanya nggak mungkin diberesin sendirian oleh si Batman yang nggak punya kekuatan super - terlalu jomplang. Batman butuh banyak bantuan untuk mengatasinya. Artinya, peran Batman dalam menyelesaikan problem ini nggak akan terlalu besar. Terus, ngapain juga harus ada dia?

Andaikan ini bukan film Batman, melainkan film action biasa, mungkin gue nggak akan serewel ini. Ceritanya dibangun kuat, plotnya berlapis, dan menyediakan banyak kejutan. Tapi masalahnya ini film Batman, dan udah film ke tigas di tangan sutradara yang sama. Konsekuensinya
  1. Penggemar Batman ingin tokoh ini tampil heroik, kelihatan jagonya, sementara di film ini yang menonjol malah gotong royongnya. Nggak ketemu.
  2. Penggemar Batman yang apal dengan silsilah tokoh-tokoh di sekitar Batman akan dengan mudah menebak siapa identitas orang-orang baru yang bermunculan di film ini. Kejutannya akan mudah ketebak.
  3. Kalopun nggak terlalu kenal dengan tokoh-tokoh pendamping Batman, penonton film Batman versi Nolan sejak awal pasti apal dengan kebiasaannya menyajikan tokoh-tokoh penuh pengkhianatan. Tokoh yang kelihatan terlalu baik di awal film, pasti belakangan akan ketahuan belangnya. Eh di film ini pola yang sama juga diulang lagi. Ini juga merusak kejutan yang coba dibangun oleh film ini.
Tiga konsekuensi tadi, bagi gue, bikin film selama nyaris 3 jam ini ngebosenin banget. Maksud gue: woy, gue ingin nonton Batman si superhero, kenapa yang nongol aki-aki pasien radang sendi gini? Nggak asik banget. Dan si Bane: rasanya nggak cukup kuat penjelasan mengapa dia harus pake topeng aneh itu. Mana topeng itu bikin suaranya jadi nggak jelas kayak orang ngomong sambil ngemut pel. Kayaknya Nolan mencoba mengemas Bane sebagai sosok penjahat yang jauh lebih serem dan berbahaya daripada The Joker, tapi nggak terlalu berhasil deh. Masih lebih ajaib The Joker, yang ngomong biasa aja bikin penonton mikir 'ni orang freak mampus'. Catwomannya lumayan. Anne Hathaway dengan image gadis lugunya ternyata cukup berhasil berubah jadi cewek sexy yang berbahaya. Keren, lah.   

Tapi tetep aja sih: pas keluar bioskop gue masih terkenang-kenang betapa serunya film The Amazing Spider-Man...
===
Kunjungi juga tulisan ini di Mbot's HQ mbot.multiply.com

Saturday, July 14, 2012

[2012-031] Yuk Bantuin Kaum Difabel dengan Beli Kaos Ini!

DARE Foundation adalah organisasi nirlaba untuk membantu kaum difabel fisik mendapatkan pelayanan rehabilitasi medis dan menyediakan alat prostetik dan ortotik. Istilahanya ngeri? Ini juga gue baru googling, dan intinya sih yayasan ini membantu orang-orang yang kehilangan tangan / kaki dengan cara memberikan tangan / kaki palsu secara gratis. Gue tau tentang DARE Foundation ini dari Dayana, salah satu penghuni lama MP, jadi insya Allah bukan hoax atau aksi tipu-tipu.

Kalian juga bisa membantu gerakan ini dengan cara membeli kaos bertuliskan I DARE to help the difables seharga Rp. 150.000 saja.

desain kaos

Caranya cukup dengan mentransfer uangnya ke salah satu rekening berikut:

BCA 037 2462 947 an Dayana Lady

Mandiri 137 00 0648 576 3 an Dayana Lady

dan tuliskan "DARE"/size kaos yg diingini di kolom berita.

Ukuran kaosnya sebagai berikut:

ukuran kaos

Selain dengan cara beli kaos, hanya dengan dengan menyumbangkan Rp. 500.000 (lebih murah dari harga sepasang sendal Crocs) kalian sudah membantu 1 orang difabel memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Kalo mau tanya-tanya lebih lanjut tentang DARE Foundation, silakan mampir di posting Dayana yang ini, atau kunjungi website resmi DARE Foundation di www.darefoundation.or.id. atau follow twitternya di @DARE_Foundation atau like FB pagenya DARE-Foundation

Cuma beli kaos doang pastinya bisa dong... Yuk, bantuin!

Wednesday, July 11, 2012

[2012-030] Kiat Elegan Pamer Colongan di Social Media

Harus diakui: kadang hidup ini berjalan terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Sesudah sekian lama lu eneg ngerasain hidup ngebelangsak sementara orang-orang kayaknya pada bahagia amat, akhirnya datang kesempatan untuk nunjukin lu juga OK. Udah bukan jamannya lagi curcol (curhat colongan), sekaranglah waktunya pamcol (pamer colongan).

Tapi... gimana caranya?

Tenang. Buat apa ada social media? Inilah kegunaan utama twitter, facebook, dan blog: agar lu bisa pamcol secara nyaman dan efisien. Nyaman karena bisa dilakukan di mana aja, efisien karena sekali pamcol yang tahu bisa seluruh dunia. Jauh lebih efektif daripada pamcol di ajang arisan atau pas ngerumpi setelah makan siang.

Yang perlu diwaspadai adalah kemasannya, agar jangan sampe kentara banget bahwa lu lagi pamcol. Lu harus mengemas pamcol secara cantik, agar citra lu tetap elegan. Beginilah beberapa triknya:


1. Nanya

Trik: membungkus subyek pamer lu dalam sebuah pertanyaan, sambil tetap memastikan para pembaca menangkap pesan di baliknya.

Contoh:

"Tweeps, kalo mobil Eropa di atas 3.000 cc tuh ganti olinya harus berapa sering sih?"

Nggak ada mobil Eropa di atas 3.000 cc yang harganya di bawah 200 juta. Orang akan tahu siapa elu.


2. Berdoa

Trik: Berdoa itu ibadah, hanya orang kafir yang marahin orang lagi berdoa. Maka, kemaslah pamcol dalam doa.

Contoh:

"Ya Tuhan, semoga kami sekeluarga sehat menjalani liburan ini, karena denger-denger di sana suhunya minus 4 derajat."

