Pages

Sunday, July 08, 2012

[review] Brave

Film yang mengambil setting di Skotlandia jaman dulu kala ini menokohkan Merida, seorang putri raja yang tomboy. Berlawanan dengan keinginan ibunya agar tampil anggun dan feminin, Merida senang keluyuran naik kuda ke hutan sambil latihan memanah. Suatu hari, datang utusan dari 3 klan yang siap adu ketangkasan. Pemenangnya akan berhak menyunting Merida. Dasar tomboy, Merida menentang habis-habisan rencana ini. Sebaliknya, ibunya berkeras memaksa Merida mengikuti permainan, demi stabilitas politik dengan ketiga klan tersebut. Merasa putus asa karena nggak didengar, Merida kabur ke hutan. Di sana dia kenalan dengan seorang nenek sihir, yang kemudian ngasih sebuah kue yang dijanjikan dapat mengubah ibunya.
Sepulang dari hutan, Merida menyuguhkan kue ini kepada ibunya. Harapannya agar sang ibu mau mengubah niatnya menyuruh kawin. Ternyata memang bener ibunya berubah, tapi ke arah yang sama sekali nggak disangka-sangka. Repotnya, sihir itu hanya punya waktu 2 hari untuk dibatalkan. Kalo dalam 2 hari belum batal, efeknya akan permanen. Sisa filmnya lantas bercerita tentang petualangan Merida dan ibunya mencari jalan membatalkan kutukan tersebut, sambil berproses untuk saling mengerti dan saling menghargai pendapat.
Film buatan Pixar biasanya punya cerita yang unik dan belum pernah ada. Monsters Inc., misalnya, menyodorkan teori bahwa ternyata monster dalam lemari itu hanya sekumpulan pegawai yang dikejar target ngumpulin energi listrik. The Incredibles, memotret sisi konyol super hero pensiunan. Atau yang paling legendaris, trilogi Toy Story, tentang mainan yang punya pikiran dan perasaan. Sayangnya, keunikan itu nggak gue temukan di film Brave ini. Ceritanya sekilas mirip dengan The Emperor's New Groove atau Brother Bear.
Bukan berarti film ini jelek ya. Penuturan ceritanya mudah diikuti bahkan oleh bocah seumur Rafi, gambarnya keren, karakternya hidup, dan ada banyak adegan seru. Tapi ngeliat pesan utamanya yang rada usang (perbedaan pendapat bisa diatasi selama mau berusaha saling mengerti) dan penyelesaian konflik lewat pidato di depan orang banyak, rasanya bukan kelasnya Pixar. Mudah-mudahan film berikutnya bisa lebih baik dari ini.

No comments:

Post a Comment