Pages

Tuesday, July 21, 2009

Aa Gym tadi siang: "semua ini hanya topeng"

Apa kabar, Aa Gym? Setelah di tahun 2006 mengumumkan keputusannya untuk berpoligami, jaringan bisnisnya mengalami kemunduran. Seperti diberitakan dalam salah satu posting di Gatra.com, pengunjung Daarut Tauhid berkurang drastis. Bahkan Warta Kota juga pernah memberitakan bahwa perusahaan televisi miliknya juga ikut-ikutan bangkrut dan terpaksa mem-PHK puluhan karyawan. Habis itu nama Aa Gym seperti tenggelam. TV - TV swasta yang dulu rebutan menampilkan Aa Gym di bulan Ramadhan, sekarang seperti alergi dengan sosoknya.

Hari ini, dalam rangka memperingati Isra Mi'raj, kantor gue mengundang Aa Gym untuk mengisi forum kajian mingguan. Maka terus terang kunjungan gue ke acara pengajian kali ini lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang kabar si Aa ketimbang untuk menambah pengetahuan agama... hehehe... Aa Gym hari ini hadir berkemeja lengan panjang warna merah, tanpa sorban ciri khasnya. Kok sorbannya nggak dipake, A'?

"Ah sudahlah, nggak pake ini juga kita tetap bisa diskusi. Semua ini kan hanya topeng..." kata Aa. Iapun menampik saat asistennya mendekat sambil membawakan sorbannya, sebelum ceramah dimulai.

Secara keseluruhan, memang terasa ada yang beda pada dirinya sekarang, dibandingkan 3 tahun yang lalu. Kalo dulu dia nampak lebih ceria, banyak senyum, sekarang seperti tersirat nada-nada getir dalam materi yang dibawakannya.

"Tiga tahun yang lalu saya ceramah cuma bisa ngomong saja, sekarang saya sudah merasakan sendiri yang namanya 'badai'," kata Aa, mengisyaratkan pada keputusan berpoligaminya yang banyak mengundang komentar negatif dari masyarakat. "Dan demi Allah, saya bersyukur dengan keadaan yang saya rasakan sekarang, karena saya bisa belajar banyak sekali."

Seperti bisa membaca pikiran para hadirin yang sebagian masih aja penasaran dengan latar belakang keputusannya berpoligami, dengan cerdik Aa Gym malah memasukkannya sebagai bagian dari ceramah. Dia kayaknya tahu, kalo dia bersikap menutupi, atau menganggap peristiwa itu nggak pernah terjadi, dia akan makin dikejar dengan pertanyaan. Maka sekalian aja dia berulangkali merujuk pada keputusan poligaminya, walau hanya dalam bentuk kiasan atau sentilan yang bernada 'tahu sama tahu lah'.

Misalnya waktu mengulas masalah takdir dan jodoh, Aa bertanya,

"Akhwat di sini, ada yang belum menikah? Ini cuma nanya doang, BUKAN MAU NYARI LAGI KOOOK!! "

Atau saat membahas tentang hidup berumah tangga, Aa dengan santai bilang,

"Jadi buat ibu-ibu di sini, saya kasih tahu aja ya... jangan buru-buru senang kalau suami tiba-tiba banyak memuji. Kalau suami banyak memuji, biasanya itu ada maunya.... Kenapa, PADA MAU BILANG ITU PENGALAMAN PRIBADI AA? "

Gue menangkap Aa Gym sedikit banyak masih menyimpan rasa kecewa pada orang-orang yang pernah menghujatnya, terutama kalangan media. "Orang bisa belajar lebih banyak dari cacian ketimbang dari pujian. Dulu saya dipuji-puji, disanjung-sanjung, tapi sesudahnya mereka juga yang mencaci saya... saya tahu betul bagaimana direktur-direktur televisi itu memblow-up berita poligami saya... padahal dulunya mereka itu..." kata Aa sambil membiarkan kalimatnya menggantung.