Orang akan tahu, tempat liburan lu bukan tempat sembarangan. Nggak mungkin ke Parangtritis.


3. Bersyukur

Trik: memang kalo lagi senang jangan lupa bersyukur, tapi apa asiknya bersyukur sendirian? Pake social media dong.

Contoh:

"Alhamdulillah, sekarang anak-anak bisa leluasa main di halaman."

Pesannya jelas, rumah lu bukan di gang lagi.


4. Ngomel cantik

Trik: mengemas pamcol dalam nada teguran atau omelan ringan, seolah-olah bagian dari komunikasi sehari-hari.

Contoh:

"Duh dasar si Papa nih aneh-aneh aja. Masa bawa oleh-oleh kalung Tiffany's sampe 5 biji gini. Kapan makenya, coba?

Si Papa emang dodol, bawanya tanggung amat cuma 5. Selusin dong.


5. Mengeluh

Trik: jangan salah, mengeluh juga bisa dijadikan kemasan pamcol. Yang penting kejelian mengemas subyek keluhannya.

Contoh:

"Capek banget hari ini, abis geser-geser perabot ruang tengah biar ada tempat buat TV."

Ini TV-nya nggak mungkin 14", yang ditangkringin di atas kulkas juga bisa.


6. Mengagumi Alam

Trik: apa hubungannya alam dengan pamcol, lu tanya? Erat, lagi-lagi tergantung sudut pandang dan jangan lupa: foto.

Contoh:

"Pas mau pulang kantor, menikmati dulu sunset yang keren ini." -> disertai foto sunset yang diambil dari dalam ruang kantor.

Catatan: 1. nggak ada kroco yang ngantor dapet ruangan, apalagi ruangan deket jendela. 2. Pastikan pemotretan jangan terlalu mepet dengan jendela, agar interior kantor ikut masuk dalam foto.

Nah, gimana, mudah dan nyaman kan pamcol lewat social media? Selamat mencoba!

Gambar dipinjem dari sini

Sunday, July 08, 2012

[2012-029] Unsolved Mystery: Benarkah Cerita Film Click Jiplakan Legenda Asia?

Tahun 80-an dulu, majalah Kawanku adalah majalah anak-anak dengan misi pendidikan. Isinya antara lain biografi tokoh terkenal, dongeng dari manca negara, dan komik si Tomat. Nggak ada artikel semacam "The Art of Flirting" kayak gini:

kawanku jaman sekarang

Salah satu dongeng yang gue inget sampe sekarang adalah dongeng dari sebuah negara Asia (gue lupa antara Cina, Jepang, atau Korea) yang kurang lebih ceritanya begini:

Ada seorang anak muda yang cerdas, sayangnya agak malas. Menjelang ujian sekolah, bukannya belajar dia malah keluyuran di hutan. Dia berkhayal andaikan dia bisa skip ujian itu tanpa repot-repot belajar. Tiba-tiba dia ketemu dengan seorang kakek misterius. Kakek ini ngasih sebuah gulungan benang berwarna putih. Kakek itu bilang, gulungan benang ini adalah benda ajaib yang bisa mempercepat waktu. Setiap kali kita menghadapi hal yang kurang menyenangkan, tinggal tarik sedikit benangnya maka hal itu akan berlalu di belakang kita.

Anak muda itu mencoba gulungan benang pemberian si kakek, dan bener aja, tiba-tiba dia udah melewati ujian tanpa harus belajar. Sesudah itu si anak muda jadi kebiasaan, setiap kali ada hal yang males dia hadapi, dia tarik benang. Lama - kelamaan dia mendapati dirinya udah tua bangka, dan hidupnya berlalu begitu aja tanpa kesan.


Tahun 2006, Adam Sandler merilis sebuah film berjudul Click. Ceritanya kurang lebih kayak gini:

Michael Newman (Adam Sandler) adalah seorang arsitek yang cukup sukses. Saking sibuknya kerja, dia jadi sering cekcok sama istrinya yang merasa kurang diperhatiin. Suatu malam, dia nyasar di sebuah toko besar dan ketemu Morty (Christopher Walken). Morty ngasih sebuah remote control ajaib yang bisa mengontrol waktu.

Sejak punya benda itu, Michael jadi kebiasaan mempercepat waktu. Tiap kali mau berantem sama istrinya, dia teken fast forward dan tiba-tiba aja masalah itu udah lewat. Karena keseringan mempercepat waktu, tiba-tiba Michael mendapati dirinya udah tua dan hidupnya berlalu begitu aja tanpa kesan.


Nah, kedua cerita itu mirip banget kan? Rasanya terlalu mirip untuk sekedar kebetulan. Bedanya cuma di benda ajaibnya doang, yang satu benang, satunya remote control.

Setelah film Click beredar, gue mencoba menelusuri berita terkait film itu, berharap Adam Sandler mengakui bahwa filmnya 'terinspirasi' sebuah legenda kuno. Tapi sampe sekarang, gue belum nemu artikel yang membahas itu. Akhirnya gue jadi ragu sendiri, jangan-jangan gue yang salah inget detil cerita yang di majalah Kawanku dulu itu. Yang bikin gue ragu adalah: film ini udah ditonton jutaan orang dari berbagai negara, pastinya. Kalo memang bener ceritanya mirip dengan legenda di suatu negara, masa nggak ada sih penonton dari negara tersebut yang berkomentar? Yang jelas, dari ratusan komentar penonton film Click di situs IMDB.com, gue belum nemu yang memiripkan ceritanya dengan legenda manapun.

Pertanyaannya, ada nggak sih di antara kalian yang pernah baca cerita yang gue maksud di majalah Kawanku, atau minimal pernah denger dongeng yang mirip cerita film Click ini? Kalo iya, judulnya apa dan berasal dari negara mana?

