Pages

Monday, July 02, 2012

[review] Prometheus

Film dibuka dengan pemandangan bumi yang masih kosong melompong, didarati sebuah pesawat luar angkasa gede. Ada mahluk berkulit abu-abu muncul, kelihatannya berasal dari pesawat gede itu. Dia minum sebuah cairan item, lalu nyemplung ke sungai. Di dalam air, badannya protol satu-satu dan melebur dengan air. Abis itu setting loncat ke tahun 2089. Sekelompok arkeolog yang dipimpin Elizabeth 'Ellie' Shaw  (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) menemukan bukti ke sekian di gua bahwa orang-orang zaman purba dari berbagai belahan bumi memuja 'dewa' yang sama. Ellie dan Charlie berkesimpulan, 'dewa' ini adalah pengunjung dari angkasa luar, dan mereka adalah para 'engineer' yang melakukan rekayasa genetik untuk menciptakan manusia di muka bumi.

Empat tahun kemudian, mereka berangkat ke angkasa luar naik pesawat bernama Prometheus untuk mencari planet asal para 'dewa' ini. Ekspedisi ini dipimpin oleh Meredith Vickers (Charlize Theron), dan dibantu oleh robot bernama David (Michael Fassbender). Singkat cerita, rombongan berhasil mencapai planet yang mereka duga sebagai asal-usul mahluk pencipta manusia, tapi dikejutkan dengan berbagai penemuan yang nggak mereka sangka. Salah satunya adalah dugaan bahwa para engineer sedang bermaksud untuk memusnahkan manusia, ciptaan mereka sendiri.

Buat yang udah pernah nonton film-film Alien versi Ridley Scott sebelumnya (Alien, Aliens, Alien 3, dan Alien Resurrection tapi nggak termasuk crossover Alien VS Predator) pasti udah apal komponen yang pasti ada, yaitu:
  • Sekelompok manusia penasaran dengan Alien dan mencoba mempelajarinya.
  • Mereka akhirnya berkesimpulan bahwa Alien adalah mahluk berbahaya, jadi memutuskan untuk kabur.
  • Ada seseorang di tengah kelompok itu (biasanya robot) punya agenda rahasia yang berlawanan dengan niat kelompok untuk kabur
  • Terjadi konflik di tengah kelompok di tengah kejaran  Alien ngamuk sehingga akhirnya semua orang, kecuali 1 orang cewek yang paling jagoan, mati.
Sebagai prequel Alien yang pertama, film ini juga punya komponen yang sama. Bedanya, Alien dalam bentuk yang kita kenal selama ini cuma muncul sedikit banget. Tapi desain pesawat, bangunan, dan mahluk-mahluk yang muncul rasanya masih punya kemiripan gaya dengan film-film Alien sebelumnya. Nggak heran karena seniman surealis HR Giger, orang yang pertama kali menciptakan desain mahluk Alien, lagi-lagi dilibatkan dalam film ini. Salah satu ciri khas karya HR Giger adalah memasukkan unsur anatomi manusia dalam desainnya, khususnya organ reproduksi! Kalo nggak percaya, coba lihat baik-baik mahluk sejenis ular yang ditemui rombongan di dalam gua, mirip apa tuh pas lagi mekar gitu, hm? Buat yang mau liat karya-karya ajaib HR Giger lainnya, atau mau beli memorabilia hasil karyanya, silakan klik website resminya.

Dari segi akting, Michael Fasbender lagi-lagi tampil cemerlang kayak waktu meranin Magneto di X-Men: First Class. Dia kayaknya emang cocok dapet peran orang yang aneh, nyebelin, setengah maniak, yang begitu muncul di layar bikin penonton mikir, "kayaknya ada yang nggak beres sama nih orang..."

Selain dia, tentu aja pemeran yang sangat penting bagi gue adalah Charlize Theron. Adegan terpenting adalah waktu dia baru keluar dari kapsul cryogenic, pakaian ala kadarnya, basah, dan... push-up. Waktu film ini baru dirilis, orang-orang di twitter rame ngomongin adegan ini doang :-p Tokoh Vickers yang diperankannya adalah orang ambisius, berdarah dingin, dan nggak kenal kompromi. Cocok dengan figur Charlize Theron yang tatapannya dingin tapi panas... kaya dispenser Aqua.
charlize theron
Oh... Charlize...
...sampe mana tadi? Oh iya. Lagi ngomongin film ya.

Noomi Rapace juga cocok membawakan perannya. Kalo Sigourney Weaver, pemeran tokoh kunci di film Alien terdahulu nampak sangat kekar dan maskulin, si Noomi ini versi yang lebih feminin tapi tetap jagoan. Kombinasinya pas, lah.

Ya, pokoknya buat penggemar Alien, film ini akan sangat memuaskan sekaligus mengecewakan. Memuaskan karena elemen-elemen khas film Alien yang biasanya ada, termasuk desain-desain ajaib karya HR Giger, di sini muncul dengan mulus tanpa kesan maksa seperti di film Alien 3 dan Alien Resurrection - yang dua itu parah jeleknya. Tapi di sisi lain, mereka mungkin kecewa karena porsi mahluk Aliennya sendiri sangat sedikit.

Seperti biasa, ending film menyisakan peluang untuk dibuat sequel berikutnya. Tapi yang jelas, kayaknya belum akan langsung tersambung dengan cerita Alien 1. Mudah-mudahan kalaupun akan ada sequelnya lagi, Ridley Scott atau James Cameron yang garap - bukan orang lain.

Kesimpulan: ****- dari *****

No comments:

Post a Comment