Intinya, Aa Gym berpesan bahwa dalam situasi sulit, satu-satunya solusi terbaik adalah dengan evaluasi diri dan bertobat. "Jangan menyalahkan orang yang menghina kita, jangan kesal karena orang mencaci kita, lebih baik kita introspeksi apa saja dosa yang telah kita perbuat. Guru Aa yang mengajarkan, lebih baik Aa banyak bertobat. Dan saat itu Aa disadarkan, betapa banyak dosa yang telah Aa buat. Dulu sibuk aja ngurus bisnis, jarang ketemu dengan anak-anak. Di majalah difoto bareng keluarga, kelihatan bahagia, tertawa, tapi itu cuma di foto saja. Aa boncengan naik sepeda (dengan istri) biar kelihatan harmonis, cuma untuk tujuan publisitas. Aa berkunjung ke rumah yatim, tangan Aa mengelus anak yatim tapi muka sadar kamera, karena niat Aa bukan tulus untuk menyantuni tapi untuk publikasi. Kalau Aa ingat semua itu, ya Allah, betapa banyak dosa Aa..."

Entahlah, versi Aa Gym yang baru ini memang jauh nampak lebih manusiawi ketimbang citra dirinya 3 tahun lalu yang serba putih, suci dan ideal. He's only human, like the rest of us. Memang dia nggak sefenomenal dulu, tapi ngeliat keberaniannya memikul konsekuensi atas pilihan pribadinya, kita justru bisa belajar banyak. Walaupun sampe detik ini belum tertarik untuk berpoligami, tapi gue setuju dengan pandangan orang yang bilang, "kenapa kita mencela orang yang berani berterus terang mengumumkan dirinya punya lebih dari satu perempuan yang HALAL untuk melayani di ranjang, tapi malah toleran terhadap orang-orang yang selingkuh sama entah berapa perempuan nggak jelas?"

Hmm.

Oh iya, hampir lupa. Sebelum acara ceramah dimulai, Aa ngobrol-ngobrol santai dengan segelintir hadirin yang udah ada dan mengajak berdiskusi, "ayo, mumpung kita sudah ada yang kumpul di sini, ada yang mau ditanyakan nggak? Ayo kita berdiskusi!"

Seorang mas-mas menyambut ajakan itu dengan mengajukan pertanyaan soal bom hari Jumat minggu lalu. "Aa, bagaimana pandangan Aa tentang pemboman yang sekali lagi dikaitkan dengan kaum muslim... bukankah ini mencoreng citra kaum muslim A... padahal dalam agama kita kan nggak pernah diajarkan untuk berbuat zalim seperti ini... bagaimana kita harus bersikap menghadapi pandangan negatif masyarakat, A?"

Lantas Aa Gym menjawab secara umum yang kurang lebih intinya, "...ya tidak ada jalan lain kecuali dengan bersikap sebaik-baiknya dan membuktikan bahwa Islam tidak mengajarkan hal-hal seperti itu...

"OK. Siapa lagi yang mau tanya?"

Semua pada diem, kelamaan. Maka daripada sepi gue angkat tangan.

"Aa... saya mau tanya..."

"Yak silakan, mau tanya apa?"

"Aa... PERNAH KETEMU AA JIMMY NGGAK? Itu loh, pemain sinetron yang suka niruin Aa..."

Aa Gym nampak agak shock mendengar penurunan kualitas pertanyaan yang begitu drastis, sementara beberapa hadirin lain menghela nafas dengan tampang males. "Yah, pernah sih... dia waktu itu datang ke rumah saya, diantar orangtuanya... Ada pertanyaan lain?"

"Trus waktu itu... NGOBROL APAAN AJA, A'? "

"ADA PERTANYAAN LAIN???!!"

Friday, July 17, 2009

SMS: akan ada 4 bom lagi? 8 bom lagi? 100 bom lagi?

Seperti yang udah-udah, setiap kali baru terjadi bencana, langsung bermunculan SMS-SMS nggak jelas yang memberitakan akan ada bencana susulan segera terjadi. Seperti pernah gue bahas di posting yang ini, ada aja orang iseng yang menciptakan SMS meresahkan, dan repotnya masih banyak juga orang yang cukup dogol untuk menyebarluaskannya sehingga teror semakin menyebar.

Entahlah, tapi kayaknya diem-diem kita berharap sebuah bencana nggak berhenti sampai di situ. Bencana kita anggap seperti film box-office: harus ada lanjutannya. Dan cukup banyak orang yang memilih untuk percaya bahwa lanjutannya memang betula-betul akan ada.

