Pages

Tuesday, September 08, 2009

Realisasi kopdar yang tertunda hampir 4 tahun

Dari sekian banyak contact gue di MP yang interaksinya lumayan intensif, cuma tinggal beberapa orang aja yang sampe hari ini belum pernah gue temui secara langsung. Kebanyakan sih karena domisili mereka di luar negeri, seperti misalnya Willy - escoklat atau Ferdina - Fdev.

Tapi ada satu contact yang entah kenapa licin banget untuk dikopdarin, padahal tinggalnya nggak jauh-jauh amat: Bogor. Dialah Denny "Baonk" Monoarfa, si blogger kambuhan yang sejauh ini udah 3 kali bikin dan 2 kali delete account MP, yaitu dennybaonk, dbaonk, dan terakhir dbaonkagain. Tiap kali ada acara kopdar raya, gue dateng setelah dia pulang, atau sebaliknya. Dari semua orang yang ngasih endorsement untuk buku Ocehan si Mbot, cuma makhluk satu ini doang yang belum pernah gue saksikan langsung seperti apa wujud aslinya.�

Kebetulan, beberapa minggu terakhir gue liat posting-postingnya dipenuhi dengan berita persiapan menyambut kelahiran anak ke dua. Posting terakhirnya memberitakan bahwa tanggal 5 September sudah ditetapkan sebagai tanggal kelahiran si anak bungsu lewat operasi caesar. Nah, mungkin ini udah suratan takdir untuk ketemu langsung dengan salah satu penulis resensi pertama Ocehan si Mbot, pikir gue.�

Kebetulan tanggal 5 gue ada acara kantor sampe malem, jadi gue merencanakan untuk dateng menjenguk pada tanggal 6-nya aja. Masalahnya, gue nggak tau di mana rumah sakitnya. Seinget gue dia pernah menuliskan di salah satu network messagenya, tapi gue cari-cari nggak nemu. Jadi, yah... apa boleh buat, walaupun niatnya mau bikin kunjungan kejutan, terpaksa deh tanya langsung pada yang bersangkutan via telepon.�

"Halo..." terdengar suara berlogat Bogor saat gue hubungi salah satu dari 4 nomor yang tercatat di phonebook gue atas nama "MP Dbaonk".

"Ini Denny?"

"Iyah."

"Di rumah sakit ya?"

"Iyah."

"Rumah sakitnya di mana?"

"Ini siapa ya?" Wah kebetulan, dia nggak mengenali nomer gue!

"Eee... orang ditanya. Rumah sakitnya di mana?"

"Mitra... Jatinegara. Ini siapa sih?"

"Halah pake nanya ini siapa, lagi. Kamar nomer berapa? Buruan!"

"Ini siapa dulu!" terdengar suaranya mulai sebel.

"Gampang lah itu ntar. Kamarnya dulu, nomer berapa!"

Abis itu terdengar dia seperti ngomong sama seseorang, mungkin istrinya. "Ini kayaknya temen kamu deh..." trus klik, teleponnya mati. Sial. Tapi lumayan, gue udah tau lokasi RS-nya, tinggal nanya kamarnya di sana.�

Setelah selesai menunggui istri ber-BOP dengan rombongan Oriflamenya, kami berdua meluncur ke Mitra Jatinegara. Resenya, RS yang satu ini ketat banget penjagaannya. Di pintu masuk berdetektor logam kami dihadang satpam.

"Saya mau jenguk istrinya Pak Denny Monoarfa pak, baru melahirkan kemarin," kata gue.

"Kamar nomer berapa pak?"

"Wah nggak tau saya."

"Namanya istrinya siapa?"

Halah, mana gue tau nama istrinya si Baonk. "Nggak tau juga pak. Masa bapak nggak pegang catatan nama suaminya sih?"

"Di sini tidak ada pak. Cuma ada nomor kamar dan nama ibunya aja. Mungkin bapak bisa hubungi yang bersangkutan lewat HP..."

"Masalahnya ini kejutan, Pak..." kata Ida, "Kami baru datang dari luar kota, langsung ke sini." Ya bener juga sih, Ida kan baru dateng dari Bandung ke Jakarta, 4 tahun yang lalu. Tapi kan ukuran 'baru' itu relatif.

"Kalau begitu silakan ditanyakan aja nama ibunya ke bagian Customer Service!"�

Untunglah Customer Servicenya nggak punya terlalu banyak pertanyaan seperti si satpam. "Sebentar ya Pak, kebetulan hari Sabtu kemarin ada 16 orang yang melahirkan di sini, dan datanya harus dibuka satu per satu..."

"Nah, untung cuma 16 kan mbak," kata gue membesarkan semangat.�

Lima menit kemudian, gue dan Ida kembali menghampiri satpam, dengan nama ibu dan nomer kamar di tangan. Bingo, kami boleh lewat dan langsung naik lift ke lantai 3. Ealah, ternyata di sini juga ada satpam. Lagi-lagi kami dicegat karena bukan jam berkunjung, dan hanya satu orang yang boleh masuk ke area kamar inap.�

"Kamu aja yang masuk, aku tunggu sini," kata Ida.�

"Tapi... kalo tau-tau di kamar lagi acara menyusui atau apa gitu, gimana?"

"Ya kan kamu yang dari tadi mau nengok, gimana sih!"

Gue tinggalkan istri yang kurang kooperatif itu dan melangkah melewati gerbang menuju area kamar inap, belok kanan di kamar nomor 314. Begitu gue buka pintu, walah... ada 3 tempat tidur yang masing-masing tertutup tirai rapat. Yang mana nih tempat tidurnya si baonk? Ntar kalo gue main buka aja tau-tau...."Halo Nyonya Denny... selamat ya!! Apa, ibu bukan istrinya Denny? Yakin? Oh baiklah kalo gitu. Ngomong-ngomong, teruskan memberikan ASI eksklusif seperti sekarang ini ya Bu! Jangan putus asa! Nampak jelas stok ibu berlimpah ruah. Yak, dan tidak perlu berteriak histeris atau �memanggil satpam...taro tombol belnya ibu... ya ya ya saya keluar!"

Gue memutuskan untuk mengambil langkah aman, yaitu dengan kembali menggunakan HP.�

"Halo?" kali ini terdengar suara perempuan. Mungkin istrinya

"Halo, bisa bicara dengan Denny?"

"...orang yang tadi nih," terdengar bisikan yang menjauh dari corong telepon, "Ini dengan siapa ya?"

Berhubung udah kadung nyampe di lokasi, terpaksa deh gue membongkar identitas, "dari Agung." Habis itu terdengar suara kresek-kresek telepon berpindah tangan.�

"Halo?"

"Den, keluar dong..."

"Ini Agung mana ya?"

"Agung, Agung. Keluar dong..."

"Agung mbot ya?"

"Keluar napa Den..."

"Ini masalahnya lagi menyusui..."

"Emangnya yang menyusui elu? Keluar gih, buruan!"

Nggak sampe semenit kemudian, akhirnya keluar juga sosok cungkring yang selama 4 tahun terakhir rajin meneror posting-posting blog gue di MP.�

"Gue tuh paling nggak seneng kejutan. Untung teleponnya tadi nggak gue tutup," omelnya.�

"Hah. Yang penting kan gue berhasil tau rumah sakitnya di mana!" kata gue.�

Sebagai bukti tangkapan, gue berfoto bareng dengan celeb blog yang satu ini.

Akhirnya... ketemu juga!�

Monday, September 07, 2009

jangan bugil di depan kamera... ever!

Kantor gue lagi dilanda sedikit kehebohan. Ada seorang pegawai perempuan, sebutlah namanya si A, berpacaran dengan seorang lelaki bernama B, yang bukan pegawai kantor gue. Rupanya tidak terjadi kecocokan antara A dan B sehingga akhirnya mereka putus, dan kemudian A nikah dengan C, yang kebetulan juga pegawai kantor gue. Setelah nikah, A resign dari kantor gue.

Eh, nggak taunya diam-diam si B masih menyimpan rasa kesel karena ditinggal oleh A, sedemikian rupa sehingga kemudian dia membuat sebuah account di gmail yang seolah-olah milik A, lantas menggunakan account itu untuk menyebarluaskan video dan foto adegan syur antara A dan B kepada orang-orang di kantor gue. Bukan cuma itu, si B ini juga membuat beberapa account di situs2 jejaring sosial dan memposting foto-foto tsb di sana. Tentunya dengan cermat dia memilih foto-fotonya sedemikian rupa sehingga hanya wajah A yang tampil, sementara wajah dia sendiri aman tersembunyi. Sekarang urusan konyol ini udah sampe ke kuping direktur, dan kebetulan gue yang tadi siang ditugasi menginvestigasi udah sampe di mana laju penyebaran foto dan video tersebut. Masalahnya, baik di sebaran email maupun di account jejaring sosial, terpampang dengan jelas nama kantor gue termasuk alamat dan nomor teleponnya segala.�

Kasus kaya gini emang boleh dibilang mulai basi, tapi toh kejadian lagi dan lagi. Gue nggak kebayang apa yang terjadi di tengah rumah tangga A dan C sekarang, karena namanya foto dan video yang udah kadung nyebar di internet ya susah untuk direm. Pesan gue buat kalian yang lagi dilanda asmara di luar sana, jangan - jangan - jangan pernah sekalipun mendokumentasikan aktivitas ranjang kalian dalam bentuk apapun, khususnya di media digital. Mungkin kalian merasa aman karena yakin partner kalian bisa dipercaya, alat yang dipake juga milik sendiri - bukan pinjeman dari orang, dan rasanya seru, sexy dan kinky untuk merekam adegan saru kalian sendiri, tapi...

  • ...selalu ada kemungkinan HP / kamera yang kalian pake dicuri orang dan kita nggak bisa mencegah malingnya untuk bertindak kreatif dengan file-file di dalamnya.�

  • ...bisa aja kalian butuh duit dan memutuskan untuk menjual HP / kamera berisi adegan seru tersebut tanpa mendeletenya sebelumnya.

  • ...atau kalian udah mendelete filenya, tapi dengan bantuan aplikasi yang sangat sederhana, semua file digital yang pernah dihapus bisa direcover lagi!

Saran gue, buat yang belum pernah melakukan, udahlah jangan iseng. Sedangkan yang udah pernah melakukan, saran gue adalah...

  • �...kalo file video / gambarnya ada di memory card (SD card, micro SD, CF, dsb) atau flashdisk sebaiknya copot tuh memory card, bakar sampe rada meleleh, trus buang. Memang konon dengan memformatnya beberapa kali maka file akan hilang selamanya tanpa bisa direcover, tapi buat apa sih ambil resiko. Lagian hari gini harga memory card udah murah, nggak akan sebanding dengan harga diri kalian kalo isinya nyebar di internet.
  • ... kalo ada di CD, nggak cukup dengan dirusak dengan cara digores. Patahin CD-nya jadi dua, atau bakar.
  • ... kalo ada di harddisk, nah ini rada repot. Memang rada nyesek kalo kalian harus ngebakar harddisk, jadi minimal yang bisa kalian lakukan adalah memformatnya, mengisi dengan file2 lain sampe penuh, format lagi, isi lagi sampe beberapa kali. Dan banyak-banyak berdoa jangan sampe harddisk tersebut sampe dicolong orang.�

Intinya, ingatlah bahwa setiap kali kalian mendokumentasikan kebugilan diri sendiri, selalu ada resiko ditonton oleh orang lain. Dan belum tentu kebugilan kalian tersebut mampu menghibur penontonnya.�

Wednesday, August 26, 2009

makan siang dengan mantan

Beberapa minggu yang lalu, mantan gue ulang tahun. Gue menelepon pagi-pagi untuk mengucapkan selamat, dan berakhir dengan janjian makan siang bareng.�

Berhubung si mantan sekarang udah berstatus emak-emak, maka apa lagi obrolannya kalo bukan tentang anak. Dia udah punya seorang anak perempuan, kalo nggak salah umurnya udah 6 tahun.�

"Aku bingung deh mengarahkan anakku. Bakatnya banyak banget. Kalo menggambar, gambarnya bagus sekali. Kalo nyanyi, suaranya ada vibranya lho! Trus baru-baru ini, di sekolahnya ada pertunjukan drama. Dia tadinya ditunjuk jadi narator, tapi last minute, selang dua hari sebelum pertunjukan, tiba-tiba dia diubah jadi pemeran utama. Dia yang udah ngapalin naskah narator, tiba-tiba harus ganti ngapalin naskah pemeran utama dalam dua hari, dan bisa!"

"...wah hebat sekali ya..." kata gue sambil mikir kira-kira apa ya yang bisa dibanggain dari anak gue si kriting gembul Rafi.�

"Dia juga udah sering banget ditawarin orang jadi model. Dan kayaknya dia juga berminat. Cuma akunya yang masih ragu-ragu, kira-kira kalo anak sekecil dia, sehat nggak sih kalo udah ngerasain dunia model..."

"Tau dari mana dia berminat jadi model?"

"Dia sendiri yang bilang. 'Mama, i want to be a model', katanya,"

"Oh. Ngomongnya bahasa Inggris terus ya?"

"Iya, kan sejak pre-school sekolahnya udah bi-lingual."