[review] Brave

Film yang mengambil setting di Skotlandia jaman dulu kala ini menokohkan Merida, seorang putri raja yang tomboy. Berlawanan dengan keinginan ibunya agar tampil anggun dan feminin, Merida senang keluyuran naik kuda ke hutan sambil latihan memanah. Suatu hari, datang utusan dari 3 klan yang siap adu ketangkasan. Pemenangnya akan berhak menyunting Merida. Dasar tomboy, Merida menentang habis-habisan rencana ini. Sebaliknya, ibunya berkeras memaksa Merida mengikuti permainan, demi stabilitas politik dengan ketiga klan tersebut. Merasa putus asa karena nggak didengar, Merida kabur ke hutan. Di sana dia kenalan dengan seorang nenek sihir, yang kemudian ngasih sebuah kue yang dijanjikan dapat mengubah ibunya.
Sepulang dari hutan, Merida menyuguhkan kue ini kepada ibunya. Harapannya agar sang ibu mau mengubah niatnya menyuruh kawin. Ternyata memang bener ibunya berubah, tapi ke arah yang sama sekali nggak disangka-sangka. Repotnya, sihir itu hanya punya waktu 2 hari untuk dibatalkan. Kalo dalam 2 hari belum batal, efeknya akan permanen. Sisa filmnya lantas bercerita tentang petualangan Merida dan ibunya mencari jalan membatalkan kutukan tersebut, sambil berproses untuk saling mengerti dan saling menghargai pendapat.
Film buatan Pixar biasanya punya cerita yang unik dan belum pernah ada. Monsters Inc., misalnya, menyodorkan teori bahwa ternyata monster dalam lemari itu hanya sekumpulan pegawai yang dikejar target ngumpulin energi listrik. The Incredibles, memotret sisi konyol super hero pensiunan. Atau yang paling legendaris, trilogi Toy Story, tentang mainan yang punya pikiran dan perasaan. Sayangnya, keunikan itu nggak gue temukan di film Brave ini. Ceritanya sekilas mirip dengan The Emperor's New Groove atau Brother Bear.
Bukan berarti film ini jelek ya. Penuturan ceritanya mudah diikuti bahkan oleh bocah seumur Rafi, gambarnya keren, karakternya hidup, dan ada banyak adegan seru. Tapi ngeliat pesan utamanya yang rada usang (perbedaan pendapat bisa diatasi selama mau berusaha saling mengerti) dan penyelesaian konflik lewat pidato di depan orang banyak, rasanya bukan kelasnya Pixar. Mudah-mudahan film berikutnya bisa lebih baik dari ini.

Saturday, July 07, 2012

[2012-027] Panduan Menghadiri Resepsi Pernikahan bagi Orang Tolol (baca: for dummies)


Siapa yang baru-baru ini menghadiri resepsi pernikahan? Gimana, ketemu orang-orang aneh di sana? Yak, sesudah 67 tahun merdeka dan ada 55 juta orang melek internet di negara ini, sangat memprihatinkan melihat masih banyaknya orang salah tingkah di resepsi pernikahan. Yang gue maksud adalah dalam arti sebenarnya, yaitu bertingkah yang salah.
Daripada sebatas prihatin doang tanpa solusi, gue akan mencoba memberikan panduan dasar mengenai adab yang baik dan mudah-mudahan benar, minimal aman, saat mengunjungi sebuah resepsi pernikahan.

Memilih busana
  1. Untuk cewek-cewek yang mau pake strapless bra, 3 kata yang penting lu ingat: UKURAN YANG TEPAT. Jangan sampe lu lagi ngantri salaman dengan anggunnya, trus tiba-tiba orang di belakang lu colek-colek, "Mmm... mbak, sori, itu... ITUNYA jatuh..."
  2. Kepantasan busana itu sifatnya normatif. Jadi kalo lu mau pake gaun malam backless ke resepsi siang, silakan aja. Orang pada mendelik ngeliatin elu? Biarin aja, itu masalah mereka. Itu baru akan jadi masalah lu kalo elu yang jadi jengah karena diliatin semua orang.
  3. Dan akan jadi masalah bagi mempelai bila lu lantas berusaha menutup bagian-bagian terbuka dari busana lu menggunakan tanam-tanaman dekorasi.

Mengisi buku tamu dan kotak amplop
  1. Tujuan disediakannya buku tamu adalah untuk membantu keluarga mengingat siapa aja tamu yang datang. Jadi kalo lu isi dengan "Hamba Allah" itu sama sekali nggak ngebantu.
  2. Di beberapa resepsi, amplop dari tamu diberi nomor urut sesuai isian di buku tamu. Tujuannya agar keluarga bisa tahu berapa sumbangan yang diberikan masing-masing tamu, dan bisa membalas dengan pantas di kesempatan yang akan datang. Kalo minder dengan isi amplop lu, dapat mengalihkan perhatian penerima tamu dengan "Hei lihat, ada apaan tuh!" lalu buru-buru memasukkan amplop ke kotak sebelum sempat dinomori.
  3. Atau tulis aja "Hamba Allah" di buku tamu.
  4. Bagi yang punya nama pasaran, harap tahu diri. Beri sedikit keterangan tambahan tentang diri lu. Mengisi buku tamu dengan "Budi - Jakarta" itu hampir sama kaburnya dengan ngisi "Hamba Allah".

Bersalaman dan foto bersama mempelai
  1. Perlu diketahui bahwa foto-foto pre-wedding yang dipajang di arena pesta adalah hasil kerja keras fotografernya, baik secara fotografi maupun secara photoshop, untuk menampilkan sisi terbaik para mempelai. Bersalaman sambil ngomong "ih, aslinya BEDA BANGET ya sama foto pre-weddingnya" adalah tidak perlu dan tidak sopan.
  2. Kalo tamu pestanya sampe ribuan, ada kalanya mempelai menderita mabok tamu dan nampak pangling sama elu. Terimalah hal ini sebagai peristiwa yang wajar dan manusiawi. Nggak usah "Hei! Ini gue, Budi Susanto! Temen waktu SMA dulu! Pangling ya sama gue Pangling? Sombong ih! Inget nggak waktu..." Nyet, di belakang masih banyak yang ngantri.
  3. Ucapan 'selamat ya!' sudah cukup. Nggak usah ditambah dengan pertanyaan spekulatif seperti 'Oh akhirnya lu milih yang INI toh...?'
  4. Yang pake baju item dan mondar-mandir nenteng kamera video segede gaban itu biasanya petugas dokumentasi. Nggak perlu lu salamin juga.
  5. Saat foto bersama adalah saatnya lu menentukan pilihan: ingin di sebelah mempelai pria, ATAU di sebelah mempelai wanita. Nggak bisa dua-duanya, sebab artinya lu akan ada di tengah. Kecuali umur lu 10 tahun, posisi ini akan aneh. Dan ganggu.
  6. Berikan pose terbaik, dan biarkan fotografer bekerja. Nggak perlu buru-buru minta lihat kameranya, apalagi minta foto ulang karena merasa diri jelek di foto tersebut. Kamera itu alat buatan manusia, kemampuannya ada batasnya. Kalo udah difoto 20 kali masih jelek juga, jangan-jangan problemnya bukan di kamera maupun fotografernya...