Sekarang gini aja deh guys, gue tanya sama kalian: Adakah di antara kalian yang pernah menerima peringatan via email / SMS tentang adanya bencana tertentu (entah tsunami atau bom) dan belakangan memang betulan terjadi bencana tepat pada lokasi, tanggal, dan jam yang disebutkan dalam email / SMS tersebut?

Kalo sampe ada, mungkin memang kita harus lebih memperhatikan SMS - SMS sejenis, tapi coba bayangin: kalo kita adalah seorang tukang bom, yang udah menghabiskan waktu sekian jam / sekian hari untuk merakit bomnya, dengan harapan saat meledak nanti akan memakan sebanyak mungkin korban, MUNGKINKAH KITA LANTAS ISENG MUNGUT HP DAN MENGIRIMKAN SMS PERINGATAN YANG AKAN MEMBUAT BOM TERSEBUT SIA-SIA?

Yang udah terjadi adalah, bom selalu meledak di waktu dan tempat yang sama sekali nggak terduga.

Gunakan sedikit akal sehat, guys, dan berhentilah mengedarkan SMS-SMS bodoh yang meresahkan masyarakat.

Sunday, July 12, 2009

unsolved mystery: apa bedanya es campur dan es shanghai?

Sebagai penggemar aneka jenis es serut, jenis es yang satu ini memang rada membingungkan. Biasanya, sebuah restoran cuma menyediakan es shanghai aja, ATAU es campur aja. Sempet terpikir oleh gue bahwa es campur itu sekedar nama lain dari es shanghai. Toh penampakannya kurang lebih sama: aneka buah-buahan, kolang-kaling, cincau, kadang ada tape singkong juga, ditimbun es serut yang dikucuri sirup merah dan susu kental manis putih. Tapi di beberapa resto, kedua jenis es ini tampil bersamaan di daftar menu. Hasilnya adalah kerancuan parah di kalangan para waiter.

Seperti yang pernah gue alami di sebuah resto masakan sunda di bilangan Cikini Raya. Es Campur dan Es Shanghai sama-sama tercantum di menu. Maka bertanyalah gue kepada mas waiter, "Mas, apa sih bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Shanghai pakai santan, pak..." jawab si mas yakin.
"Kalau Es Campur?"
"JUGA".

=ini dialog 100% nyata, gue nggak ngarang walaupun kedengerannya seperti cuplikan salah satu joke dari e-mail=

Barusan, gue abis makan di sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo. Lagi-lagi ada Es Campur dan Es Shanghai di menu.
"Mbak, apa bedanya Es Shanghai dan Es Campur?"
"Kalau Es Campur, pakai cendol, pak. Kalau Es Shanghai tidak pake cendol," jawab si mbak yang nampak lebih koheren ketimbang mas waiter di Cikini.
"OK, kalau gitu saya pesan Es Shanghai, dan untuk istri saya Es Campur," kata gue.

Nggak lama kemudian muncul seorang mas waiter membawakan dua mangkok es serut yang selintas nampak identik. Saat dia meletakkan pesanan di meja, gue tanya, "Mas, yang mana yang Es Campur?"
"Yang ini pak," katanya sambil menunjuk salah satu mangkok. Maka gue serahkah mangkok tersebut kepada Ida.
Nggak lama kemudian ida mulai bertanya-tanya, "Mana, katanya Es Campur ada cendolnya, ini kok nggak ada?"
"Yang ada cendolnya, Es Shanghai, bu," jawab mas waiter.

Sekitar lima menit kemudian, mbak waiter yang pertama menerima pesanan muncul untuk mengantarkan makanan, dan bilang, "Pak, mohon maaf, seharusnya yang Es Campur yang ini," katanya sambil menunjuk mangkok di hadapan gue, "YANG ADA CENDOLNYA."

Buat yang lagi makan di resto dan mulai kehabisan bahan obrolan, coba deh cek daftar menunya. Kalo ada Es Shanghai dan Es Campur tercantum di sana, tanyain apa bedanya sama para waiter, dan nikmati pembahasan filosofis tentang makna dan hakikat semangkok es serut...

Gambar: Es Campur (atau Es Shanghai?) dari sebuah resto bakmi di Jl. Saharjo

Wednesday, July 08, 2009

motret apaan sih oom?