Sementara si Rafi sejak umur 2 tahun udah menguasai... hmmm... apa ya? Denah Pasar Tebet Barat, barangkali. Dan sekarang menjelang usia ke tiga, dia merambah Pasar Tebet Timur...

"Eh dari tadi aku terus yang cerita. Coba, anakmu udah bisa apa?"

"Bisa... apa ya? Yah, MAKANnya banyak sih...."

Kesimpulannya, sebagai seorang bapak, walaupun sejauh ini prestasi anaknya barulah menghabiskan makanan porsi orang dewasa dan beberapa hari yang lalu berhasil bertahan jongkok selama lebih dari setengah jam di pelataran Pasar Tebet Timur karena nggak mau diajak pulang, bapak tetap bangga, nak!�


Foto: si mantan waktu menjenguk kelahiran Rafi. Coba tebak yang mana, yang jelas sih bukan yang paling kanan :-)�

Sunday, August 23, 2009

episode si mbot vs polantas: "Minta slip biru, pak!"

Tadi sore, gue abis dari Grand Indonesia mau mengarah pulang ke Tebet. Gue nggak ngeh, dari arah jalan Teluk Betung gue langsung masuk jalur cepat di dekat bunderan Thamrin. Langsung dicegat polisi. 

"Selamat sore pak," kata polisinya. "Bapak telah melanggar garis pemisah jalan, seharusnya tadi bapak ambil jalur lambat."

"Oh gitu ya? Jadi, harus ditilang ya?" jawab gue dengan nada biasa. Kan lagi puasa.

"Iya pak."

"Ok kalo gitu saya minta slip biru."

Sebelumnya udah sering gue baca di berbagai blog, bahwa untuk acara tilang-tilangan dengan polisi kaya gini ada dua jenis slip, slip merah dan slip biru. Kalo kita milih slip merah artinya kita menyangkal tuduhan pelanggaran dan memilih untuk membela diri dalam sidang. Kalo kita milih slip biru artinya kita mengakui kesalahan dan siap membayar denda lewat transfer bank. Denda yang harus dibayar ternyata nggak sebesar yang dikira orang selama ini, dan yang jelas dananya halal masuk kas negara, dan nggak meracuni mental polisi dengan kebiasaan 'tilang damai'. Posting-posting blog lainnya tentang slip merah dan biru antara lain bisa dibaca di sini

Petugas polisi yang nyegat gue nampak kaget denger gue minta slip biru. Sementara gue dalam hati meneguhkan niat nggak akan membiarkan urusan tilang menilang ini berakhir dengan cara lain kecuali slip biru. 

"Sayang sekali bapak tidak bisa minta slip biru, pak!" kata polisinya. 

"Kenapa?"

"Sebab... memang itu aturan lama pak, sekarang sudah tidak berlaku lagi..."

"Kapan dicabutnya mas? Saya kok nggak denger?"

"Memang itu sudah instruksi dari atas pak, soalnya pimpinannya kan ganti, jadi sekarang berlaku aturan baru," si polisi mulai meracau dengan alasan nggak jelas. Gue memang denger banyak selentingan bahwa polisi seringkali 'enggan' mengeluarkan slip biru karena nggak memungkinkan mereka dapet 'penghasilan ekstra', tapi gue memilih untuk nggak langsung percaya selentingan sebelum mengalami sendiri. Dan ternyata memang selentingan yang gue denger terbukti. 

"Saya tau saya berhak dapet slip biru pak, jadi saya minta dibuatin slip biru," jawab gue keras kepala.

"Nggak bisa pak, sebab ini sedang operasi! Kalau tidak sedang operasi, bapak bisa minta slip biru, tapi kalau sedang operasi Zebra seperti sekarang ini, tidak bisa pak!"

"Masa sih ini sedang operasi Zebra? Biasanya kan kalo sedang operasi ada tulisannya mas! Sekarang dari mana saya bisa tau bahwa ini beneran sedang operasi, dan kalaupun memang benar sedang operasi, apa hubungannya antara operasi dengan slip biru?"

"Pokoknya selama operasi tidak bisa mengeluarkan slip biru, pak!"

"Kenapa?"

"Karena selama operasi petugasnya kan tidak berasal dari sini, jadi nanti bapak kesulitan mengambil kembali simnya!"

"Ah saya rasa enggak sulit. Mas kan tinggal kasih tau saya aja, habis ini mau tugas di mana, nanti setelah saya bayar dendanya saya yang datang ngambil sim saya ke mas. Atau saya juga bisa kirim kurir saya untuk ngambil ke tempat mas. Itu sih nggak masalah, mas."

"..." polisinya nampak putus asa, dan akhirnya bilang "Silakan tunggu di sini pak!"

Abis itu dia jalan ke sarangnya, berunding bersama beberapa orang temannya di sana. Cukup lama juga, sekitar 15 menit ada kali. Abis itu petugas yang lain mendekati mobil gue dengan membawa... slip biru!

"Ini pak, silakan ditandatangani di sini," kata petugas ke dua. 

"Oh, ternyata bisa ya mas, pake slip biru?"

"Bisa, pak..." katanya. 

"Soalnya tadi kata temannya nggak bisa. Mungkin dia belum ngerti kali mas, tolong dikasih tau ya..."

Pertama kalinya dalam hidup gue, gue puas dan bahagia saat ditilang. Terserah nanti denda yang harus gue setor di bank berapa, yang penting duitnya halal masuk kas negara dan bukan dipake 'ngasih makan Zebra'!

Tuesday, August 18, 2009

istri dan kartu hadiah susu yes

susu yesBeberapa hari yang lalu, kami beli susu Yes untuk Rafi, kemasan 6 botol (kalo nggak salah). Ternyata berhadiah kartu permainan. Ada 6 kartu: 1 kartu bergambar maling, 1 kartu bergambar polisi, dan 4 kartu bergambar teman. Cara bermainnya, semua kartu diletakkan di meja, menghadap ke bawah. Masing-masing pemain (yang sebaiknya berjumlah minimal 4 orang) mengambil satu kartu. Pemain yang mendapat kartu maling, harus 'merampok' temannya dengan memberikan kode rahasia (misalnya colekan atau kedipan mata). Orang yang kena rampok harus membuka kartunya. Sementara tugas pemain yang jadi polisi adalah menangkap maling sesegera mungkin, tapi nggak boleh salah tangkap.
OK, kurang lebih gitulah aturan permainannya.
Dan mengapa oh mengapa, sekitar 15 menit yang lalu, di jam 1.45 dini hari, Ida yang lagi nggak bisa tidur tiba-tiba ngajak main kartu bodoh ini.
"Suami, ayo kita main kartu ini!"
"Gimana cara mainnya?" jawab gue dengan antusiasme setara orang lagi disuruh nenggak air aki.
"......" Ida menjelaskan aturan permainannya.
"OK, jadi kalo aku kebagian jadi maling, aku ngedipin kamu?"
"Iya!"
"Trus yang mau nangkep siapa? Kita kan cuma berdua!"
"Iya juga ya suami... trus gimana dong suami, kita terpaksa main kedip-kedipan tanpa kartu?"
"Boleh tambah dengan colek-colekan tanpa kartu juga nggak?"

Hikmah berumah tangga: adalah bertoleransi terhadap keajaiban-keajaiban pasangan tanpa kehilangan cinta.

Monday, August 17, 2009

reputasi orangtua di tangan anak

"Setiap orang bertanggung jawab atas reputasinya sendiri."

Dulunya gue sangat percaya akan hal tersebut. Sampai tiba saatnya gue punya anak. Terutama saat si anak mulai masuk sekolah.

Satu hal yang cukup membuat gue dan ida khawatir saat membiarkan rafi berinteraksi dengan khalayak ramai adalah: nafsu makannya. Untuk urusan makan, anak ini memang tergolong sulit... maksudnya kalau udah mulai makan sulit berhenti. Tanda-tanda ke arah ini udah muncul saat dia baru berusia 7 bulan. Waktu itu situasinya kami lagi ditraktir salah satu orangtua murid waktu Ida masih jadi guru TK, dan kebetulan kami lagi membawa si gembul berambut jarang yang satu ini.

Memang waktu itu jam makannya udah rada kelewat, dan rupanya dia udah lapar berat. Saat nasi hainam pesanannya terhidang, dia mulai nampak beringas mengendus aromanya. Keberingasannya meningkat saat Rafi menilai ibunya terlalu lama saat menghaluskan butir-butir nasi di mangkoknya, dan mulailah dia beraksi dengan berteriak-teriak, "MA-AM! MA-AM! AAAH! MA-AM!" sambil memukul-mukul meja pake sendok.
"Aduh, lucunya si adek, udah lapar banget ya?" kata orangtua murid sambil tersenyum ramah.
"Iya kayaknya nih, maaf ya mommy, dia ini memang kalau sudah lapar jadi (buas) begini," jawab Ida setengah tengsin.
"Nggak papa ya dek, ya... namanya juga orang lapar..."
"MA-AM!"

Alhasil acara makan siang kali itu jadi salah satu acara makan siang yang cukup memalukan dengan hasil akhir butir-butir nasi hainam berceceran di seantero muka dan rambut Rafi, dan saat semangkok nasi hainam ludes disikat dia masih menggapai-gapai mangkok es campur yang lagi diminum ibunya dengan tampang penuh minat.

Seiring dengan pertambahan umur Rafi, nafsu makannya makin menggila. Untungnya dia suka bergerak, jadi untuk mengimbanginya kami membiasakan Rafi untuk berolah raga setiap pagi berupa bersepeda naik-turun tanjakan depan rumah sampe keringetan. Cuma menjelang dia masuk sekolah, gue dan Ida semakin kuatir, "gimana kalo anak ini nanti menggeragas di sekolah dan membajak bekal teman-temannya?"

Untuk mengantisipasi insiden memalukan tersebut, sejak jauh-jauh hari kami mengindoktrinasi Rafi soal adab memakan bekal di sekolah.
"Rafi, sebentar lagi Rafi kan mau sekolah, ya kan?"
"Iya! Di TK Aisiyah!"
"Nah, nanti kalau Rafi pergi ke sekolah, bunda akan bawain Rafi bekal makanan untuk dimakan di sekolah ya! Inget lho, di sekolah nanti Rafi makan makanannya sendiri, nggak boleh makan makanan temannya ya!"
"Kenapa?"
"Sebab kasihan kan, temannya nanti nggak punya makanan, kalau dia lapar gimana? Ingat ya, di sekolah, Rafi makan makanan Rafi sendiri. Oke?"
"OK sip!"

Pesan ini kami ulang-ulang dalam setiap kesempatan, misalnya...
"Rafi, nama lengkapnya siapa?"
"Nadiv Rafi Nugroho!"
"Kalau di sekolah makan apa?"
"Makanannya sendiri!"

Diselipkan juga dalam sesi dongeng menjelang tidur...
"Bapak, mau diceritain Barney dong..."
"OK. Pada suatu hari, si Barney pergi sekolah di TK Aisiyah dan di sekolah BARNEY MAKAN MAKANANNYA SENDIRI DAN TIDAK MAKAN MAKANAN TEMANNYA...."

Sampai akhirnya tiba saatnya Rafi bersekolah untuk pertama kali. Dengan harap-harap cemas kami melepas dia berinterasi dengan teman-temannya, dan hal pertama yang ditanyakan Ida kepada ibu gurunya adalah, "Apakah Rafi merampok makanan temannya?"
Huff... syukurlah, di minggu pertama dan ke dua, doktrin-doktrin kami nampaknya berhasil mengerem nafsu ngeragas Rafi walaupun kalau diamati dia nampak sangat berminat pada bekal yang dibawa teman-temannya. Biasalah, bekal tetangga selalu nampak lebih menggiurkan, bukan?

Sampai akhirnya terjadilah saat yang dikuatirkan itu.... di minggu ke tiga, Ida disambut oleh ibu guru Rafi di akhir jam sekolah dengan laporan, "Ibu, ini lho, tadi Rafi BERBAGI MAKANAN dengan temannya..." Tentu saja istilah 'berbagi makanan' sekedar penghalusan dari peristiwa sebenarnya, yaitu ngerampok. Nggak lama kemudian muncullah Rafi dari dalam kelas, jalan berlenggang kangkung dengan tangan kanan dan kiri menggenggam kentang goreng... padahal jelas-jelas Ida nggak membawakan bekal kentang goreng hari itu.
"Rafi! Heh, Rafi kok ambil makanan temannya? Inget nggak, bunda bilang apa, Rafi makan makanannya sendiri!"
Dibilangin gitu Rafi cuma senyam-senyum tanpa rasa bersalah. Faktanya memang bener sih, dia makan makanannya sendiri sampe habis, tapi sesudahnya dia merasa nggak ada salahnya mencicipi makanan orang lain juga.

Karena merasa kebiasaan ini bisa jadi kebiasaan yang buruk yang memalukan kalau dibiarkan, Ida mencoba berdialog dengan Rafi, "Rafi, denger ya. Bunda kan udah bilang, Rafi makan makanannya sendiri, tidak ambil makanan teman. Sekarang, kentang goreng ini Rafi ambil dari siapa?"
"Temen."
"Siapa namanya?"
"Nggak punya nama."
"Yang mana temennya?"
"Itu." kata Rafi sambil menunjuk salah satu temannya yang lewat.
"Ya udah, sekarang Rafi bilang terima kasih sama dia, dan besok-besok tidak ambil makanannya lagi, ya!"
"Terima kasih, teman!" kata Rafi.