Antri makanan
  1. Makanan disediakan sebagai penghargaan yang punya hajat atas kehadiran lu. Nggak perlu berusaha mengimpaskan pengeluaran duit amplopan dengan cara mengganyang makanan sebanyak-banyaknya, termasuk 'take away' hidangan menggunakan plastik kresek.
  2. Apalagi rantang susun.
  3. Keikhlasan sebagai tamu diuji saat ternyata hidangannya ternyata kurang enak. Terima saja dengan besar hati. Nggak perlu komplen ke mempelai, apalagi minta amplop dibalikin sama penerima tamu.
  4. Efisien itu baik, tapi kalo lu berkeliaran di pesta dengan bawa piring berisi nasi, lauk, sayur, zuppa soup, mi kocok, buah potong, pudding dan es puter sekaligus, lu akan nampak menyedihkan.
  5. Di gubuk makanan biasanya disediakan petugas. Untuk membantu mempercepat proses distribusi makanan, bukan untuk melayani permintaan modifikasi seperti "Bang, mi kocoknya satu, rebus minya lamaan dikit biar empuk, tetelannya banyakin, saos dikit aja tapi sambel banyak, nggak usah pake daun bawang." Kebiasaan ngantri bakso di Blok S harap jangan dibawa ke resepsi.
  6. Keakraban dengan teman seyogyanya dipupuk secara kontinu, bukan secara dadakan hanya karena ngeliat dia di posisi paling depan pas ngantri kambing guling.
  7. Di dekat panci sup biasanya ada sebuah piring kosong. Itu adalah tempat untuk naro centong sup. Setelah lu ngambil, taro lagi centongnya di piring itu, jangan lu cemplungin ke panci. Nyusahin orang.
  8. Sebaliknya, kadang elu yang apes nemuin centong sup tenggelam dalam panci. Dalam situasi seperti itu, "Nggak papa, nggak panas kok" bukanlah jawaban yang tepat kepada orang yang mempertanyakan aksi lu mengambil centong tersebut menggunakan tangan kosong. Poinnya bukan di 'panas', Pret..

Menyanyi
  1. Kalau MC bilang "bagi hadirin yang ingin menyumbangkan lagu, kami persilakan" itu adalah tawaran - bukan tantangan. Nggak perlu panas dan merasa harus membuktikan kemampuan olah vokal. Terutama kalo bukti yang mendukung eksistensi kemampuan lu memang masih sangat terbatas.
  2. Yang dimaksud dengan 'menyumbangkan lagu' adalah memberikan sumbangan, berupa lagu. Bukan membuat lagu menjadi sumbang.
  3. Sesuaikan lagu yang akan lu sumbangkan dengan yang dibawakan band selama resepsi. Kalau selama resepsi band memainkan lagu-lagu jazz, misalnya, kemungkinan lagu-lagu jenis itulah yang ingin didengar mempelai di pestanya. Nggak perlu ngotot nyumbang lagu 'Iwak Peyek'.
  4. Volume TIDAK dapat mengkompensasi akurasi nada. Artinya, kalo udah tau fals, jangan tambah kenceng nyanyinya.
  5. Lazimnya orang menyanyi sambil membawa mic, ada juga yang sambil bawa alat musik. Bukan piring nasi.
  6. Kalau hidangan didominiasi menu-menu masakan Padang, khususnya dendeng balado, ada baiknya ngaca dulu sebelum naik panggung. Hadirin akan sulit menghayati syahdunya sebuah lagu saat melihat ada selembar cabe di gigi penyanyinya.
  7. Ada alasan khusus mengapa penyanyi seperti Whitney Houston dibayar mahal, yaitu karena kemampuan vokalnya di atas rata-rata. Kalau kemampuan vokal lu di kutub yang berseberangan dengan Whitney Houston, hindari menyanyikan lagu-lagunya, seperti 'I Will Always Love You', misalnya. Akan sangat mendebarkan bagi hadirin, terutama menjelang bagian "And I..." di akhir lagu.
  8. Penghayatan lagu itu baik, tapi jangan sampai nangis. Apalagi nangisnya sambil ngelihat ke arah mempelai. Lagunya 'Tenda Biru' pula. Orang akan bertanya-tanya.
Foto: kawinan rusuh 3 Juli 2005

Friday, July 06, 2012

[2012-026] Hantu macam apa itu?

Salah satu kesepakatan nggak tertulis di dunia twitter adalah: saat seseorang mentwitkan kesialannya, para followernya boleh ikutan 'ngetawain' lewat mention - tentunya dalam konteks bercanda. Sebagai sopan santun, orang yang diketawain akan meretweet mention yang dianggapnya menarik disertai komentar. Kalo diperhatiin, jurus ini yang sering dipake oleh selebtwit @poconggg: dia curhat tentang kejombloan dan kebelumlulusannya dari kuliah, trus nanti para followernya akan mem-bully dengan komentar yang lucu-lucu.

Malam ini, Pak Dokter Ferdiriva Hamzah penulis buku Cado-Cado 'mengeluh' bahwa dia lagi nginep di Hotel Majapahit Surabaya yang terkenal angker. Kontan bermunculanlah mention aneh-aneh yang malah nakut-nakutin dia dengan segala cerita horor yang konon pernah terjadi di sana. Salah satunya mengirimkan link ke sebuah blog berisi kumpulan legenda hantu Hotel Majapahit. Pas gue buka, di situ ada cerita tentang hantu anak kecil Belanda di lobby, suara cewek nangis, dan sebagainya. Rata-rata standar perhantuan, lah.

Tapi ada satu yang menarik perhatian gue:


Sebentar...

Hantu...
...mirip...
...permen?

Setengah mati gue berusaha ngebayangin kayak apa bentuk hantunya. Hantu apaan yang bentuknya mirip permen?

Kalo denger cerita orang tentang hantu, biasanya suka dibumbui dengan keterangan bahwa si korban nggak langsung sadar sedang berhadapan dengan hantu, karena dikira benda lain.

"...tadinya gue kira guling, pas mau gue peluk ternyata...pocong!"

atau sejenis.

Tapi kalo hantunya mirip permen, gimana coba?

"...tadinya gue kira permen, pas mau gue emut ternyata... hantu!"