Di koran Kompas terbitan beberapa hari yang lalu, gue nemu sebuah iklan produk wadah plastik. Tadinya sih gue nggak terlalu tertarik sama iklan itu, tapi... rasanya kok ada yang aneh, ya?

Ini dia iklannya:

Nemu apa yang aneh dari iklan ini?

Yak... posisi jari si tokoh bapak waktu motret!

Dia megang kamera dengan posisi menghadap ke belakang, maksudnya untuk motret dia dan keluarga di depan gedung opera Sydney. Masalahnya, sepanjang yang gue tau tombol shutter kamera umumnya ada di sebelah kanan, sedangkan dia megang kamera di sisi kirinya.


Kalo dia mau megang kamera dengan cara seperti itu, seharusnya dia menggunakan tangan kiri. Atau, kalo mau pake tangan kanan, harusnya telapak tangannya juga menghadap ke belakang sehingga dia bisa mencet tombol shutter dengan jari kelingking atau jari manis. Tapi konsekuensinya kamera jadi nggak tertangkap di foto iklan ini, karena tertutup telapak tangannya.

Kemungkinan lainnya, bisa juga dia set auto-timer dulu sebelum megang kamera dengan posisi seperti ini. Tapi tentunya lebih gampang motret dengan tangan kiri, kan?

Demikian ulasan kurang kerjaan edisi malam ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Tuesday, July 07, 2009

rafi: tante ari itu...

Saat ini Rafi lagi latihan menggunakan kosa kata baru, yaitu "apa" dan "siapa". Beberapa hari yang lalu gue denger dia lagi tanya jawab sama dirinya sendiri:

"Bapak itu SIAPA? Bapak itu Agung..."
"Bunda itu SIAPA? Bunda itu Ida..."

Abis itu dia mikir-mikir, kira-kira siapa lagi ya yang bisa gue bahas, mungkin gitu pikirnya.

Tau-tau dia nanya:

"Bapak... tante Ari itu APA?"

Tentunya gue jawab dengan bijak, "Rafi, tante Ari itu manusia juga seperti kita, walaupun mungkin tingkahnya seringkali rada aneh..."

Rafi manggut-manggut maklum.

foto: Rafi dan tante Ari di talkshow si mbot di Jogja.

Monday, July 06, 2009

lift anti klenik

Tadi pagi gue berkunjung ke kantor salah satu instansi pemerintah, dan menemukan sebuah keunikan di liftnya. Sebuah hal yang jarang banget gue temukan di lift-lift geung lain, yaitu...



...tombolnya lengkap, termasuk angka 4. 13 dan 14 yang selama ini dihindari orang karena dianggap bawa sial! Hebat! Akhirnya, ada juga perancang gedung yang nggak peduli sama hal2 klenik model ginian.

Ada yang pernah ngeliat lift lain yang tombolnya selengkap ini?


foto diambil di gedung Dirjen Pajak Menteng, Jl. Ridwan Rais Gambir.

Sebuah usulan bodoh untuk dunia pendidikan Indonesia

Beberapa hari yang lalu, gue nguping pembicaraan dua orang di lift tentang pusingnya mendaftarkan anak di sekolah 'unggulan'. Berdasarkan obrolan kedua orang ini, gue berkesimpulan bahwa peringkat sekolah ditentukan oleh nilai rata-rata lulusannya. Itulah sebabnya sekolah-sekolah unggulan mensyaratkan nilai minimal yang tinggi dari para calon siswanya, tentunya dengan harapan agar mereka juga akan lulus dari sekolah itu dengan nilai yang tinggi juga sehingga bisa mendongkrak peringkat sekolah. Ini kalo nggak salah lho, namanya juga hasil nguping.

Kalo menurut gue, praktek seperti ini justru mulai melenceng dari esensi fungsi sekolah itu sendiri. Yang namanya sekolah kan tempat belajar,maka logikanya sekolah dinilai bagus atau jelek dari keberhasilannya membuat para muridnya menjadi lebih pinter. Kalo sebuah sekolah dimasuki murid-murid yang nilai rata-ratanya 9, lalu murid-murid tersebut lulus dari sana dengan nilai rata-rata 9, itu sih bukan berarti sekolahnya yang hebat, tapi emang murid-muridnya yang pinter!