Tapi satu hari yang paling memalukan dalam konteks Rafi dan bekal makanan adalah, ketika hari itu pesanan kue Ida lagi numpuk dan Ida lagi nggak sempet siapin bekal untuk Rafi. Maka hari itu Ida membawakan tempat makanan kosong buat Rafi, sambil berpesan, "Rafi, ini tempat makannya masih kosong, Rafi bawa dulu ya. Nanti sesudah bunda anter Rafi ke sekolah, bunda pergi dulu sebentar beli makanan buat Rafi, ya?"
"Iya, bunda..." jawab Rafi manis.

Setelah mengantar Rafi ke sekolah, Ida bergegas ke toko kue terdekat untuk beli cemilan ala kadarnya buat Rafi. Abis itu dia buru-buru balik ke sekolah, dan... lho, kok tempat makan Rafi udah tercecer di luar tasnya?

Dengan ngeri Ida membayangkan yang terburuk dan firasatnya benar.... salah satu orangtua murid yang menunggui di depan kelas melaporkan sambil cekikikan geli, "Bunda, itu lho si Rafi tadi lari-lari di depan kelas sambil bawa-bawa tempat makannya dan teriak-teriak, 'INI LHOOOO TEMPAT MAKANKU KOSONG! TEMPAT MAKANKU KOSONG! AKU NGGAK PUNYA MAKANAN! TEMPAT MAKANKU KOSOOOOOONGGGGG!!!'"

Pelajaran yang gue petik sejak menjadi orangtua adalah, "Setiap orangtua, suka nggak suka, akan turut menanggung reputasi yang diciptakan oleh anaknya..."

Foto: Rafi, membantu bunda membersihkan cetakan kue.

Tuesday, July 21, 2009

Aa Gym tadi siang: "semua ini hanya topeng"

Apa kabar, Aa Gym? Setelah di tahun 2006 mengumumkan keputusannya untuk berpoligami, jaringan bisnisnya mengalami kemunduran. Seperti diberitakan dalam salah satu posting di Gatra.com, pengunjung Daarut Tauhid berkurang drastis. Bahkan Warta Kota juga pernah memberitakan bahwa perusahaan televisi miliknya juga ikut-ikutan bangkrut dan terpaksa mem-PHK puluhan karyawan. Habis itu nama Aa Gym seperti tenggelam. TV - TV swasta yang dulu rebutan menampilkan Aa Gym di bulan Ramadhan, sekarang seperti alergi dengan sosoknya.

Hari ini, dalam rangka memperingati Isra Mi'raj, kantor gue mengundang Aa Gym untuk mengisi forum kajian mingguan. Maka terus terang kunjungan gue ke acara pengajian kali ini lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang kabar si Aa ketimbang untuk menambah pengetahuan agama... hehehe... Aa Gym hari ini hadir berkemeja lengan panjang warna merah, tanpa sorban ciri khasnya. Kok sorbannya nggak dipake, A'?

"Ah sudahlah, nggak pake ini juga kita tetap bisa diskusi. Semua ini kan hanya topeng..." kata Aa. Iapun menampik saat asistennya mendekat sambil membawakan sorbannya, sebelum ceramah dimulai.

Secara keseluruhan, memang terasa ada yang beda pada dirinya sekarang, dibandingkan 3 tahun yang lalu. Kalo dulu dia nampak lebih ceria, banyak senyum, sekarang seperti tersirat nada-nada getir dalam materi yang dibawakannya.

"Tiga tahun yang lalu saya ceramah cuma bisa ngomong saja, sekarang saya sudah merasakan sendiri yang namanya 'badai'," kata Aa, mengisyaratkan pada keputusan berpoligaminya yang banyak mengundang komentar negatif dari masyarakat. "Dan demi Allah, saya bersyukur dengan keadaan yang saya rasakan sekarang, karena saya bisa belajar banyak sekali."

Seperti bisa membaca pikiran para hadirin yang sebagian masih aja penasaran dengan latar belakang keputusannya berpoligami, dengan cerdik Aa Gym malah memasukkannya sebagai bagian dari ceramah. Dia kayaknya tahu, kalo dia bersikap menutupi, atau menganggap peristiwa itu nggak pernah terjadi, dia akan makin dikejar dengan pertanyaan. Maka sekalian aja dia berulangkali merujuk pada keputusan poligaminya, walau hanya dalam bentuk kiasan atau sentilan yang bernada 'tahu sama tahu lah'.

Misalnya waktu mengulas masalah takdir dan jodoh, Aa bertanya,

"Akhwat di sini, ada yang belum menikah? Ini cuma nanya doang, BUKAN MAU NYARI LAGI KOOOK!! "

Atau saat membahas tentang hidup berumah tangga, Aa dengan santai bilang,

"Jadi buat ibu-ibu di sini, saya kasih tahu aja ya... jangan buru-buru senang kalau suami tiba-tiba banyak memuji. Kalau suami banyak memuji, biasanya itu ada maunya.... Kenapa, PADA MAU BILANG ITU PENGALAMAN PRIBADI AA? "

Gue menangkap Aa Gym sedikit banyak masih menyimpan rasa kecewa pada orang-orang yang pernah menghujatnya, terutama kalangan media. "Orang bisa belajar lebih banyak dari cacian ketimbang dari pujian. Dulu saya dipuji-puji, disanjung-sanjung, tapi sesudahnya mereka juga yang mencaci saya... saya tahu betul bagaimana direktur-direktur televisi itu memblow-up berita poligami saya... padahal dulunya mereka itu..." kata Aa sambil membiarkan kalimatnya menggantung.

Intinya, Aa Gym berpesan bahwa dalam situasi sulit, satu-satunya solusi terbaik adalah dengan evaluasi diri dan bertobat. "Jangan menyalahkan orang yang menghina kita, jangan kesal karena orang mencaci kita, lebih baik kita introspeksi apa saja dosa yang telah kita perbuat. Guru Aa yang mengajarkan, lebih baik Aa banyak bertobat. Dan saat itu Aa disadarkan, betapa banyak dosa yang telah Aa buat. Dulu sibuk aja ngurus bisnis, jarang ketemu dengan anak-anak. Di majalah difoto bareng keluarga, kelihatan bahagia, tertawa, tapi itu cuma di foto saja. Aa boncengan naik sepeda (dengan istri) biar kelihatan harmonis, cuma untuk tujuan publisitas. Aa berkunjung ke rumah yatim, tangan Aa mengelus anak yatim tapi muka sadar kamera, karena niat Aa bukan tulus untuk menyantuni tapi untuk publikasi. Kalau Aa ingat semua itu, ya Allah, betapa banyak dosa Aa..."

Entahlah, versi Aa Gym yang baru ini memang jauh nampak lebih manusiawi ketimbang citra dirinya 3 tahun lalu yang serba putih, suci dan ideal. He's only human, like the rest of us. Memang dia nggak sefenomenal dulu, tapi ngeliat keberaniannya memikul konsekuensi atas pilihan pribadinya, kita justru bisa belajar banyak. Walaupun sampe detik ini belum tertarik untuk berpoligami, tapi gue setuju dengan pandangan orang yang bilang, "kenapa kita mencela orang yang berani berterus terang mengumumkan dirinya punya lebih dari satu perempuan yang HALAL untuk melayani di ranjang, tapi malah toleran terhadap orang-orang yang selingkuh sama entah berapa perempuan nggak jelas?"

Hmm.

Oh iya, hampir lupa. Sebelum acara ceramah dimulai, Aa ngobrol-ngobrol santai dengan segelintir hadirin yang udah ada dan mengajak berdiskusi, "ayo, mumpung kita sudah ada yang kumpul di sini, ada yang mau ditanyakan nggak? Ayo kita berdiskusi!"

Seorang mas-mas menyambut ajakan itu dengan mengajukan pertanyaan soal bom hari Jumat minggu lalu. "Aa, bagaimana pandangan Aa tentang pemboman yang sekali lagi dikaitkan dengan kaum muslim... bukankah ini mencoreng citra kaum muslim A... padahal dalam agama kita kan nggak pernah diajarkan untuk berbuat zalim seperti ini... bagaimana kita harus bersikap menghadapi pandangan negatif masyarakat, A?"

Lantas Aa Gym menjawab secara umum yang kurang lebih intinya, "...ya tidak ada jalan lain kecuali dengan bersikap sebaik-baiknya dan membuktikan bahwa Islam tidak mengajarkan hal-hal seperti itu...

"OK. Siapa lagi yang mau tanya?"

Semua pada diem, kelamaan. Maka daripada sepi gue angkat tangan.

"Aa... saya mau tanya..."

"Yak silakan, mau tanya apa?"

"Aa... PERNAH KETEMU AA JIMMY NGGAK? Itu loh, pemain sinetron yang suka niruin Aa..."

Aa Gym nampak agak shock mendengar penurunan kualitas pertanyaan yang begitu drastis, sementara beberapa hadirin lain menghela nafas dengan tampang males. "Yah, pernah sih... dia waktu itu datang ke rumah saya, diantar orangtuanya... Ada pertanyaan lain?"

"Trus waktu itu... NGOBROL APAAN AJA, A'? "

"ADA PERTANYAAN LAIN???!!"

Friday, July 17, 2009

SMS: akan ada 4 bom lagi? 8 bom lagi? 100 bom lagi?

Seperti yang udah-udah, setiap kali baru terjadi bencana, langsung bermunculan SMS-SMS nggak jelas yang memberitakan akan ada bencana susulan segera terjadi. Seperti pernah gue bahas di posting yang ini, ada aja orang iseng yang menciptakan SMS meresahkan, dan repotnya masih banyak juga orang yang cukup dogol untuk menyebarluaskannya sehingga teror semakin menyebar.

Entahlah, tapi kayaknya diem-diem kita berharap sebuah bencana nggak berhenti sampai di situ. Bencana kita anggap seperti film box-office: harus ada lanjutannya. Dan cukup banyak orang yang memilih untuk percaya bahwa lanjutannya memang betula-betul akan ada.

Sekarang gini aja deh guys, gue tanya sama kalian: Adakah di antara kalian yang pernah menerima peringatan via email / SMS tentang adanya bencana tertentu (entah tsunami atau bom) dan belakangan memang betulan terjadi bencana tepat pada lokasi, tanggal, dan jam yang disebutkan dalam email / SMS tersebut?

Kalo sampe ada, mungkin memang kita harus lebih memperhatikan SMS - SMS sejenis, tapi coba bayangin: kalo kita adalah seorang tukang bom, yang udah menghabiskan waktu sekian jam / sekian hari untuk merakit bomnya, dengan harapan saat meledak nanti akan memakan sebanyak mungkin korban, MUNGKINKAH KITA LANTAS ISENG MUNGUT HP DAN MENGIRIMKAN SMS PERINGATAN YANG AKAN MEMBUAT BOM TERSEBUT SIA-SIA?

Yang udah terjadi adalah, bom selalu meledak di waktu dan tempat yang sama sekali nggak terduga.

Gunakan sedikit akal sehat, guys, dan berhentilah mengedarkan SMS-SMS bodoh yang meresahkan masyarakat.

Sunday, July 12, 2009

unsolved mystery: apa bedanya es campur dan es shanghai?

Sebagai penggemar aneka jenis es serut, jenis es yang satu ini memang rada membingungkan. Biasanya, sebuah restoran cuma menyediakan es shanghai aja, ATAU es campur aja. Sempet terpikir oleh gue bahwa es campur itu sekedar nama lain dari es shanghai. Toh penampakannya kurang lebih sama: aneka buah-buahan, kolang-kaling, cincau, kadang ada tape singkong juga, ditimbun es serut yang dikucuri sirup merah dan susu kental manis putih. Tapi di beberapa resto, kedua jenis es ini tampil bersamaan di daftar menu. Hasilnya adalah kerancuan parah di kalangan para waiter.

Seperti yang pernah gue alami di sebuah resto masakan sunda di bilangan Cikini Raya. Es Campur dan Es Shanghai sama-sama tercantum di menu. Maka bertanyalah gue kepada mas waiter, "Mas, apa sih bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Shanghai pakai santan, pak..." jawab si mas yakin.
"Kalau Es Campur?"
"JUGA".

=ini dialog 100% nyata, gue nggak ngarang walaupun kedengerannya seperti cuplikan salah satu joke dari e-mail=

Barusan, gue abis makan di sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo. Lagi-lagi ada Es Campur dan Es Shanghai di menu.
"Mbak, apa bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Campur, pakai cendol, pak. Kalau Es Shanghai tidak pake cendol," jawab si mbak yang nampak lebih koheren ketimbang mas waiter di Cikini.
"OK, kalau gitu saya pesan Es Shanghai, dan untuk istri saya Es Campur," kata gue.