Rasanya rada kurang pas seremnya, ya?

Tapi setelah melalui proses perenungan yang cukup dalam, akhirnya gue berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan hantu mirip permen itu mungkin bentuknya kayak gini kali ya...


...


...


...


...


...


...


[2012-025] 4 Layanan yang Seharusnya Ada di Rumah Sakit Bersalin Elit

Beberapa minggu (atau bulan, ya? - mulai sering kehilangan orientasi waktu gini) yang lalu gue jenguk seorang teman melahirkan. Setelah pertanyaan standar seperti berat dan panjang bayi berapa, lahir normal atau cesar, dan ASI keluar atau enggak, topik obrolan beralih ke mahalnya biaya melahirkan di rumah sakit. Sebuah rumah sakit terkenal memasang tarif persalinan normal menginap 3 hari 2 malam sebesar 25 (yak betul, DUA PULUH LIMA) JUTA. Kalo pake operasi, tambah 15 juta lagi alias jadi 40 (EMPAT PULUH) JUTA. Masih kurang nendang? Lu juga bisa melahirkan di kamar Super VIP dengan biaya tembus 3 digit alias 100 (SERATUS) JUTA seperti ibu seleb yang satu ini. Hu to the An to the Jret!

Gue mikir, kira-kira layanan macam apa sih yang disediakan sampe 'tega' pasang tarif setinggi itu? Kamar luas? Makanan dimasak oleh chef? Hotel bintang 5 di Jakarta, rate per malamnya kira-kira 5 jutaan. Nginep 3 hari 2 malam kan cuma 10 juta. OK deh, kali ibunya betah, jadi nambah semalem lagi. Cuma abis 15 juta. Trus yang 85 juta buat bayar apanya ya?

Kalo menurut gue, rumah sakit bersalin boleh-boleh aja pasang tarif mahal asalkan mereka sanggup ngasih fasilitas kayak gini:

1. Guest Relationship Officer

Udah jadi kesepakatan umum bahwa pasien kelas VIP atau lebih tinggi boleh dijenguk kapan aja tanpa dibatasi jam kunjungan. Akhirnya tamu datang di jam yang sesuai dengan kenyamanan udel mereka masing-masing. Kalopun dicegat satpam, biasanya beralasan, "Saya udah ditunggu, saya ini tamu dari luar kota." Padahal dia belum tentu ditunggu, dan udah pasti bukan dari luar kota.

Guest Relationship Officer solusinya.

Para ibu melahirkan nggak perlu buang-buang energi untuk menyambut tamu, karena begitu tamu dateng, mereka akan disambut seorang mbak-mbak dengan sapaan kurang lebih:

"Selamat datang di kamar bersalin Ibu Yanti! Mohon maaf sekali, Ibu Yanti belum dapat menemui Anda. Sambil menunggu, silakan membaca brosur ini. Di dalamnya ada informasi tentang berbagai pertanyaan standar yang biasanya Anda tanyakan, seperti berapa berat dan panjang bayi, kapan pecah ketuban, bayi mirip siapa, dan sebagainya. Kalau masih kurang jelas, silakan tanyakan kepada saya!"

2. Drama Reka Ulang

Kadang beberapa tamu ingin informasi yang jauh lebih detil ketimbang data bayi. Mereka ingin tau seperti apa suasana di kamar bersalin, bayinya langsung nangis atau enggak, dan sejenisnya. Untuk menjawabnya, rumah sakit bersalin super VIP harus menyediakan fasilitas drama reka ulang. Jadi begitu para tamu berdatangan, mereka langsung disuguhi tontonan drama reka ulang proses kelahiran, diperankan oleh model profesional. Dengan tambahan sejumlah biaya, drama dapat dikemas dalam bentuk drama musikal, dengan iringan musik orkestra pimpinan Addie MS. Tentunya agar terkesan lebih elegan, drama reka ulang akan dinarasikan oleh Maria Oentoe, ala bioskop 21: "Bukaan 10 telaKH terjadi... Para penonton agar bersiap menyaKHsiKHAN KHElahiran bayi, sebentar lagi..."

3. Gift Advisor

Kadang orang suka kurang kreatif milih kado untuk ibu melahirkan. Setelah rombongan tamu datang, rata-rata ibu melahirkan akan punya 12 tas bayi, 24 alat makan bayi, dan 31 mainan gigit-gigitan bayi. Tentunya hal ini akan kurang berkesan dan mubazir, apalagi bagi para pasien super VIP yang pada dasarnya udah punya segalanya. Untuk mengatasi hal tersebut, setiap tamu yang datang akan disambut oleh Gift Advisor:

"Selamat datang, saya lihat Anda membawa kado untuk Ibu Yanti, ya? Boleh saya buka? Yak... sayang sekali, sampai tadi siang sudah ada 5 tamu yang ngasih kado tas bayi. Dan kebetulan semuanya bermerk, tidak seperti kado Anda ini. Jadi, saran saya, lebih baik kado ini Anda bawa pulang lagi, dan ganti dengan kado lain yang lebih kreatif. Di lobby ada toko peralatan bayi, tapi kalau Anda tidak ingin repot, Anda bisa juga membeli langsung dari saya. Menerima pembayaran tunai, debit, maupun credit card."

4. Stunt Baby

Kadang para tamu suka nggak tau diri ya, abis ngupil, garuk-garuk pantat, atau ngorek-ngorek sampah, belum cuci tangan, udah mau gemes-gemes bayi. Ini kan berbahaya bagi kesehatan bayi. Untuk itu, rumah sakit dengan layanan super VIP menyediakan Stunt Baby alias bayi pengganti. Jadi bayi asli yang baru lahir disembunyikan di ruang yang aman dan steril, sementara untuk menyambut tamu disediakan bayi pengganti. Toh bayi kan tampangnya sama semua. Walaupun bayi yang dipajang bukan bayi yang asli, pasti akan ada pengunjung yang berkomentar, "Wah, hidungnya mirip bapaknya yaaa..." atau "Matanya itu lho, mata ibunya banget!"

.Gimana, para rumah sakit bersalin elit, ada yang sanggup menyediakan 4 layanan ini?

