Pages

Thursday, July 05, 2012

[review] The Amazing Spider-Man

Gue sebenernya rada pesimis dengan reboot film Spider-Man ini, karena:
  • kostumnya nampak terlalu sederhana, nggak glossy kayak kostumnya Tobey Maguire. Lambang laba-laba di punggungnya juga nampak terlalu kurus, nyaris nggak kelihatan.
  • trailer terakhir yang dirilis berdurasi 6 menit. Ini pertanda apa kalo bukan kurang pede takut filmnya nggak laku?
  • tongkrongan Andrew Garfield nampak kurang nerd, kalo dibandingin dengan kadar ke-nerd-annya Tobey. Padahal Peter Parker seharusnya super nerd.
  • setelah Spider-Man 3 menampilkan Venom, musuh terbesarnya, seharusnya film selanjutnya menampilkan musuh yang lebih sangar lagi. Carnage, misalnya. Masa The Lizard?
Tapi ternyata film ini mampu melewati semua ekspektasi gue.
Walaupun nggak mirip sama versi Tobey Maguire, Peter Parker versi Andrew Garfield ini ternyata juga nerd abis. Pasti kalian juga punya temen sekolah model gini:  jarang ngomong, nggak punya temen, nggak ada yang tau kegiatannya di luar sekolah ngapain, tapi pinter. Yang sering jadi korban bullying, tapi sekalinya ngamuk nakutin. Di tangan Andrew Garfield, Peter Parker jadi sosok yang jauh lebih gelap dan kompleks. Bener-bener keputusan yang tepat untuk menunjuk dia berperan sebagai Peter Parker, apalagi mengingat nama Taylor Lautner, si pemeran Twilinght bermuka datar itu, sempet dipertimbangkan juga. Fiuh, untung nggak jadi. Interpretasi Tobey dulu sih nggak keliru juga. Dia cukup nerd, tapi ke arah yang sama sekali beda. Maunya mungkin nerd yang sensitif, tapi jatuhnya malah jadi cengeng. Gue sampe nyesel pernah ngasih 4 bintang untuk Spider-Man 3 yang pernah gue tulis di sini.

Film dibuka dengan masa kecil Peter Parker bersama orangtua yang masih lengkap, Richard dan Mary Parker. Suatu malam, terjadi sesuatu yang bikin Richard memutuskan untuk menitipkan Peter ke rumah saudaranya, Ben (Martin Sheen) dan May (Sally Field). Sejak itu orangtua Peter menghilang.
Cerita loncat ke masa Peter udah SMA. Dalam sebuah acara beres-beres rumah, dia nemuin sebuah tas kerja milik bapaknya. Di dalamnya ada beberapa petunjuk samar tentang pekerjaan bapaknya di OsCorp. Karena penasaran, Peter berhasil menyelundup masuk ke perusahaan itu dan berkenalan dengan Dr. Curt Connors (Rhys Ifans), mantan temen kerja bapaknya. Dr. Connor yang tangannya putus satu ini lagi mempelajari kemungkinan pencangkokan sel hewan ke manusia. Obyek penelitiannya adalah kadal, karena binatang ini bisa menumbuhkan ekornya yang putus. Dia berharap kalo penelitiannya berhasil, tangannya bisa ditumbuhin lagi. Selain itu di beberapa adegan juga ada petunjuk bahwa hasil penelitian Dr. Connors sangat ditunggu-tunggu oleh Norman Osborn, pemilik OsCorp, karena si Norman ini lagi mengidap suatu penyakit yang harapan sembuhnya cuma dari penelitian Dr. Connors doang. Penelitian Dr. Connors hampir rampung, cuma belum nemu orang yang mau dijadiin kelinci percobaan untuk serumnya. Tentunya dari sini kalian udah bisa nebak ke arah mana cerita berkembang.

Di film ini, pacar Peter Parker bukan Mary Jane tapi Gwen Stacy (Emma Stone). Ini lebih mendekati alur cerita di komiknya, di mana Peter lebih dulu kenal Gwen, temen sekolahnya, ketimbang Mary Jane yang baru dikenalnya setelah kerja. Beda dengan di filmnya Sam Raimi, digambarkan MJ itu tetangga sekaligus temen sekolah Peter. Waktu nonton trailernya, gue rasanya kurang sreg dengan Emma Stone sebagai Gwen Stacy ini. Rasanya kurang 'menggemaskan', gitu. Tapi setelah ditonton di filmnya, ternyata dia tipe orang yang semakin lama didengerin ngomong semakin keliatan cantik*. Yang jelas, karakternya jauh lebih tangguh daripada MJ versi Kirsten Dunst yang kerjanya jerit-jerit minta diselamatkan dan ujan-ujanan nggak pake bra.

Secara keseluruhan, perbandingan film "The Amazing Spider-Man" terhadap "Spider-Man 3" itu seperti "Batman Begins" terhadap "Batman & Robin". Film ini mengubah sebuah kemasan yang tadinya glossy dan warna-warni jadi lebih gelap dan keras. Sejak awal film, musik latarnya lebih mirip film thriller ketimbang film komik. Cara pengambilan gambarnya juga beda banget. Kalo dulu digambarkan Spider-Man bisa berayun dari gedung ke gedung dengan mulusnya, sekarang dia masih nampak 'gaptek' dengan kekuatannya, masih suka nabrak-nabrak gedung, kepleset, dan salah sasaran waktu nembakin jaring. Kamera seolah-olah ditempatkan 30 cm di belakang punggung Spider-Man dan penonton diajak ikut berayun, nabrak-nabrak, dan terguling-guling. Hebatnya, Marc Webb sang sutradara sebisa mungkin menekan penggunaan animasi komputer untuk adegan action-nya. Menurut dia, adegan action akan lebih seru kalo diperankan langsung. Hebat juga dia, mengingat ini adalah film action pertama yang digarapnya.

Ngeliat dari adegan ekstra di akhir film, gue menduga sequel film ini akan mengangkat Norman Osborn sebagai Green Goblin. Konon sequelnya akan siap rilis tahun 2014. Sayangnya kemungkinan bergabungnya Spider-Man ke dalam sequel The Avengers masih tipis, karena mereka beda perusahaan film .Hak The Avengers ada di tangan Disney Studios, sementara Spider-Man dimiliki Sony lewat Columbia Picturesnya. Mudah-mudahan aja para perusahaan film itu mau kerja sama, ya!

Kesimpulan: ***** dari *****

*fenomena yang bertolak belakang dengan sejumlah artis lain, semisal JuPe.

No comments:

Post a Comment