Nggak lama kemudian muncul seorang mas waiter membawakan dua mangkok es serut yang selintas nampak identik. Saat dia meletakkan pesanan di meja, gue tanya, "Mas, yang mana yang Es Campur?"
"Yang ini pak," katanya sambil menunjuk salah satu mangkok. Maka gue serahkah mangkok tersebut kepada Ida.
Nggak lama kemudian ida mulai bertanya-tanya, "Mana, katanya Es Campur ada cendolnya, ini kok nggak ada?"
"Yang ada cendolnya, Es Shanghai, bu," jawab mas waiter.

Sekitar lima menit kemudian, mbak waiter yang pertama menerima pesanan muncul untuk mengantarkan makanan, dan bilang, "Pak, mohon maaf, seharusnya yang Es Campur yang ini," katanya sambil menunjuk mangkok di hadapan gue, "YANG ADA CENDOLNYA."

Buat yang lagi makan di resto dan mulai kehabisan bahan obrolan, coba deh cek daftar menunya. Kalo ada Es Shanghai dan Es Campur tercantum di sana, tanyain apa bedanya sama para waiter, dan nikmati pembahasan filosofis tentang makna dan hakikat semangkok es serut...

Gambar: Es Campur (atau Es Shanghai?) dari sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo

Wednesday, July 08, 2009

motret apaan sih oom?

Di koran Kompas terbitan beberapa hari yang lalu, gue nemu sebuah iklan produk wadah plastik. Tadinya sih gue nggak terlalu tertarik sama iklan itu, tapi... rasanya kok ada yang aneh, ya?

Ini dia iklannya:

Nemu apa yang aneh dari iklan ini?

Yak... posisi jari si tokoh bapak waktu motret!

Dia megang kamera dengan posisi menghadap ke belakang, maksudnya untuk motret dia dan keluarga di depan gedung opera Sydney. Masalahnya, sepanjang yang gue tau tombol shutter kamera umumnya ada di sebelah kanan, sedangkan dia megang kamera di sisi kirinya.


Kalo dia mau megang kamera dengan cara seperti itu, seharusnya dia menggunakan tangan kiri. Atau, kalo mau pake tangan kanan, harusnya telapak tangannya juga menghadap ke belakang sehingga dia bisa mencet tombol shutter dengan jari kelingking atau jari manis. Tapi konsekuensinya kamera jadi nggak tertangkap di foto iklan ini, karena tertutup telapak tangannya.

Kemungkinan lainnya, bisa juga dia set auto-timer dulu sebelum megang kamera dengan posisi seperti ini. Tapi tentunya lebih gampang motret dengan tangan kiri, kan?

Demikian ulasan kurang kerjaan edisi malam ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Tuesday, July 07, 2009

rafi: tante ari itu...

Saat ini Rafi lagi latihan menggunakan kosa kata baru, yaitu "apa" dan "siapa". Beberapa hari yang lalu gue denger dia lagi tanya jawab sama dirinya sendiri:

"Bapak itu SIAPA? Bapak itu Agung..."
"Bunda itu SIAPA? Bunda itu Ida..."

Abis itu dia mikir-mikir, kira-kira siapa lagi ya yang bisa gue bahas, mungkin gitu pikirnya.

Tau-tau dia nanya:

"Bapak... tante Ari itu APA?"

Tentunya gue jawab dengan bijak, "Rafi, tante Ari itu manusia juga seperti kita, walaupun mungkin tingkahnya seringkali rada aneh..."

Rafi manggut-manggut maklum.

foto: Rafi dan tante Ari di talkshow si mbot di Jogja.

Monday, July 06, 2009

lift anti klenik

Tadi pagi gue berkunjung ke kantor salah satu instansi pemerintah, dan menemukan sebuah keunikan di liftnya. Sebuah hal yang jarang banget gue temukan di lift-lift geung lain, yaitu...



...tombolnya lengkap, termasuk angka 4. 13 dan 14 yang selama ini dihindari orang karena dianggap bawa sial! Hebat! Akhirnya, ada juga perancang gedung yang nggak peduli sama hal2 klenik model ginian.

Ada yang pernah ngeliat lift lain yang tombolnya selengkap ini?


foto diambil di gedung Dirjen Pajak Menteng, Jl. Ridwan Rais Gambir.

Sebuah usulan bodoh untuk dunia pendidikan Indonesia

Beberapa hari yang lalu, gue nguping pembicaraan dua orang di lift tentang pusingnya mendaftarkan anak di sekolah 'unggulan'. Berdasarkan obrolan kedua orang ini, gue berkesimpulan bahwa peringkat sekolah ditentukan oleh nilai rata-rata lulusannya. Itulah sebabnya sekolah-sekolah unggulan mensyaratkan nilai minimal yang tinggi dari para calon siswanya, tentunya dengan harapan agar mereka juga akan lulus dari sekolah itu dengan nilai yang tinggi juga sehingga bisa mendongkrak peringkat sekolah. Ini kalo nggak salah lho, namanya juga hasil nguping.

Kalo menurut gue, praktek seperti ini justru mulai melenceng dari esensi fungsi sekolah itu sendiri. Yang namanya sekolah kan tempat belajar,maka logikanya sekolah dinilai bagus atau jelek dari keberhasilannya membuat para muridnya menjadi lebih pinter. Kalo sebuah sekolah dimasuki murid-murid yang nilai rata-ratanya 9, lalu murid-murid tersebut lulus dari sana dengan nilai rata-rata 9, itu sih bukan berarti sekolahnya yang hebat, tapi emang murid-muridnya yang pinter!

Sekarang coba gue tanya kepada kalian semua yang kebetulan punya pengalaman mengajar, baik mengajar di depan kelas, atau sekedar ngajarin adik bikin PR: mana yang lebih sulit dan butuh upaya lebih besar: ngajarin anak yang emang dari sononya udah pinter, atau ngajarin anak lemot yang saat diterangin mulutnya bisa dijadiin pot taneman hias saking lebar nganganya? Pastinya anak-anak lemot butuh upaya dan keahlian yang lebih besar dari gurunya, kan? Lantas kenapa sekolah-sekolah yang cuma menerima murid-murid pinter dapet peringkat lebih bergengsi, sementara upaya yang mereka keluarkan untuk mendidik anak-anak pinter ini jauh lebih sedikit?

Entah kenapa, tiba-tiba gue teringat pada progam sales contest di kantor gue. Sebagaimana umumnya sales contest, kriteria pemenang "Best Sales Performance" adalah kantor cabang yang bisa menjual paling banyak. Tapi selain itu juga ada kriteria "Best Sales Improvement" buat kantor cabang yang peningkatan penjualannya terbesar, walaupun mungkin belum mencapai angka penjualan terbesar. Misalnya gini: kantor cabang A, tahun lalu punya nilai penjualan 85 juta dan tahun ini 100 juta, sedangkan kantor cabang B tahun lalu hanya menjual senilai 20 juta tapi tahun ini berhasil menjual 75 juta. Dengan demikian, kantor cabang A memenangkan penghargaan "Best Sales Performance", dan kantor cabang B memenangkan penghargaan "Best Sales Improvement". Tujuan diadakannya kriteria "Best Sales Improvement" ini adalah untuk memotivasi kantor-kantor cabang yang baru buka. Dari segi total nilai penjualan jelas mereka akan kalah dibanding kantor-kantor cabang lain yang udah lebih lamaan bukanya, karena namanya juga kantor cabang baru, customernya juga pasti belum banyak. Kriteria "Best Sales Improvement" memungkinkan mereka untuk berkompetisi secara lebih adil dengan kantor cabang lainnya, baik yang udah lama maupun yang baru buka.

Nah, usul gue, gimana kalo peringkat sekolah juga dihitung dengan cara yang sama, yaitu mempertimbangkan nilai rata-rata kelulusan DAN peningkatan nilai murid-muridnya saat baru masuk dan setelah lulus.Maksudnya, yang menentukan peringkat sebuah sekolah bukan cuma rata-rata nilai para lulusannya tapi juga seberapa banyak murid-murid itu mengalami perbaikan nilai. Dengan demikian SMA A yang menerima siswa dengan nilai rata-rata 7 dan berhasil mencetak lulusan dengan nilai rata-rata 9, seharusnya punya peringkat lebih tinggi daripada SMA B yang menerima murid dengan nilai rata-rata 8,6 dan mencetak lulusan dengan nilai rata-rata 9,2.

Seandainya cara perhitungan peringkat seperti ini diterapkan, maka sekolah-sekolah unggulan nggak akan lagi jor-joran menetapkan nilai minimal setinggi langit, karena kalo mereka cuma menerima murid dengan nilai rata-rata 9,9 mau ditingkatin jadi berapa lagi? Sebaliknya, sekolah-sekolah yang selama ini dinilai 'under dog' punya kesempatan unjuk gigi dan membuktikan bahwa mereka sebenarnya telah bekerja lebih keras untuk meningkatkan nilai para siswanya.

Gimana menurut kalian, setuju dengan usulan gue?

Sunday, July 05, 2009

[review] transformers: revenge of the fallen


Tanpa gue sadari, ternyata selama ini gue ngefans sama Michael Bay. Baru beberapa hari yang lalu gue tau bahwa dialah sutradara dari sejumlah film yang menurut gue bagus. Transformers, Bad Boys I & II, The Rock, Pearl Harbour, Armageddon, bahkan The Island yang jeblok di box-office pun menurut gue keren, dan semuanya disutradarai oleh Bay. Dan tahun ini, muncullah karya Bay yang terbaru: Transformers: Revenge of the Fallen (selanjutnya gue singkat TROTF).

Satu hal yang gue suka dari film-filmnya Bay adalah; selain adegan-adegan actionnya gila-gilaan, nggak sayang buang-buang duit untuk bikin adegan yang seru, juga punya cerita yang lumayan berbobot. Minimal nggak asal tembak, tonjok dan meledak; ada sisi-sisi kemanusiaan yang ikutan terangkat ke layar. Makanya waktu denger dia lagi ngegarap sekuel Transformers, ekspektasi gue lumayan tinggi. Toh udah terbukti Bad Boys II nggak kalah seru dibanding Bad Boys pertama.

Eh ternyata, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan.

Resiko yang harus ditanggung sebuah film sekuel adalah mau nggak mau penonton akan membandingkannya dengan film pertamanya. Masalahnya, film Transformers pertama itu bagus. Ada sejumlah plot paralel yang menceritakan tokoh Mayor Lennox yang kebingungan menghadapi serbuan robot asing di Qatar, dan Sam yang kebingungan ngeliat mobil barunya bisa ngabur sendiri dari garasi. Belum lagi ada unsur salah paham dari pihak pemerintah yang sempat menyandera Bumblebee, sementara para Decepticons yang seharusnya ditangkep malah bebas berkeliaran merencanakan serbuan pembebasan sang Megatron. Penonton dibikin gregetan dan harap-harap cemas. Sedangkan di TROTF, Autobots dan pemerintah udah berteman baik. Bumblebee udah jadi piaraan Sam. Mayor Lennox udah naik pangkat dan hidup makmur (kayaknya, soalnya dia jadi rada gendutan). Belum-belum film ini udah kehilangan sejumlah elemen penting yang sempet menyumbang ketegangan di film pertamanya. Dan untuk mengkompensasinya, Michael Bay melakukan kesalahan yang sama dengan banyak sutradara film sekuel lainnya: menambah karakter.

Coba inget dari serial Lethal Weapon, Batman pasca Tim Burton - pra Batman Begins, X-Men, dan Spiderman: bertambahnya angka di judul film diiringi oleh bertambahnya jumlah tokoh, dan berkurangnya kekuatan cerita. Secara statistik bego-begoan aja, kalo sebuah film dengan durasi 120 menit bercerita tentang 2 orang tokoh, maka rata-rata setiap tokoh kebagian jatah waktu 60 menit. Kalo film tersebut dibuat sekuelnya, dan ditambahi 3 tokoh baru sementara durasinya tetap 120 menit, udah jelas jatah waktu untuk menceritakan tokoh-tokohnya akan berkurang drastis. Akibatnya, para tokoh jadi terkesan numpang lewat, dan cerita filmnya jadi terkesan kurang solid.

Plot utama TROTF sangat terasa diada-adainnya: sejak petualangannya di film Transformers pertama, rupanya Sam kemasukan sejumlah informasi dari Allspark (kubus ajaib yang jadi rebutan antara kubu Autobots dan Decepticons). Akibatnya, di kepala Sam tersimpan informasi tentang The Matrix, yaitu... benda ajaib lainnya yang akan jadi rebutan antara Autobots dan Decepticons! Sementara plot pendukungnya yaitu tentang pengalaman Sam masuk kuliah terasa kurang kuat, dan cuma buat alasan untuk menampilkan adegan-adegan konyol dari kedua orangtuanya (nangis secara berlebihan, dan mabok brownies ganja di kampus).