Thursday, July 05, 2012

[review] The Amazing Spider-Man

Gue sebenernya rada pesimis dengan reboot film Spider-Man ini, karena:
  • kostumnya nampak terlalu sederhana, nggak glossy kayak kostumnya Tobey Maguire. Lambang laba-laba di punggungnya juga nampak terlalu kurus, nyaris nggak kelihatan.
  • trailer terakhir yang dirilis berdurasi 6 menit. Ini pertanda apa kalo bukan kurang pede takut filmnya nggak laku?
  • tongkrongan Andrew Garfield nampak kurang nerd, kalo dibandingin dengan kadar ke-nerd-annya Tobey. Padahal Peter Parker seharusnya super nerd.
  • setelah Spider-Man 3 menampilkan Venom, musuh terbesarnya, seharusnya film selanjutnya menampilkan musuh yang lebih sangar lagi. Carnage, misalnya. Masa The Lizard?
Tapi ternyata film ini mampu melewati semua ekspektasi gue.
Walaupun nggak mirip sama versi Tobey Maguire, Peter Parker versi Andrew Garfield ini ternyata juga nerd abis. Pasti kalian juga punya temen sekolah model gini:  jarang ngomong, nggak punya temen, nggak ada yang tau kegiatannya di luar sekolah ngapain, tapi pinter. Yang sering jadi korban bullying, tapi sekalinya ngamuk nakutin. Di tangan Andrew Garfield, Peter Parker jadi sosok yang jauh lebih gelap dan kompleks. Bener-bener keputusan yang tepat untuk menunjuk dia berperan sebagai Peter Parker, apalagi mengingat nama Taylor Lautner, si pemeran Twilinght bermuka datar itu, sempet dipertimbangkan juga. Fiuh, untung nggak jadi. Interpretasi Tobey dulu sih nggak keliru juga. Dia cukup nerd, tapi ke arah yang sama sekali beda. Maunya mungkin nerd yang sensitif, tapi jatuhnya malah jadi cengeng. Gue sampe nyesel pernah ngasih 4 bintang untuk Spider-Man 3 yang pernah gue tulis di sini.

Film dibuka dengan masa kecil Peter Parker bersama orangtua yang masih lengkap, Richard dan Mary Parker. Suatu malam, terjadi sesuatu yang bikin Richard memutuskan untuk menitipkan Peter ke rumah saudaranya, Ben (Martin Sheen) dan May (Sally Field). Sejak itu orangtua Peter menghilang.
Cerita loncat ke masa Peter udah SMA. Dalam sebuah acara beres-beres rumah, dia nemuin sebuah tas kerja milik bapaknya. Di dalamnya ada beberapa petunjuk samar tentang pekerjaan bapaknya di OsCorp. Karena penasaran, Peter berhasil menyelundup masuk ke perusahaan itu dan berkenalan dengan Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), mantan temen kerja bapaknya. Dr. Connor yang tangannya putus satu ini lagi mempelajari kemungkinan pencangkokan sel hewan ke manusia. Obyek penelitiannya adalah kadal, karena binatang ini bisa menumbuhkan ekornya yang putus. Dia berharap kalo penelitiannya berhasil, tangannya bisa ditumbuhin lagi. Selain itu di beberapa adegan juga ada petunjuk bahwa hasil penelitian Dr. Connors sangat ditunggu-tunggu oleh Norman Osborn, pemilik OsCorp, karena si Norman ini lagi mengidap suatu penyakit yang harapan sembuhnya cuma dari penelitian Dr. Connors doang. Penelitian Dr. Connors hampir rampung, cuma belum nemu orang yang mau dijadiin kelinci percobaan untuk serumnya. Tentunya dari sini kalian udah bisa nebak ke arah mana cerita berkembang.

Di film ini, pacar Peter Parker bukan Mary Jane tapi Gwen Stacy (Emma Stone). Ini lebih mendekati alur cerita di komiknya, di mana Peter lebih dulu kenal Gwen, temen sekolahnya, ketimbang Mary Jane yang baru dikenalnya setelah kerja. Beda dengan di filmnya Sam Raimi, digambarkan MJ itu tetangga sekaligus temen sekolah Peter. Waktu nonton trailernya, gue rasanya kurang sreg dengan Emma Stone sebagai Gwen Stacy ini. Rasanya kurang 'menggemaskan', gitu. Tapi setelah ditonton di filmnya, ternyata dia tipe orang yang semakin lama didengerin ngomong semakin keliatan cantik*. Yang jelas, karakternya jauh lebih tangguh daripada MJ versi Kirsten Dunst yang kerjanya jerit-jerit minta diselamatkan dan ujan-ujanan nggak pake bra.

Secara keseluruhan, perbandingan film "The Amazing Spider-Man" terhadap "Spider-Man 3" itu seperti "Batman Begins" terhadap "Batman & Robin". Film ini mengubah sebuah kemasan yang tadinya glossy dan warna-warni jadi lebih gelap dan keras. Sejak awal film, musik latarnya lebih mirip film thriller ketimbang film komik. Cara pengambilan gambarnya juga beda banget. Kalo dulu digambarkan Spider-Man bisa berayun dari gedung ke gedung dengan mulusnya, sekarang dia masih nampak 'gaptek' dengan kekuatannya, masih suka nabrak-nabrak gedung, kepleset, dan salah sasaran waktu nembakin jaring. Kamera seolah-olah ditempatkan 30 cm di belakang punggung Spider-Man dan penonton diajak ikut berayun, nabrak-nabrak, dan terguling-guling. Hebatnya, Marc Webb sang sutradara sebisa mungkin menekan penggunaan animasi komputer untuk adegan action-nya. Menurut dia, adegan action akan lebih seru kalo diperankan langsung. Hebat juga dia, mengingat ini adalah film action pertama yang digarapnya.

Ngeliat dari adegan ekstra di akhir film, gue menduga sequel film ini akan mengangkat Norman Osborn sebagai Green Goblin. Konon sequelnya akan siap rilis tahun 2014. Sayangnya kemungkinan bergabungnya Spider-Man ke dalam sequel The Avengers masih tipis, karena mereka beda perusahaan film .Hak The Avengers ada di tangan Disney Studios, sementara Spider-Man dimiliki Sony lewat Columbia Picturesnya. Mudah-mudahan aja para perusahaan film itu mau kerja sama, ya!

Kesimpulan: ***** dari *****

*fenomena yang bertolak belakang dengan sejumlah artis lain, semisal JuPe.

Wednesday, July 04, 2012

[2012-024] Kenapa harus pake 'he he he' sih?