Sekarang coba gue tanya kepada kalian semua yang kebetulan punya pengalaman mengajar, baik mengajar di depan kelas, atau sekedar ngajarin adik bikin PR: mana yang lebih sulit dan butuh upaya lebih besar: ngajarin anak yang emang dari sononya udah pinter, atau ngajarin anak lemot yang saat diterangin mulutnya bisa dijadiin pot taneman hias saking lebar nganganya? Pastinya anak-anak lemot butuh upaya dan keahlian yang lebih besar dari gurunya, kan? Lantas kenapa sekolah-sekolah yang cuma menerima murid-murid pinter dapet peringkat lebih bergengsi, sementara upaya yang mereka keluarkan untuk mendidik anak-anak pinter ini jauh lebih sedikit?

Entah kenapa, tiba-tiba gue teringat pada progam sales contest di kantor gue. Sebagaimana umumnya sales contest, kriteria pemenang "Best Sales Performance" adalah kantor cabang yang bisa menjual paling banyak. Tapi selain itu juga ada kriteria "Best Sales Improvement" buat kantor cabang yang peningkatan penjualannya terbesar, walaupun mungkin belum mencapai angka penjualan terbesar. Misalnya gini: kantor cabang A, tahun lalu punya nilai penjualan 85 juta dan tahun ini 100 juta, sedangkan kantor cabang B tahun lalu hanya menjual senilai 20 juta tapi tahun ini berhasil menjual 75 juta. Dengan demikian, kantor cabang A memenangkan penghargaan "Best Sales Performance", dan kantor cabang B memenangkan penghargaan "Best Sales Improvement". Tujuan diadakannya kriteria "Best Sales Improvement" ini adalah untuk memotivasi kantor-kantor cabang yang baru buka. Dari segi total nilai penjualan jelas mereka akan kalah dibanding kantor-kantor cabang lain yang udah lebih lamaan bukanya, karena namanya juga kantor cabang baru, customernya juga pasti belum banyak. Kriteria "Best Sales Improvement" memungkinkan mereka untuk berkompetisi secara lebih adil dengan kantor cabang lainnya, baik yang udah lama maupun yang baru buka.

Nah, usul gue, gimana kalo peringkat sekolah juga dihitung dengan cara yang sama, yaitu mempertimbangkan nilai rata-rata kelulusan DAN peningkatan nilai murid-muridnya saat baru masuk dan setelah lulus.Maksudnya, yang menentukan peringkat sebuah sekolah bukan cuma rata-rata nilai para lulusannya tapi juga seberapa banyak murid-murid itu mengalami perbaikan nilai. Dengan demikian SMA A yang menerima siswa dengan nilai rata-rata 7 dan berhasil mencetak lulusan dengan nilai rata-rata 9, seharusnya punya peringkat lebih tinggi daripada SMA B yang menerima murid dengan nilai rata-rata 8,6 dan mencetak lulusan dengan nilai rata-rata 9,2.

Seandainya cara perhitungan peringkat seperti ini diterapkan, maka sekolah-sekolah unggulan nggak akan lagi jor-joran menetapkan nilai minimal setinggi langit, karena kalo mereka cuma menerima murid dengan nilai rata-rata 9,9 mau ditingkatin jadi berapa lagi? Sebaliknya, sekolah-sekolah yang selama ini dinilai 'under dog' punya kesempatan unjuk gigi dan membuktikan bahwa mereka sebenarnya telah bekerja lebih keras untuk meningkatkan nilai para siswanya.

Gimana menurut kalian, setuju dengan usulan gue?

Sunday, July 05, 2009

[review] transformers: revenge of the fallen


Tanpa gue sadari, ternyata selama ini gue ngefans sama Michael Bay. Baru beberapa hari yang lalu gue tau bahwa dialah sutradara dari sejumlah film yang menurut gue bagus. Transformers, Bad Boys I & II, The Rock, Pearl Harbour, Armageddon, bahkan The Island yang jeblok di box-office pun menurut gue keren, dan semuanya disutradarai oleh Bay. Dan tahun ini, muncullah karya Bay yang terbaru: Transformers: Revenge of the Fallen (selanjutnya gue singkat TROTF).