Sedangkan robot-robot barunya, yah secara special effect pastinya nggak perlu dikomentarin lagi. Udah pasti canggih dan mulus, walaupun di beberapa adegan pengambilan super close-up malah bikin penonton kesulitan nangkep adegannya. Tapi yang paling mengganggu adalah karakterisasinya itu lho, maksa banget. Bumblebee yang di akhir film Transformers 1 diceritain udah bisa memulihkan suaranya sehingga nggak perlu ngomong lewat siaran radio lagi, di TROTF tiba-tiba kembali gagu. Trus tiba-tiba ada salah satu anggota Decepticons yang bisa nyamar jadi manusia. Padahal sejak film Transformers 1 digambarkann bahwa para robot itu cuma bisa meniru manusia dalam bentuk hologram yang duduk di belakang setir untuk menyamarkan fakta bahwa mereka bisa keluyuran sendiri tanpa supir. Itupun hologramnya nggak sempurna, kadang masih kedip-kedip gitu. Kalo memang mereka bisa menyamar jadi manusia, ngapain capek-capek nyamar jadi mesin giling yang gampang ketahuan? Belum lagi kemunculan 2 robot kembar, Mudflaps dan Skid yang bertingkah kenegro-negroan dan cekcok melulu biar nampak agak lucu, tapi malah jadi norak. Mereka mengingatkan gue pada tokoh konyol Jar-Jar Blinks di film Star Wars episode I, yang abis-abisan dicaci-maki para fans setia Star Wars dan secara mengenaskan langsung nggak pernah nongol lagi di episode II dan III. Asal tau aja, George Lucas, sutradara Star Wars, adalah teman sekaligus mentor panutan Michael Bay. Makanya gue bilang, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan. Untuk urusan ide-ide memunculkan tokoh lucu, kayaknya George Lucas bukanlah mentor yang baik.

Abis itu Megan Fox, yang pamornya melejit di Transformers pertama sebagai cewek super hot, di sini tampil mati-matian untuk menjadi lebih hot. Dulu, posenya yang lagi nungging di depan kap mesin Bumblebee jadi salah satu adegan yang paling dikenang orang dari film Transformers. Di TROTF, Bay berusaha mengulang hal yang sama dengan membuat Megan Fox kembali nungging, kali ini di atas motor. Gue nggak akan heran kalo di film Transformers 3 diceritakan pembatunya Megan Fox lagi mudik sehingga dia terpaksa kembali nungging untuk ngepel rumah. Tapi yang jelas, salah seorang temen gue berkomentar sebagai berikut: "Adegan paling keren dari TROTF adalah waktu Megan Fox lari slow motion, cuma pake tanktop, dan dadanya gondal-gandul seperti mau melarikan diri keluar." Andaikan Bay denger komentar ini, mungkin dia akan jedot-jedotin kepala ke aspal setelah menghabiskan budget 200 juta dollar untuk bikin aneka special effect tapi yang diinget penonton cuma 2 onggok lemak gondal-gandul.

Akhir kata, film ini seru, keren, canggih, tapi sebelum film mulai tolong matikan dulu otak kalian. Atau minimal, kurangi kepedulian kalian pada cerita, dan fokuslah pada special effectnya.

[review] ketika cinta bertasbih


Apa sih yang bikin kita betah nonton sebuah film dari awal sampe akhir? Setiap orang mungkin punya jawaban yang berbeda, tapi salah satu di antaranya adalah kepedulian akan nasib tokoh filmnya. Misalnya, kenapa kita ikutan deg-degan saat tokoh jagoan di sebuah film lagi terkepung musuh? Karena kita peduli pada nasib tokoh jagoan itu. Kita nggak ingin tokoh itu dikalahkan penjahat. Kenapa para ibu penggemar sinetron ikutan berteriak-teriak gemes saat tokoh gadis cantik yang lugu mengiyakan lamaran pemuda brengsek yang sebenarnya hanya mengincar harta warisan si gadis? Karena ibu-ibu itu nggak rela tokoh kesayangannya hidup menderita bersama si pria brengsek.

Lalu apa yang terjadi kalo seorang penonton nggak tergugah kepeduliannya pada nasib para tokoh yang lagi ditontonnya? Jawabannya adalah apa yang gue rasakan saat nonton film "Ketika Cinta Bertasbih" (KCB) sore tadi. Konflik demi konflik bermunculan silih berganti, tapi nggak ada satupun yang bisa bikin gue ikutan gregetan menunggu-nunggu gimana akhirnya. Emangnya kenapa kalo tokoh Azzam gagal mendapatkan gadis pujaannya gara-gara dia cuma mahasiswa miskin yang membiayai kuliah dengan jualan tempe? Lantas kenapa kalo tokoh Fadil jantungan? Apa dasar pertimbangannya sehingga tokoh Anna selalu memilih jilbab berbahan kaos yang membuat dia nampak seperti alien berleher panjang dan berkepala mini? Semua, kecuali yang terakhir, adalah pertanyaan-pertanyaan yang gagal mengusik kepedulian gue sebagai penonton.

Dengan memajang cap "Dijamin Mesir Asli" di posternya, film ini nampaknya berusaha keras meyakinkan penonton bahwa shootingnya betulan dilakukan di Mesir; sejak menit pertama. Gue memang nggak berharap KCB menggarap opening creditnya seserius film "Superman Returns" yang punya satu tim khusus untuk bikin opening credit doang, atau film "Watchmen" yang opening creditnya sampe jadi topik bahasan panjang lebar di berbagai forum. Tapi gue masih sulit percaya di era perfilman Indonesia yang udah modern ini masih ada film yang opening creditnya cuma cuplikan-cuplikan kegiatan sehari-hari di Mesir: ada orang jual beli di pasar, taksi lewat, bis lewat, mahasiswa lewat... mirip cuplikan siaran berita tentang kehidupan orang Mesir. Yang kurang cuma narasi berusara nge-bass, "Penduduk Mesir, saat ini berjumlah..." Sama sekali nggak ada kontribusinya terhadap cerita, kecuali lagi-lagi cuma bermaksud meyakinkan penonton: "Ini shootingnya di Mesir lho, nggak kayak film kami yang sebelumnya, yang banyak kesandung masalah perijinan itu, yang ini beneran di Mesir lho... bener deh... sumpah....janji... " Urusan "dijamin mesir asli" ini menjadi ironis saat muncul adegan makan ikan di pantai yang nampak sangat jelas diambil dengan bantuan efek komputer. Warna langitnya aneh, dan bintang-bintangnya seperti lampu hiasan etalase toko.

Abis itu bermunculanlah tokoh-tokoh, semuanya berebutan ingin merebut perhatian penonton dengan dramanya masing-masing, dan di mata gue nggak satupun berhasil. Ada Azzam, mahasiswa miskin yang udah 9 tahun nggak lulus-lulus karena harus kuliah sambil jualan tempe. Ada tokoh Furqon, mahasiswa kaya yang gemar foya-foya. Ada Anna, mahasiswi pasca sarjana yang "cantik, anggun, pintar", tapi bener deh, model jilbabnya bikin gue senewen banget. Kemunculan ketiga tokoh tadi masih direcoki oleh beberapa tokoh kurang penting; ada yang jantungan, ada yang ngasih tumpangan nginep buat penjahat terkenal, ada yang naksir adiknya temen sampe gemeteran waktu bawa nampan minuman. Siapa mereka, dan apa pentingnya mereka dapet porsi sebesar itu dalam rangkaian cerita film ini?

Waktu nonton Ayat-Ayat Cinta, yang juga diangkat dari buku karya penulis yang sama dengan KCB, gue merasa ada terlalu banyak cerita yang mau dipaksakan masuk dalam durasi film yang terbatas. Dulu gue kira AAC adalah film yang pas-pasan, makanya cuma gue kasih bintang tiga. Tapi setelah nonton KCB, tiba-tiba AAC jadi terasa jauh lebih bagus. Minimal, gambar-gambar yang muncul di AAC nampak jauh lebih artistik dan berwarna (sekalipun settingnya bukan "Asli Mesir"). Nggak ada adegan close-up yang berlebihan mirip sinetron. Lagu latar muncul seperlunya di saat-saat yang tepat. Saat para tokoh nangis, penonton merasa masalah mereka memang cukup pelik untuk ditangisi.

Dari segi materi cerita, sebenernya KCB bisa diolah jadi lebih menarik. Misalnya, kondisi di mana orang-orang di sekitar Azzam dan orang-orang di sekitar Anna banyak yang saling mengenal sementara Azzam dan Anna sendiri malah belum kenal, seharusnya bisa jadi modal yang cukup untuk bikin penonton gregetan. Sedangkan urusan si Fadil yang jantungan atau si siapa tuh namanya yang naksir adiknya Fadil tapi nggak berani ngomong, gue rasa nggak perlu terlalu dipaksakan untuk ikut muncul dalam film.

Tapi yah, namanya film kembali ke selera subyektif setiap orang. Ibu gue nampak sangat menikmati film ini, dan saat lampu bioskop nyala langsung nanya, "jadi kapan yang nomer 2 diputer di bioskop?". Juga ada bapak dan ibu yang kebetulan satu lif sama gue berkomentar dengan suara bindeng tersumbat ingus, "saya sampai nangis nonton film barusan... bagus sekali..."

Buat gue, satu hal yang bisa gue simpulkan dari film ini adalah...

...ternyata Habiburrahman El Shirazy, penulis novel KCB yang ikutan main di sini, mirip banget sama Wib ya? Silakan bandingkan sendiri:



Buat Wib, kalo besok-besok ada rencana bikin film kisah nyata tentang kehidupan Habiburrahman El Shirazy, jangan lupa daftar untuk ikutan casting ya!

poster film gue pinjem dari situs resmi KCB.

[review] king


"Indonesia banget, sih!"
Biasanya, sadar nggak sadar, kata-kata barusan gue lontarkan kalo ketemu aneka hal negatif di negeri ini. Misalnya, kalo ketemu orang main serobot-serobotan di jalan raya, denger berita fasilitas umum rusak padahal baru sebulan diresmiin, tersangka korupsi tiba-tiba bisa minggat ke luar negeri, atau yang paling sering kalo atlet / tim olah raga kita tersingkir di babak penyisihan, bahkan kualifikasi.

Tapi syukurlah, "Indonesia Banget" yang gue rasakan setelah nonton film ini jauh lebih positif ketimbang biasanya. Film ini memang "Indonesia Banget"; mulai dari cerita yang mengangkat salah satu olah raga paling populer di Indonesia, gambar-gambar keren yang mengekspos keindahan alam, dan tokoh-tokohnya yang sangat membumi.

Ceritanya sederhana aja: tentang usaha seorang bocah 12 tahun bernama Guntur yang sangat berbakat main bulu tangkis, dan berusaha masuk klub bulu tangkis bergengsi. Dia dilatih oleh bapaknya (diperankan secara sangat - sangat - sangat bagus oleh Mamik Srimulat) dan didukung oleh dua orang sahabatnya, Raden dan Michele.

Berbeda dengan tipikal film-film bertema olah raga ala Hollywood yang selalu menggambarkan tokoh lawan sebagai sosok angkuh yang menyebalkan dan terkadang main curang, di film ini penggambaran seperti itu nyaris nggak ada. Pesan utamanya memang bukan cuma bagaimana perjuangan untuk menjadi juara, melainkan bagaimana menjadi juara dengan cara yang benar.

Entah gimana caranya, tapi gue merasa bahwa pengambilan setiap gambar yang muncul di film ini dilakukan dengan perhitungan yang sangat detil - kalo nggak mau dibilang kompulsif. Komposisi obyek, perpaduan warna, sampe gerakan kameranya dibuat sangat artistik. Coba aja perhatiin waktu kamera menyorot pepohonan yang pucuknya diliputi kabut dari bawah, atau penggunaan helikopter untuk mengambil panorama alam yang menghijau... keren banget! Walaupun begitu, di beberapa adegan menjelang akhir film gerakan kamera yang selalu memulai setiap adegan dari bawah ke atas terasa monoton, tapi secara keseluruhan film ini diambil dengan "sangat mau susah" (karena banyak film Indonesia lainnya yang nampak males menggerak-gerakkan kamera ke sudut-sudut yang ngerepotin).

Rangga Raditya, pemeran Guntur yang baru pertama kali ini main film, tampil lumayan. Masih perlu banyak dipoles, tapi nggak jelek kok. Yang jelas, dia ini kayaknya emang beneran bisa main bulu tangkis, deh. Ada banyak adegan dia bertanding bulu tangkis yang diambil dari jarak menengah, memperlihatkan bahwa memang beneran dia yang bertanding, tanpa stand-in.

Tokoh Raden, sahabat Guntur diperankan oleh Lucky Martin. Kalo nggak salah anak ini adalah pemeran iklan Axis yang judulnya 'Si Amir' (CMIIW). Sebenernya nggak ada yang salah sih dengan aktingnya, tapi... hmmm... gimana ya, buat gue tampangnya rada nyebelin dan tua banget, jadi rasanya rada mengganggu jalannya film. Kalo memang bener dia itu pemeran iklan Axis, dulu gue pernah mengomentari iklan itu dengan "Amir, 12 tahun? Tampangnya kayak anak kuliahan semester 3".

Terlepas dari sedikit kekurangan di sana-sini yang masih dalam batas bisa diabaikan dan dimaafkan, film ini adalah sebuah film yang bisa bikin gue bilang "Indonesia Banget" dengan rasa bangga jadi orang Indonesia...

[review] coraline (graphic novel)

Komik ini gue dapatkan berkat kerelaan Haris nyasar-nyasar di labirin Tebet hanya untuk mengantarkan sebuah buku. Buat Haris, makasih ya!