Malam ini iseng-iseng mampir ke Cali Deli, nostalgia tempat jajanan waktu tinggalnya masih nebeng nyokap. Di sana ada tumpukan majalah yang bisa dibaca di tempat. Ida ambil beberapa, salah satunya Cita Cinta edisi Mei 2012 ini.

cover majalah

Sampe akhirnya nemu artikel ini:

judul artikel

Intinya artikel ini ngebahas tentang kenapa banyak cewek tertarik sama pria bule. Ada hasil surveynya juga, seperti ini:

survey 1

Berikutnya survey tentang mengapa cewek Indonesia tertarik dengan pria bule:

survey 2

Tunggu sebentar... ada yang aneh...

hehehe?

Kenapa di akhirnya harus ada 'he he he' ya?

Maksud gue: ini kan hasil survey ya. Lu ambil survey manapun, lu tambahin 'he he he' di belakangnya, maka orang akan bertanya-tanya. Coba deh bandingkan antara ini:


Kandidat cagub DKI incumbent Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli (Foke-Nara) unggul dengan 43,3% suara.

...dengan ini:


Kandidat cagub DKI incumbent Fauzi Bowo dan Nahrowi Ramli (Foke-Nara) unggul dengan 43,3% suara, he he he

Lu akan bertanya-tanya, kan? Ini maksudnya apa? Apakah...


1. surveynya nggak akurat?

Jadi 'he he he' di sini berarti "Bohong ding, bukan 3% yang mau memperbaiki keturunan, tapi 90%"


2. mencoba menetralkan pernyataan yang kemungkinan akan menyinggung?

Ini biasanya kalo lagi timpal-timpalan di blog atau di twitter. Orang suka menambahkan 'he he he' kalo abis ngomong sesuatu yang rada kurang ajar, misalnya:

"Tulisan lu kok garing banget bro, he he he"

Itu artinya: "Tulisan lu serius garing, tapi gue takut dimarahin sama elu jadi gue bikin seolah-olah bercanda."

Atau kalo udah mulai panas, debat, twitwar, biasanya pihak yang mulai merasa kalah posisi menambahkan 'he he he':

"Yah tapi itu sekedar pendapat gue aja ya, he he he"

Kalo memang takut hasil surveynya menyinggung pembaca, kenapa dimuat?


3. puas?

'He he he' bisa juga berarti "Tuh kan gue bilang juga apa, bener kan pendapat gue!"


4. ngeledek?

Dengan kata lain, 'he he he' berarti "kasian deh lu, jelek amat jadi orang sampe merasa perlu memperbaiki keturunan."


Sungguh 'he he he' yang kontroversial, ya.

He he he.

Monday, July 02, 2012

[review] Prometheus

Film dibuka dengan pemandangan bumi yang masih kosong melompong, didarati sebuah pesawat luar angkasa gede. Ada mahluk berkulit abu-abu muncul, kelihatannya berasal dari pesawat gede itu. Dia minum sebuah cairan item, lalu nyemplung ke sungai. Di dalam air, badannya protol satu-satu dan melebur dengan air. Abis itu setting loncat ke tahun 2089. Sekelompok arkeolog yang dipimpin Elizabeth 'Ellie' Shaw  (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) menemukan bukti ke sekian di gua bahwa orang-orang zaman purba dari berbagai belahan bumi memuja 'dewa' yang sama. Ellie dan Charlie berkesimpulan, 'dewa' ini adalah pengunjung dari angkasa luar, dan mereka adalah para 'engineer' yang melakukan rekayasa genetik untuk menciptakan manusia di muka bumi.

Empat tahun kemudian, mereka berangkat ke angkasa luar naik pesawat bernama Prometheus untuk mencari planet asal para 'dewa' ini. Ekspedisi ini dipimpin oleh Meredith Vickers (Charlize Theron), dan dibantu oleh robot bernama David (Michael Fassbender). Singkat cerita, rombongan berhasil mencapai planet yang mereka duga sebagai asal-usul mahluk pencipta manusia, tapi dikejutkan dengan berbagai penemuan yang nggak mereka sangka. Salah satunya adalah dugaan bahwa para engineer sedang bermaksud untuk memusnahkan manusia, ciptaan mereka sendiri.

Buat yang udah pernah nonton film-film Alien versi Ridley Scott sebelumnya (Alien, Aliens, Alien 3, dan Alien Resurrection tapi nggak termasuk crossover Alien VS Predator) pasti udah apal komponen yang pasti ada, yaitu:
  • Sekelompok manusia penasaran dengan Alien dan mencoba mempelajarinya.
  • Mereka akhirnya berkesimpulan bahwa Alien adalah mahluk berbahaya, jadi memutuskan untuk kabur.
  • Ada seseorang di tengah kelompok itu (biasanya robot) punya agenda rahasia yang berlawanan dengan niat kelompok untuk kabur
  • Terjadi konflik di tengah kelompok di tengah kejaran  Alien ngamuk sehingga akhirnya semua orang, kecuali 1 orang cewek yang paling jagoan, mati.
Sebagai prequel Alien yang pertama, film ini juga punya komponen yang sama. Bedanya, Alien dalam bentuk yang kita kenal selama ini cuma muncul sedikit banget. Tapi desain pesawat, bangunan, dan mahluk-mahluk yang muncul rasanya masih punya kemiripan gaya dengan film-film Alien sebelumnya. Nggak heran karena seniman surealis HR Giger, orang yang pertama kali menciptakan desain mahluk Alien, lagi-lagi dilibatkan dalam film ini. Salah satu ciri khas karya HR Giger adalah memasukkan unsur anatomi manusia dalam desainnya, khususnya organ reproduksi! Kalo nggak percaya, coba lihat baik-baik mahluk sejenis ular yang ditemui rombongan di dalam gua, mirip apa tuh pas lagi mekar gitu, hm? Buat yang mau liat karya-karya ajaib HR Giger lainnya, atau mau beli memorabilia hasil karyanya, silakan klik website resminya.

Dari segi akting, Michael Fasbender lagi-lagi tampil cemerlang kayak waktu meranin Magneto di X-Men: First Class. Dia kayaknya emang cocok dapet peran orang yang aneh, nyebelin, setengah maniak, yang begitu muncul di layar bikin penonton mikir, "kayaknya ada yang nggak beres sama nih orang..."