Satu hal yang gue suka dari film-filmnya Bay adalah; selain adegan-adegan actionnya gila-gilaan, nggak sayang buang-buang duit untuk bikin adegan yang seru, juga punya cerita yang lumayan berbobot. Minimal nggak asal tembak, tonjok dan meledak; ada sisi-sisi kemanusiaan yang ikutan terangkat ke layar. Makanya waktu denger dia lagi ngegarap sekuel Transformers, ekspektasi gue lumayan tinggi. Toh udah terbukti Bad Boys II nggak kalah seru dibanding Bad Boys pertama.

Eh ternyata, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan.

Resiko yang harus ditanggung sebuah film sekuel adalah mau nggak mau penonton akan membandingkannya dengan film pertamanya. Masalahnya, film Transformers pertama itu bagus. Ada sejumlah plot paralel yang menceritakan tokoh Mayor Lennox yang kebingungan menghadapi serbuan robot asing di Qatar, dan Sam yang kebingungan ngeliat mobil barunya bisa ngabur sendiri dari garasi. Belum lagi ada unsur salah paham dari pihak pemerintah yang sempat menyandera Bumblebee, sementara para Decepticons yang seharusnya ditangkep malah bebas berkeliaran merencanakan serbuan pembebasan sang Megatron. Penonton dibikin gregetan dan harap-harap cemas. Sedangkan di TROTF, Autobots dan pemerintah udah berteman baik. Bumblebee udah jadi piaraan Sam. Mayor Lennox udah naik pangkat dan hidup makmur (kayaknya, soalnya dia jadi rada gendutan). Belum-belum film ini udah kehilangan sejumlah elemen penting yang sempet menyumbang ketegangan di film pertamanya. Dan untuk mengkompensasinya, Michael Bay melakukan kesalahan yang sama dengan banyak sutradara film sekuel lainnya: menambah karakter.

Coba inget dari serial Lethal Weapon, Batman pasca Tim Burton - pra Batman Begins, X-Men, dan Spiderman: bertambahnya angka di judul film diiringi oleh bertambahnya jumlah tokoh, dan berkurangnya kekuatan cerita. Secara statistik bego-begoan aja, kalo sebuah film dengan durasi 120 menit bercerita tentang 2 orang tokoh, maka rata-rata setiap tokoh kebagian jatah waktu 60 menit. Kalo film tersebut dibuat sekuelnya, dan ditambahi 3 tokoh baru sementara durasinya tetap 120 menit, udah jelas jatah waktu untuk menceritakan tokoh-tokohnya akan berkurang drastis. Akibatnya, para tokoh jadi terkesan numpang lewat, dan cerita filmnya jadi terkesan kurang solid.

Plot utama TROTF sangat terasa diada-adainnya: sejak petualangannya di film Transformers pertama, rupanya Sam kemasukan sejumlah informasi dari Allspark (kubus ajaib yang jadi rebutan antara kubu Autobots dan Decepticons). Akibatnya, di kepala Sam tersimpan informasi tentang The Matrix, yaitu... benda ajaib lainnya yang akan jadi rebutan antara Autobots dan Decepticons! Sementara plot pendukungnya yaitu tentang pengalaman Sam masuk kuliah terasa kurang kuat, dan cuma buat alasan untuk menampilkan adegan-adegan konyol dari kedua orangtuanya (nangis secara berlebihan, dan mabok brownies ganja di kampus).