Pertama-tama sebagai seorang penulis gue sangat menyambut baik terbitnya buku-buku seperti komik Coraline ini, karena keberadaannya di toko buku kemungkinan akan sama dengan buku si mbot yaitu: salah rak! Kalo diliat dari penampakan fisiknya, Coraline adalah komik, atau jaman sekarang orang lebih suka menyebut 'graphic novel', sehingga mungkin akan dipajang di rak-rak komik anak-anak. Ceritanya juga bertokohkan seorang bocah, dengan sudut pandang khas tokoh cerita anak-anak pada umumnya yaitu sering sebel karena diremehkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Tapi kalo komik ini dibaca anak-anak, hmmm... gue kuatir para orangtuanya akan kerepotan karena anaknya mendadak nggak berani pipis sendiri di tengah malam!

Sesuai judulnya, komik ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis kecil bernama unik, Coraline. Dia dan kedua orangtuanya baru pindah ke sebuah rumah besar yang juga dihuni oleh orang-orang nyentrik. Ada sepasang ibu-ibu tua mantan penari yang hobi meramal nasib lewat daun teh, juga ada bapak tua yang mengaku sedang sibuk melatih tikus-tikus untuk main sirkus.

Sebagai anak yang nggak bisa diem, Coraline sibuk menjelajah rumahnya yang besar itu sampe akhirnya dia menemukan sebuah pintu ajaib. Saat pertama kali ditemukan, di balik pintu itu cuma ada dinding bata. Menurut ibunya Coraline, di balik dinding itu cuma ada ruang kosong yang nggak dipake lagi. Tapi di lain kesempatan, Coraline kembali mencoba membuka pintu itu dan menemukan bahwa di baliknya ada... sepasang suami istri yang penampakannya persis seperti ayah dan ibunya. Satu hal yang membedakan adalah, mereka nggak punya mata! Sebagai ganti mata, cuma ada sepasang kancing hitam terpasang di muka mereka.

Karena udah bosan nggak punya teman bermain, Coraline senang-senang aja ketemu sosok-sosok aneh yang minta dipanggil "The Other Daddy" dan "The Other Mommy" ini. Apalagi mereka mencekoki Coraline dengan berbagai makanan enak, mainan, dan pakaian yang bagus-bagus. Tapi Coraline mulai merasakan adanya masalah saat kedua orangtua 'baru' ini mulai mendesaknya untuk tetap tinggal bersama mereka, dan di saat yang bersamaan orang tua aslinya lenyap entah ke mana...

Coraline pertama kali diterbitkan tahun 2002 dalam bentuk novel, ditulis oleh Neil Gaiman, seorang penulis asal Inggris. Novel ini sukses mendapat penghargaan di mana-mana, sehingga pada tahun 2008 yang lalu diadaptasi dalam bentuk komik oleh Philip Craig Russell, seorang ilustrator dari Amerika. Bukan cuma itu, bulan Februari 2009 Coraline juga udah diangkat ke layar lebar dalam bentuk film stop motion (animasi menggunakan boneka) dengan sutradara Henry Selick (Nightmare Before Christmas). Lagi-lagi filmnya juga dapet banyak pujian dari para kritikus. Ngeliat trailernya, gue juga jadi penasaran ingin nonton filmnya. Sayang DVDnya baru rilis akhir Juli nanti. Sementara itu, berhubung gue baru baca komiknya, mari kita review komiknya aja.



Dari segi ide cerita, ini adalah salah satu cerita paling sinting, gila, miring yang pernah gue baca. Bukan cuma tokoh-tokohnya yang aneh-aneh, tapi juga reaksi si tokoh utama yang santai-santai aja ketemu orang bermata kancing, atau nemu sebuah gedung pertunjukan yang penontonnya semuanya anjing. Kalo mau dibilang horror, buku ini nggak berusaha menyajikan cerita serem yang bikin pembacanya ngeri karena takut dicaplok setan bertaring, tapi justru dengan menampilkan adegan demi adegan ajaib secara biasa-biasa aja seolah bagian dari keseharian setiap orang. Tapi toh tetap terasa ada sesuatu yang ganjil, gila, nggak normal, yang bikin pembaca tanpa terasa bergidik.



Sebagai ilustrator kawakan, Russell mengambil langkah yang cukup berani saat menterjemahkan novel ini dalam bentuk gambar-gambar realistik, sedangkan cover novel dan filmnya dikemas dalam visualisasi yang 'ngartun'. Dalam salah satu wawancara, Russell mengaku mencoba menterjemahkan setiap halaman novel ke dalam setiap halaman komiknya. Itulah sebabnya jumlah halaman novelnya hampir sama dengan komiknya. Hasilnya adalah sebuah karya yang sempurna: setiap panel gambarnya punya tempo gerak sendiri-sendiri mengikuti alur cerita. Di bagian awal terasa pelan untuk menggambarkan kebosanan Coraline yang kurang kegiatan, tapi makin ke belakang temponya makin terasa cepat dan menegangkan. Dengan nekadnya Russel juga melawan pakem 'komik horror' yang biasanya didominasi warna-warna gelap dan opaque, tapi dia komik ini dia malah banyak memakai warna - warna ceria bersaturasi rendah... seolah semua baik-baik aja, tapi MATANYA DARI KANCING... hiiiy...!!



Buat para orangtua yang mau membelikan buku ini untuk anaknya, jangan ngomel kalo harus bangun malem-malem nemenin pipis. Sedangkan buat para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis.

Monday, June 29, 2009

berita duka: account menhariq dihack!

Pagi tadi gue dikabarin sama Eriq bahwa account multiply, gmail, dan yahoo-nya dihack orang. Pelakunya berhasil mengganti password, bahkan security question pengingat passwordnya. Bukan cuma itu, dia juga mengganti headshot mp eriq dengan gambar porno, dan mengirimkan pesan2 ajaib lewat yahoo messengernya. Jadi kalo ada yang nerima pesan2 aneh dari eriq di YMnya, abaikan aja ya. Parahnya lagi, dia juga menghapus sebagian besar posting yang pernah dibuat eriq di MPnya.

Untuk mencegah pelakunya berbuat kerusakan lebih besar, eriq telah mendisable account MPnya dengan harapan nanti bisa dihidupkan lagi lewat admin. Mudah2an berhasil.

Buat semuanya, perlu lebih hati-hati lagi menyimpan password. Jangan pernah gunakan layanan online untuk menyimpan password, seperti misalnya salah satu add-on firefox yang bisa mengintegrasikan password. Begitu layanan itu kena hack, maka seluruh password yang kita simpan di sana bisa jadi mainan orang gila.

Semoga eriq bisa merebut kembali account-accountnya yang dicuri.

Wednesday, June 17, 2009

Mau jadi Presiden MP? Ini dia syaratnya...

Sejak Vina memposting soal "Presiden MP", mendadak topik ini mengemuka lagi. Bener seperti apa yang ditulis Vina di postingnya, bahwa mungkin nggak sedikit orang yang ingin juga 'menduduki' jabatan sebagai presiden MP. "Gimana sih caranya jadi presiden MP? Gue juga mau!"

Buat yang mengira bahwa Presiden MP adalah sejenis jabatan kehormatan, mirip ketua kelas atau ketua OSIS atau ketua gank, yang menandakan bahwa pemegangnya adalah seseorang dengan privilese lebih, paling keren dan top di jagad MP ini, kalian baru setengah benar. Fakta setengahnya lagi adalah bahwa untuk mendapat pengakuan masyarakat sebagai presiden MP, ada banyak (banget) hal yang harus kalian lakukan, sebagian besar di antaranya sangat nggak enak, melelahkan, ngga hore maupun funky, dan butuh komitmen besar.

Berminat jadi presiden MP? Silakan nilai diri kalian masing2, apakah mau dan mampu melakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Punya stamina dan mobilitas tinggi, sehingga bisa mengikuti proses persiapan sebuah acara yang terkadang saling berjauh-jauhan lokasi. Kuat bergadang beberapa hari tanpa tepar.
  • Punya ketegasan untuk memilah mana pendapat yang benar-benar berasal dari pemikiran mendalam, dan mana yang cuma berasal dari isi perut yang salah jalur keluar.
  • Rela berkorban materi. Mulai dari nombokin dana kegiatan yang suka mepet di detik-detik terakhir, hingga yang kecil-kecil seperti untuk beli pulsa sehingga bisa ber-SMS dan bertelepon dengan seabrek anggota panitia dalam rangka persiapan acara. Sebaliknya, juga punya ketelitian dan transparansi untuk mengelola dana sumbangan pelaksanaan kegiatan yang nggak sedikit jumlahnya.
  • Punya memori kuat untuk menghafal ribuan user di balik user id MP, sehingga dalam event kopdar akbar bisa jadi fasilitator untuk saling memperkenalkan para peserta. Selain itu pengenalan terhadap para anggota MP juga penting untuk pengerahan sumber daya saat pembentukan panitia, agar bisa menerapkan prinsip "the right man on the right place".
  • Punya fleksibilitas untuk dapat diterima oleh berbagai golongan di jagad MP.
  • Punya kesabaran untuk mendengar komplen sebagian peserta kegiatan yang nggak tahu menahu soal persiapannya, tiba-tiba muncul pas hari H dan nyeletuk, "acaranya kok gini doang sih, panitianya nggak profesional banget!".
  • Bersedia mengorbankan waktu dan pikiran untuk mengurus rakyat MP tanpa imbalan apapun, sementara di luar MP pastinya masih banyak hal lain yang juga menuntut untuk diurusin.
  • Punya koneksi luas dengan berbagai pihak, mulai dari media massa, perusahaan sponsor, hingga komunitas lain sehingga bisa mendukung kegiatan besar MP.
  • Mau menyediakan waktu untuk menengahi, minimal memperhatikan, apabila terjadi perselisihan nggak penting antar anggota MP.
  • Mau memperhatikan isi posting para anggota MP, supaya bisa merespon aspirasi para anggota dalam bentuk tindakan nyata. Banyak orang yang senang kalo postingnya dibaca, tapi untuk senang membaca posting orang lain (yang terkadang kurang penting dan kurang menarik) butuh kepedulian tersendiri.
  • Punya kemampuan memotivasi orang lain, karena semua kegiatan MP adalah kegiatan sosial yang tidak mendatangkan keuntungan material apapun bagi para panitianya.

Nggak perlu pemilu-pemiluan, nggak perlu daftar-daftaran, selama tindakan nyata kalian membuktikan bahwa kalian memiliki semua poin-poin di atas, dengan sendirinya kalian akan jadi presiden MP. Yang menentukan apakah kalian pantas untuk disebut "presiden MP" adalah para penghuni jagad MP.

Sanggup?


Thursday, June 11, 2009

[being nice for dummies] #0014: mencari kesempatan berbagi

Temen gue yang bernama Gandhi* sejak dulu kala punya kebiasaan unik yang dijalankannya nyaris tanpa absen setiap hari, yaitu bagi-bagi cemilan. Di mejanya hampir selalu tersedia aneka cemilan, mulai dari kacang, crackers, emping, krupuk, dllsb. Sebagian kecil dia makan sendiri, sebagian besar buat dikasih-kasihin ke setiap orang yang mampir di mejanya. Dia terkenal banget dengan kebiasaannya ini, sehingga tiap hari ada aja orang mampir ke mejanya dengan alasan ingin ngobrol namun dengan tampang ingin ngemil. Kalo gue itung-itung, sebenernya lumayan gede juga lho, budget yang harus dikeluarkan Gandhi untuk aksi penyediaan cemilan gratis ini. Gue perhatiin rata-rata dia menyediakan cemilan bernilai sekitar 15 ribu sampe 20 ribu per hari, dikali 20 hari kerja artinya dia bisa mengeluarkan dana sampe 400 ribu per bulan - cuma buat meladeni nafsu ngemil temen-temennya yang nggak tau diri ini.

Perubahan terjadi sekitar 2 bulan yang lalu ketika Gandhi tiba-tiba kena vonis harus diet oleh dokter, karena kadar kolesterol darahnya mengkhawatirkan. Apakah lantas Gandhi berhenti menyediakan cemilan? Ternyata enggak, cuma bentuk cemilannya aja yang berubah. Kalo dulu berkisar pada makanan-makanan kering, sekarang beralih ke buah-buahan. Apel, jeruk, pisang, pir, bergelimpangan di mejanya. Tetep dia sediakan dalam jumlah banyak supaya bisa menjamu para tamu yang mampir, padahal jelas-jelas buah-buahan itu harganya jauh lebih mahal daripada sebungkus kacang atau emping. Gue perkirakan budget jamuan cemilan Gandhi sekarang bisa mencapai 40 ribuan per hari, dikali 20 hari kerja = 800 ribu per bulan!

Pagi tadi, dua orang temen gue muncul di deket meja Gandhi sambil cengar-cengir khas muka-muka orang nyari cemilan.
"Assalamualaikum.... Kang Gandhi punya cemilan apa hari ini...? Kebetulan... kami belum sarapan nih... hehehe..."
"Waduh, maap... maap... tadi belum sempet beli, nggak punya apa-apa nih," jawab Gandhi dengan tampang menyesal. "Maap sekali ya...!"
"Oh... ya udah deh nggak papa."
Kedua orang bermental parasit itupun ngeloyor pergi, balik ke mejanya masing-masing.