Selain dia, tentu aja pemeran yang sangat penting bagi gue adalah Charlize Theron. Adegan terpenting adalah waktu dia baru keluar dari kapsul cryogenic, pakaian ala kadarnya, basah, dan... push-up. Waktu film ini baru dirilis, orang-orang di twitter rame ngomongin adegan ini doang :-p Tokoh Vickers yang diperankannya adalah orang ambisius, berdarah dingin, dan nggak kenal kompromi. Cocok dengan figur Charlize Theron yang tatapannya dingin tapi panas... kaya dispenser Aqua.
charlize theron
Oh... Charlize...
...sampe mana tadi? Oh iya. Lagi ngomongin film ya.

Noomi Rapace juga cocok membawakan perannya. Kalo Sigourney Weaver, pemeran tokoh kunci di film Alien terdahulu nampak sangat kekar dan maskulin, si Noomi ini versi yang lebih feminin tapi tetap jagoan. Kombinasinya pas, lah.

Ya, pokoknya buat penggemar Alien, film ini akan sangat memuaskan sekaligus mengecewakan. Memuaskan karena elemen-elemen khas film Alien yang biasanya ada, termasuk desain-desain ajaib karya HR Giger, di sini muncul dengan mulus tanpa kesan maksa seperti di film Alien 3 dan Alien Resurrection - yang dua itu parah jeleknya. Tapi di sisi lain, mereka mungkin kecewa karena porsi mahluk Aliennya sendiri sangat sedikit.

Seperti biasa, ending film menyisakan peluang untuk dibuat sequel berikutnya. Tapi yang jelas, kayaknya belum akan langsung tersambung dengan cerita Alien 1. Mudah-mudahan kalaupun akan ada sequelnya lagi, Ridley Scott atau James Cameron yang garap - bukan orang lain.

Kesimpulan: ****- dari *****

Sunday, July 01, 2012

[2012-021] Memanfaatkan Grup FB untuk Bikin Outing Seru

Tahun ini, gue kembali menjadi seksi acara untuk kegiatan outing di kantor. Itu artinya jabatan sebagai seksi acara ke 11 dalam 13 tahun terakhir, absennya cuma 2 tahun :-p Absennya di tahun 2004, karena waktu itu gue masih jadi anak baru di sebuah kantor pelayaran yang emang nggak punya budaya outing, dan di tahun 2010 karena sekali-sekali ingin ngerasain outing santai sebagai peserta doang.

Tahun ini, tumben-tumbenan anak-anak di kantor kepikir mau outing yang rada keren dikit: ke Bali. Maka gue dengan senang hati mengajukan diri jadi panitia acara.

Di salah satu rapat panitia, ada anak baru bernama Ketut yang mengajukan usul, permainan selama outing dilakukan sejak seminggu sebelum keberangkatan. Caranya adalah dengan bikin grup di FB, dan peserta diberi tantangan berupa pertanyaan atau tugas lewat grup itu. Poin yang didapat lewat menjawab tantangan di grup FB akan diakumulasikan. Jadi pada hari H pelaksanaan outing, masing-masing kelompok peserta udah poin yang beda-beda dan mereka harus bersaing untuk menambah dan mempertahankan poin tersebut.

Gue awalnya skeptis dengan ide itu. Masalahnya, FB nggak bisa diakses dari jaringan kantor karena kena sensor pihak IT. Jadi grup FB itu hanya bisa diakses dari smartphone atau dari komputer rumah. Gue ragu anak-anak sudi untuk segitu repotnya demi permainan outing doang. Ditambah lagi nggak semua orang punya FB. Atau ada juga yang punya, tapi nggak pernah dibuka.

Tapi Ketut yakin banget akan berhasil. Katanya, udah pernah dicoba di kantor yang lama dan jadinya seru banget. Ya sud, gue coba deh.

Pertama-tama seluruh peserta dikumpulin di ruang meeting, trus dibagi jadi 4 kelompok lewat mekanisme undian. Abis itu mereka dikasih tau akan ada grup berisi tantangan berhadiah poin. Pas diumumin, reaksi mereka nampak adem ayem aja, jadi gue pikir, "Bener kan, ide ini nggak akan berhasil..."

Dua hari kemudian, pas hari Minggu, grupnya gue bikin dan gue informasikan via SMS ke seluruh peserta. Abis itu gue mulai posting pertanyaan-pertanyaan singkat, sebagian besar berkaitan dengan Bali. Eh, ada beberapa peserta yang jawab. Gue posting beberapa pertanyaan lagi, ternyata makin banyak yang jawab. Akhirnya gue posting tantangan: "Upload foto kalian dengan menu makan siang hari ini". Taunya banyak peserta yang merespon, bela-belain berfoto di sebelah piring makannya masing-masing!

Besoknya, hari Senin, di kantor gue kirim email ke seluruh peserta berisi perolehan nilai sementara masing-masing kelompok. Peserta yang hari Minggunya kelewat nggak buka FB terkaget-kaget, karena poin kelompoknya ketinggalan. Maka Senin malemnya, pas gue posting tantangan-tantangan baru, yang ikut makin banyak. Padahal tantangannya makin lama makin nyusahin, antara lain:

  • Tengah malam, sekitar jam 2: "Upload foto kalian lagi kerudungan sarung kayak maling!"

  • Pagi-pagi, jam 6: "Upload foto kalian bersama pedagang makanan keliling!"

  • Malem, jam 11: "Upload foto kalian sedang memperagakan jurus yoga bernama cobra (contoh terlampir)!"

  • Siang-siang: "Upload foto kalian sekelompok sedang makan siang bersama OB / Satpam / Petugas Cleaning Service!"

  • Malem, jam 2 pagi: "Upload foto kalian lagi bersama sebatang lilin!"

  • Siang-siang: "Upload foto kalian bersama patung HR Rasuna Said!" FYI, patung itu adanya di depan Pasar Festival, bikin mbak-mbak bagian informasi PasFes kebingungan karena mendadak ada serombongan orang kantoran gantian minta foto bareng patung.

Ternyata walaupun idenya sederhana, bisa bikin iklim kompetisi antar kelompok cukup 'panas', dan yang lebih penting lagi membuka komunikasi di antara orang-orang yang sebelumnya jarang ngobrol. Terima kasih buat Ketut atas idenya. Buat kalian yang kebetulan jadi panitia outing juga, silakan dicoba permainan via grup FB ini, gampang tapi seru!

Foto: para panitia outing tahun ini. Ketut yang paling kiri.