Gue yang lagi konsen ngetik tadinya nggak terlalu memperhatikan kejadian itu, sampe waktu Gandhi colek-colek, "Gung, kalo mau pesen risol kribo dadakan gini, bisa nggak ya?"
"Oooh kayaknya sih bisa, sekarang hampir tiap hari kita ada stok kok. Bentar ya, saya teleponin ke rumah," kata gue sambil angkat telepon. Tapi mendadak gue inget sesuatu. "Eh, kok mau pesen risol kribo sih? Udah bosen diet ya? Gimana sih, udah bagus kemarin-kemarin disiplin makan buah, kolesterol turun, sekarang udah mau kumat lagi ngemil gorengan!"
"Bukan... buat itu tuh, anak-anak, kasihan pada lapar belum sarapan..."
"HALAH! Anak-anak itu pake dipikirin! Nggak usah! Kebiasaan tuh Gan, asal mau ngemil maunya tinggal minta ke Gandhi... padahal kan mereka juga punya duit, bisa beli sendiri! Ngapain sih repot-repot?"
"Bukan gitu gung, ini kan kesempatan untuk bersedekah. Mumpung ada orang yang jelas-jelas lapar, minta makanan ke kita, kalo kita bisa ngasih makanan, pahalanya gede Gung... biarpun dia punya duit bisa beli sendiri..."



Kalo denger kata 'kesempatan', apa yang terlintas di benak kita? Biasanya sih segala sesuatu yang berkaitan dengan 'menerima':
"Kesempatan memenangkan hadiah...." "Kesempatan promosi..." "Kesempatan dapat beasiswa..."
Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa kesempatan untuk memberi dan berbagi, juga perlu untuk dicari dan diusahakan?

*pernah muncul sebagai bintang tamu di posting yang ini
foto: Gandhi, di meja kerjanya yang lama, tahun 2007.

Wednesday, June 10, 2009

tip menghalau badai note di multiply ver. 4

Ini mungkin masalah perbedaan mindset ya, tapi buat gue, MP adalah tempat gue mencari bacaan bermutu, tulisan-tulisan inspiratif, informatif, dan menghibur. Itulah sebabnya gue senewen banget dengan salah satu fitur di MP ver. 4 yang memungkinkan orang memposting 'quick note' ala status update di FB, sedemikian rupa sehingga message board gue dipenuhi dengan posting-posting sebaris seperti:

"Hmmm... nulis apa ya?"

atau

"Lagi sendirian nih..."

atau

"Tukang nasi goreng kok nggak lewat-lewat ya?"

atau

"Ketek gue semakin gondrong. Apakah sebaiknya gue cukur? Pls advise."

Entahlah, di FB gue nggak pernah terganggu dengan status updates, tapi kalo di MP jadi nyebelin banget. Kecuali kalo ada yang bikin quick note berbunyi,

"Gue abis nelen kadal ijo, ternyata rasanya enak juga"

atau sejenisnya, rasanya quick note bukan salah satu fitur MP yang menarik buat gue klik.

Untunglah MP juga melengkapi versi 4-nya dengan filter yang lebih canggih. Oleh karena itu, buat MPers yang merasa senasib dengan gue, manfaatkanlah fitur filter ini untuk menghalau serbuat quick notes. Caranya adalah:

  1. Dari message board, mouse over (lewatkan kursor tanpa mengklik) tulisan "Custom Filter" di sebelah kiri layar. Akan muncul tulisan "edit" di sebelah kanannya. Klik di situ.
  2. Akan terbuka sebuah halaman setting filter. Seperti ini:

  3. Beri nama filter ini sesuai selera. Kalo gue sih milih nama "no shout". Kosongkan tanda centang di sebelah "Notes". Karena kebetulan gue juga kurang tertarik baca "Guestbook" jadi gue kosongkan juga tanda centang di sebelahnya.
  4. Klik "OK".
Filter baru ini akan langsung mulai berjalan, dan elo bisa menikmati message board bebas gangguan notes. Jangan kuatir, kalo suatu hari nanti lo tiba-tiba kangen ingin baca notes, lo tinggal klik "Recent Updates" di sebelah kiri message board.

Selamat ngeMPi bebas notes!

Sunday, May 31, 2009

manekin informatif

Mungkin inilah manekin pertama di dunia, yang secara tersirat menyampaikan pesan edukatif bagi para calon pembeli:

PERINGATAN! Mengenakan baju ini tanpa mawas diri terlebih dahulu terhadap ukuran 'anggota tubuh tertentu' dapat berakibat fatal!



Lokasi: Butik "DePe" Ampera, Cilandak.

Friday, May 29, 2009

Kirimkan kue GRATIS dari kotakkue.com buat seseorang yang istimewa!

DCC special

Punya seseorang yang istimewa, dan berulang tahun di bulan Juni?

Kirimkan kado istimewa berupa Double Chocolate Cake Special dari kotakkue.com, hanya dengan menuliskan sebuah cerita pendek tentangnya.

Aturan mainnya bisa diklik di sini.

Saturday, May 16, 2009

[review] knowing

Info pertama yang gue terima tentang film ini adalah lewat e-mail forward-an yang berisi daftar film2 yang akan beredar di tahun 2009. Gue tertarik karena ceritanya yang lumayan unik: seorang anak menguburkan selembar kertas berisi deretan angka ke dalam kapsul waktu. Saat kapsul waktunya dibuka 50 tahun kemudian, lembaran kertas itu jatuh ke tangan seorang profesor yang akhirnya menemukan bahwa deretan-deretan angka itu sebenarnya tanggal, koordinat lokasi, dan jumlah korban dalam bencana-bencana besar yang terjadi di seluruh dunia.

Nicolas Cage berperan sebagai Jonathan Koestler, seorang dosen astrofisika di MIT. Dia hidup berdua dengan Caleb, putra tunggalnya. Caleb lah yang pertama kali menerima lembaran kertas aneh itu dari sebuah acara peringatan di sekolahnya. Saat menyadari makna angka-angka yang tertulis, Jonathan berusaha menyelidiki siapa penulisnya, dan mencegah agar ramalan 3 bencana yang tersisa itu jangan sampe terjadi.

Selintas dari segi tema cerita, film ini mirip dengan 'Final Destination': yaitu tentang sekelompok orang yang berusaha mencegah sebuah bencana sebelum terjadi. Tapi dari segi penceritaan, film ini terasa jauh lebih 'serius' ketimbang FD. 'Serius' dalam arti berusaha memberikan latar belakang yang cukup tentang apa, siapa, dan mengapa di balik rangkaian ramalan bencana; tanpa menjadikan film ini berat dan membosankan. Alur ceritanya tersusun secara sangat rapi dan penuh perhitungan, membuat gue terus penasaran bertanya-tanya tentang apa sebenarnya maksud lembaran kertas ini. Pak sutradara juga nggak lupa menyelipkan beberapa adegan ngagetin dengan latar belakang musik yang tegang banget, plus adegan-adegan kecelakaan yang ngeri-ngeri. Apalagi saat memasuki pertengahan film, mulai muncul beberapa sosok misterius berbaju serba hitam yang terus-menerus mendatangi Caleb. Siap-siap deg-degan deh!

Soal pemain, Nicolas Cage mendapat peran langganannya sebagai orang biasa-biasa aja yang terpaksa jadi 'superhero' karena desakan situasi dan kondisi (coba tonton 'Con Air', 'The Rock', juga 'WTC'). Nggak heran kalo permainannya meyakinkan banget. Tapi jangan kuatir, walaupun film didominasi wajah ngantuk Cage dan sosok si bocah Caleb, tetap ada sedikit 'pemanis' bagi para penonton pria yaitu Rose Byrne yang berperan sebagai Diana, putri Lucida Embry sang penulis kertas misterius. Dalam sebuah adegan yang sangat tidak penting, Rose Byrne tampil sekilas dalam lingerie hitam saat mau ngelonin anak. Sungguh sebuah adegan yang sangat kentara maksud dan tujuannya.

Sampe kurang lebih 2/3 film, gue sangat terkagum-kagum dengan film ini; baik dari ide ceritanya yang nggak biasa dan penggarapannya yang nggak membosankan. Tapi waktu pelan-pelan rahasia di balik rangkaian angka terjawab, jawabannya sungguh bikin sebel. Apalagi waktu penjelasan tentang identitas sosok-sosok berbaju gelap ternyata persis sama dengan perkiraan gue. Seolah-olah para pembuat film ini lagi asik kerja serius sampe filmnya 66% jadi, tau-tau produsernya bilang "eh buruan kelarin tuh film, udah mau jadwal tayang nih!" sehingga sepertiga bagian akhir menjadi sedemikian klisenya.

Bagaimanapun, walaupun rada kecewa dengan bagian akhirnya, secara umum gue bilang film ini bagus dan layak dapet 4 bintang.

[review] monsters vs. aliens

Buat yang niat mau nonton film ini mungkin udah baca sekilas resensinya di berbagai media; yaitu tentang sekelompok monster bumi yang dikaryakan untuk mengusir alien. Setelah barusan gue tonton filmnya, ternyata... ya memang gitu doang ceritanya. Nggak ada kejutan, nggak ada plot ekstra... Joke-jokenya terasa hasil daur ulang dari entah berapa ratus film animasi yang pernah mendahuluinya. Intinya ya cuma gimana sekelompok monster itu melawan alien, titik. Ada sih sedikit upaya untuk memperkaya cerita dengan menambahkan unsur kisah percintaan antara Susan si cewek setinggi 50 kaki dengan Derek, pacarnya. Tapi gue yakin sebagian besar penonton udah bisa nebak gimana endingnya sejak kali pertama kedua tokoh ini muncul di layar.

Teknik animasinya memang keren, tapi kalo ceritanya basi ya ngantuk juga nontonnya. Yang jelas, film ini akan jadi film bersejarah buat Rafi, karena inilah kali pertama dia bisa bertahan di dalam bioskop tanpa rewel minta keluar - mungkin dipengaruhi kondisi bahwa dia ketiduran di pertengahan film.

[review] jamila dan sang presiden

Buat kalian yang biasanya make review gue sebagai pertimbangan milih film, tolong lebih berhati-hati menyikapi review gue yang satu ini. Gue sendiri bahkan nggak tau kenapa gue kasih bintang 4 untuk film ini.

Temponya lumayan lambat, temanya berat, dialog-dialognya terkadang terlalu 'nyastra' banget, endingnya bisa gue tebak saat film baru jalan seperempatnya... pokoknya bukan jenis film yang biasanya akan gue nikmati dan puji-puji. Tapi kenyataannya gue sama sekali nggak ketiduran - dan itu sebuah parameter yang sangat signifikan untuk menentukan kualitas sebuah film (menurut ukuran gue, tentunya).

Film ini bercerita tentang kehidupan Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang PSK yang ujug-ujug menyerahkan diri ke polisi dengan mengakui telah membunuh seorang menteri bernama Nurdin. Dia ditahan di penjara yang dipimpin oleh seorang kepala sipir bernama Ria (Christine Hakim). Sementara itu, kasus pembunuhan Nurdin berkembang jadi kasus yang sangat dipolitisir dan muncullah seorang pimpinan 'organisasi massa berbasis agama tertentu' (Fauzi Baadilah) yang bolak-balik menggelar demo menuntut Jamila dihukum mati. Lewat adegan-adegan flashback, pelan-pelan penonton dikasih liat siapa sebenarnya Jamila, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik pembunuhan Nurdin.

Ini adalah debut Ratna Sarumpaet menyutradarai sebuah film layar lebar, dan kalo gue mau sok pake istilah ala resensi film kelas majalah, 'dia menuliskan tanda tangannya dengan tinta tebal dalam film ini'. Temanya dia banget, tentang perdagangan dan pelacuran anak di bawah umur, dan dia bolak-balik menyodorkan potret-potret suram tentang masalah ini. Bukan cuma itu, lewat berbagai simbol dia menantang persepsi penonton tentang realita sosial di Indonesia, dan mempertanyakan penilaian-penilaian mereka sendiri. Lewat tokoh Ria yang dibawakan secara jaminan mutu oleh Christine Hakim, dia menyuarakan pemikiran gue yang sebel liat tingkah Jamila:
"Apakah karena hidup kamu menderita, lantas kamu boleh membunuh orang?"
atau
"Membunuh orang kamu tega, tapi cuma mimpi buruk saja bikin kamu berteriak-teriak seperti orang gila!"

Siapa sih Jamila? Dia ditampilkan di depan penonton sebagai sebuah sosok yang nggak mengundang simpati. PSK papan atas yang doyan dugem dan akhirnya membunuh orang. Buat apa sih penonton bersimpati kepadanya?

Di akhir film, mungkin sebagian penonton akan menyesali penilaian mereka yang terlalu dini. Saat itu, 'gimana endingnya' udah bukan lagi hal yang penting untuk dipertanyakan.

Sebagai film, 'Jamila dan Sang Presiden' bukanlah tontonan yang nyaman. Tapi kalau potret-potret suram yang ditampilkannya memang betulan mewakili realita, apakah berarti filmnya yang gagal jadi tontonan? Atau jangan-jangan kitanya yang telah gagal jadi masyarakat beradab?

[review] bukan cinta biasa

"Nonton apa ya? 'Crank 2'? 'Bukan Cinta Biasa'?"
"'Bukan Cinta Biasa' aja pak, lucu deh!"
Rada surprised juga gue denger rekomendasi yang begitu bersemangat keluar dari mulut mbak-mbak penjual tiket di Pejaten Village XXI tadi malem. Kebetulan memang gue rada tertarik nonton film itu setelah nonton trailernya bbrp minggu yang lalu. Dan ternyata ini adalah keputusan yang tepat.

Ringkasan cerita:
Tommy (Ferdy Element) adalah seorang rocker jadul yang secara kurang sadar umur masih aja mempertahankan gaya hidup rockernya di saat eranya udah jauh lewat. Pada suatu hrai, Tommy kedatangan tamu seorang ABG bernama Nikita (Olivia Lubis Jansen) yang mengaku sebagai anaknya. Ternyata Nikita adalah anak Lintang (Wulan Guritno), seorang cewek yang pernah dipacari (dan dihamili) Tommy 16 tahun yang lalu. Wulan sekarang udah punya suami bule bernama Steven dan lagi siap-siap untuk balik ke Amerika dan menetap di sana. Sementara itu Nikita merasa tanggung ninggalin sekolahnya yang tinggal satu semester lagi sebelum kenaikan kelas. Akhirnya Nikita memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang 6 bulan itu dengan tinggal bareng ayah-ketemu-gede-nya.

Komentar gue:
Film ini membuktikan betapa unsur-unsur yang tepat, kalo diolah dalam wadah yang juga tepat, bisa menciptakan film bertema biasa jadi tontonan yang menghibur. Mulai dari pemilihan pemeran utamanya, Nikita, kok ya bisa pas banget nemu orang yang mirip banget sama Wulan Guritno, sehingga cocok megang peran sebagai anaknya. Ferdy juga pas memerankan karakter rocker tua yang masih merasa diri cool padahal perut udah bergelambir. Selain itu juga ada sederetan wajah-wajah terkenal muncul sebagai cameo, seperti Aa Jimmy (Aa Gym gadungan), Aom Kusman, Tike Extravaganza, dan Roy Tobing. Bahkan Julia Perez yang cuma muncul sekilas-sekilas juga pas banget memerankan pacar Tommy, dengan dandanan dan tingkah lakunya seolah berteriak keras, "L**TE!!!"

Setting kota Bandung yang dari dulu terkenal sebagai kota kelahiran banyak band rock legendaris juga pilihan yang tepat banget. Apalagi ketika peran-peran pendukung juga diserahkan kepada pemain-pemain yang besar di Bandung, antara lain Joe dan Daan P-Project, bikin celetukan-celetukan spontan ala Bandung terdengar lebih natural.

Satu 'penyakit' yang sering menyerang film-film komedi Indonesia adalah usaha yang terlalu 'ngotot' untuk menyuguhkan adegan lucu. Akibatnya yang nongol di layar adalah tindakan-tindakan memperbodoh diri sendiri atau adegan-adegan yang 'trying too hard' to be funny. Syukurlah, film ini (relatif) berhasil meloloskan diri dari jebakan serupa. Film ini bersandar sepenuhnya pada komedi situasi, perpaduan berbagai unsur situasi yang sebenernya nggak bermaksud melucu tapi tiba-tiba saling bertabrakan sehingga menimbulkan kejutan yang lucu.

Ambil contoh waktu Tommy pertama kali kenalan dengan Steven, suami Lintang. Sebagai mantan pacar yang masih 'memendam rasa', Tommy ngomongin Steven pake bahasa Sunda, dengan asumsi si bule itu nggak akan ngerti. Eh taunya Steven balik ngomelin Tommy pake bahasa Sunda pasaran dengan fasihnya, karena dia pernah tinggal lama di... Soreang! Sebagai ekspresi kekagetannya, Tommy lantas nyeletuk, "Elu sebenernya orang Amrik atau orang Tasik sih?"

Celetukan-celetukan yang serba tepat waktu bertebaran di film ini, dengan tema utama menertawakan ulah para rocker tua. Mereka yang selama ini menjaga image sebagai sosok yang gahar, keren, dan macho harus terjebak dalam situasi yang "nggak rocker banget" seperti dilarang ngerokok oleh seorang ABG berumur 16 tahun, digodain homo tua di bioskop, belajar ngaji sambil sarungan dan berpeci, atau harus dorong mobil tua mogok:

"Heh, dorongnya yang bener dong!"
"Eeee... saya ini bassist, bukan kenek!" sahut Joe.


Film ini juga dengan isengnya mencampuradukkan adegan - adegan penuh perasaan yang memancing keharuan penonton dengan celetukan asal jeplak, seperti,

"Saat ini, gue merasa menjadi manusia seutuhnya," kata Tommy.
"Lah, emangnya selama ini merasa diri apa, tomat?"


Walaupun secara umum film ini sangat sangat sangat menghibur dengan cara yang enggak murahan, tetep ada beberapa hal yang terasa agak mengganggu. Misalnya adegan dialog serius Nikita dan Tommy di parkiran, terasa mendadak teralu nyastra banget. Juga beberapa hal yang rasanya agak kurang kuat untuk mendukung logika alur cerita, seperti:
  • kenapa Lintang dengan rela hati mau menitipkan anak satu-satunya selama 6 bulan ke tangan bapak rocker yang nggak pernah ditemuinya selama 16 tahun?

  • keperluan apa yang membuat Lintang dan suaminya harus segera berangkat ke Amerika, sehingga nggak bisa nunggu 6 bulan biar Nikita bisa menyelesaikan sekolahnya?


Tapi yang paling mengganggu adalah pilihan endingnya. Saat film baru berjalan seperempat Ida tiba-tiba menyeploskan ramalannya tentang bagaimana film ini akan diakhiri, dan sepanjang film gue berharap semoga ramalannya meleset. Eh taunya bener. Sial, endingnya bikin gue dengan sangat terpaksa memotong satu bintang dari film ini.

Selain itu gue juga curiga ada sesuatu yang serius terjadi dengan Joe di tengah proses shooting, karena kurang lebih di 1/4 bagian menjelang akhir film tiba-tiba menghilang dan nggak muncul lagi di layar tanpa penjelasan yang kuat. Kira-kira kenapa dia, ya? Sakit? Atau nggak cocok dengan crew filmnya?

Sebagai tontonan, film ini berpotensi untuk memuaskan semua penonton. Buat para cewek, bisa menikmati dramanya yang mengharukan, sementara para cowok bisa menikmati komedinya plus bonus Olivia Lubis Jansen yang selalu nampak segar dan renyah seperti lalapan baru dipetik:



Sekilas tentang Olivia Lubis Jansen: ini adalah debutnya di dunia film. Dia ditemukan oleh Asisten Sutradara film ini lagi jalan-jalan di Paris Van Java, Bandung dan langsung lolos casting. Walaupun baru pertama kali main film, tapi aktingnya nggak mengecewakan - bahkan sampe dapet pujian dari Menpora Adhyaksa Dault. Lahir di Denmark tanggal 11 April 1993, dan sekarang duduk di kelas 2 Bandung International School. Sekedar informasi, pada tahun 1993 di mana bocah ini baru dilahirkan ke dunia, gue udah kuliah semester 4. Fakta ini sedikit banyak membuat gue merasa tua bangka. Saat ini konon lagi terlibat 'cinlok dengan Afgan yang menyanyikan OST film ini. Ketika dikonfirmasi, tanggapan Afgan adalah: “Ya kita lihat sajalah ke depannya nanti. Nggak ada yang nggak mungkin.” Afgan, mari sini oom toyor sedikit, boleh? Sukses buat dek Olivia, pesan oom berhati-hatilah menjaga kartu keluarga dan akte kelahiran sebab kalo sampe hilang ngurusnya jauh.



Selamat juga buat Benni Setyawan, sang sutradara merangkap penulis cerita. Semoga masa depannya cerah dan produktif memproduksi film-film sekualitas ini lagi. Satu pesan gue; tolong di film berikutnya cari designer poster yang baru ya! Poster film ini bener-bener nggak sebanding dengan kualitas filmnya.

Sumber foto: situs resmi bukan cinta biasa

Monday, May 11, 2009

nulis sambil ngantor? bisa!

Hari ini pertanyaan berikut masuk di shoutbox gue:

"numpang ngomong ya mbot, cr ngebagi waktu loh antara kerja dan ngeblog gimana si.." Berhubung jawabannya panjang, gue tulis di posting aja deh. Kali-kali bermanfaat buat lainnya.

Kalo boleh milih, tentunya gue lebih seneng nulis sambil santai, make celana pendek dan kaos robek, sambil denger musik, ngemil kacang dan minum es teh, sesekali ngecek FB dan main game, diseling nonton tv bentar, ngerokok sebatang dua batang, ngetik lagi, dst dst. Tapi makin lama kesempatan seperti itu makin jadi barang mewah, jadi ya... guenya yang harus mengerahkan upaya ekstra untuk tetep bisa nulis, baik untuk blog maupun buku ke dua.

Prinsip 1: tulisan nggak akan mungkin sempurna sebelum ADA Dulu waktu gue masih punya banyak waktu, untuk bikin sebuah posting gue membutuhkan waktu bisa sampe berhari-hari. Buat yang udah baca buku "Ocehan si Mbot", tulisan gue tentang Tujubelasan (hal 55 -85) itu gue tulis selama 3 hari non-stop. Diketik dulu di MS Word, pindahin ke Frontpage, dikasih warna-warna background, rapihin dulu kode-kode HTML-nya... wah, pokoknya ribet. Rentang waktu kejadian yang diceritain juga panjang dan detil banget. Tujuannya untuk bikin tulisan yang menurut gue 'sempurna'.

Kalo sekarang gue melakukan hal yang sama, bisa-bisa blog ini baru gue update 3 bulan sekali. Sekarang, gue memilih tema-tema tulisan yang bisa ditulis segera. Toh kalo ada kesalahan atau ketidaksempurnaan, bisa dipoles belakangan. Tema-tema yang kira-kira akan butuh penulisan yang ribet, gue simpen dulu sebagai draft untuk ditulis kapan-kapan kalo ada waktu luang.

Prinsip 2: keyboard sebagai proses akhir Artinya, proses penulisan gue lakukan secara abstrak di dalam kepala sebelum gue berkesempatan ketemu keyboard untuk nulis. Kalo prosesor komputer yang buatan manusia aja bisa melakukan multi-tasking alias mengerjakan beberapa kegiatan pada saat yang bersamaan, gue yakin otak buatan Tuhan mampu melakukannya dengan lebih baik lagi. Saat dapet ide, gue biarkan ide itu berkembang di dalam otak seperti adonan roti. Sesiangan proses itu berjalan, sementara gue ngerjain tugas-tugas kantor. Apalagi dalam sehari pasti ada aja saat di mana gue cuma bisa bengong tanpa ngerjain apapun, seperti misalnya ngantri pesen makan siang atau duduk di boncengan ojek. Saat-saat seperti itu gue manfaatkan untuk mengembangkan ide di kepala. Malam harinya, biasanya ide itu udah jadi, tinggal disalin dari dalam kepala ke keyboard.

Prinsip 3: umum ke khusus Kalo dulu gue menulis sesuatu secara lengkap dari awal sampe akhir, dengan dukungan referensi-referensi hasil browsing di google, sekarang gue memilih untuk memecah ide dalam bentuk yang lebih spesifik. Dengan demikian tulisannya bisa lebih pendek dan lebih gampang ditulis (dan lebih gampang dibaca juga, tentunya).

Prinsip 4: lebih baik sedikit daripada enggak sama sekali Karena nyari waktu yang khusus untuk duduk diem dan nulis sambil merenung-renung makin sedikit, ya gue manfaatin aja waktu yang ada - sesedikit apapun. Misalnya waktu makan siang. Sebagaimana orang kantoran lainnya, gue punya waktu makan siang 1 jam, dari jam 12.00 - 13.00. Lima belas menit pertama gue pake untuk makan siang, 10 menit untuk salat Zuhur, masih ada 35 menit untuk nulis. Dalam waktu 35 menit mungkin nggak banyak yang bisa ditulis, tapi kan lebih baik daripada enggak sama sekali.

Prinsip 5: ide sebagai 'password'

Kalo lagi kerja tiba-tiba dapet ide, gue tuliskan ide itu dalam satu - dua kalimat dan gue kirimkan via email ke alamat email pribadi gue. Suatu hari nanti kalo gue lagi butuh tambahan ide, gue tinggal buka email - email pendek itu. Seperti password, ide-ide pendek itu biasanya bisa membuka 'keran' ide dalam bentuk yang lebih kompleks.

Begitulah kurang lebih strategi yang gue jalankan untuk menyiasati waktu yang makin terbatas buat nulis. Buat himura 232, semoga menjawab ya!

Ada yang punya strategi lainnya? Silakan dibagi di sini.

gambar gue pinjem dari sini