Sedangkan robot-robot barunya, yah secara special effect pastinya nggak perlu dikomentarin lagi. Udah pasti canggih dan mulus, walaupun di beberapa adegan pengambilan super close-up malah bikin penonton kesulitan nangkep adegannya. Tapi yang paling mengganggu adalah karakterisasinya itu lho, maksa banget. Bumblebee yang di akhir film Transformers 1 diceritain udah bisa memulihkan suaranya sehingga nggak perlu ngomong lewat siaran radio lagi, di TROTF tiba-tiba kembali gagu. Trus tiba-tiba ada salah satu anggota Decepticons yang bisa nyamar jadi manusia. Padahal sejak film Transformers 1 digambarkann bahwa para robot itu cuma bisa meniru manusia dalam bentuk hologram yang duduk di belakang setir untuk menyamarkan fakta bahwa mereka bisa keluyuran sendiri tanpa supir. Itupun hologramnya nggak sempurna, kadang masih kedip-kedip gitu. Kalo memang mereka bisa menyamar jadi manusia, ngapain capek-capek nyamar jadi mesin giling yang gampang ketahuan? Belum lagi kemunculan 2 robot kembar, Mudflaps dan Skid yang bertingkah kenegro-negroan dan cekcok melulu biar nampak agak lucu, tapi malah jadi norak. Mereka mengingatkan gue pada tokoh konyol Jar-Jar Blinks di film Star Wars episode I, yang abis-abisan dicaci-maki para fans setia Star Wars dan secara mengenaskan langsung nggak pernah nongol lagi di episode II dan III. Asal tau aja, George Lucas, sutradara Star Wars, adalah teman sekaligus mentor panutan Michael Bay. Makanya gue bilang, kali ini Michael Bay jadi korban salah pergaulan. Untuk urusan ide-ide memunculkan tokoh lucu, kayaknya George Lucas bukanlah mentor yang baik.

Abis itu Megan Fox, yang pamornya melejit di Transformers pertama sebagai cewek super hot, di sini tampil mati-matian untuk menjadi lebih hot. Dulu, posenya yang lagi nungging di depan kap mesin Bumblebee jadi salah satu adegan yang paling dikenang orang dari film Transformers. Di TROTF, Bay berusaha mengulang hal yang sama dengan membuat Megan Fox kembali nungging, kali ini di atas motor. Gue nggak akan heran kalo di film Transformers 3 diceritakan pembatunya Megan Fox lagi mudik sehingga dia terpaksa kembali nungging untuk ngepel rumah. Tapi yang jelas, salah seorang temen gue berkomentar sebagai berikut: "Adegan paling keren dari TROTF adalah waktu Megan Fox lari slow motion, cuma pake tanktop, dan dadanya gondal-gandul seperti mau melarikan diri keluar." Andaikan Bay denger komentar ini, mungkin dia akan jedot-jedotin kepala ke aspal setelah menghabiskan budget 200 juta dollar untuk bikin aneka special effect tapi yang diinget penonton cuma 2 onggok lemak gondal-gandul.

Akhir kata, film ini seru, keren, canggih, tapi sebelum film mulai tolong matikan dulu otak kalian. Atau minimal, kurangi kepedulian kalian pada cerita, dan fokuslah pada special effectnya.

[review] ketika cinta bertasbih


Apa sih yang bikin kita betah nonton sebuah film dari awal sampe akhir? Setiap orang mungkin punya jawaban yang berbeda, tapi salah satu di antaranya adalah kepedulian akan nasib tokoh filmnya. Misalnya, kenapa kita ikutan deg-degan saat tokoh jagoan di sebuah film lagi terkepung musuh? Karena kita peduli pada nasib tokoh jagoan itu. Kita nggak ingin tokoh itu dikalahkan penjahat. Kenapa para ibu penggemar sinetron ikutan berteriak-teriak gemes saat tokoh gadis cantik yang lugu mengiyakan lamaran pemuda brengsek yang sebenarnya hanya mengincar harta warisan si gadis? Karena ibu-ibu itu nggak rela tokoh kesayangannya hidup menderita bersama si pria brengsek.

Lalu apa yang terjadi kalo seorang penonton nggak tergugah kepeduliannya pada nasib para tokoh yang lagi ditontonnya? Jawabannya adalah apa yang gue rasakan saat nonton film "Ketika Cinta Bertasbih" (KCB) sore tadi. Konflik demi konflik bermunculan silih berganti, tapi nggak ada satupun yang bisa bikin gue ikutan gregetan menunggu-nunggu gimana akhirnya. Emangnya kenapa kalo tokoh Azzam gagal mendapatkan gadis pujaannya gara-gara dia cuma mahasiswa miskin yang membiayai kuliah dengan jualan tempe? Lantas kenapa kalo tokoh Fadil jantungan? Apa dasar pertimbangannya sehingga tokoh Anna selalu memilih jilbab berbahan kaos yang membuat dia nampak seperti alien berleher panjang dan berkepala mini? Semua, kecuali yang terakhir, adalah pertanyaan-pertanyaan yang gagal mengusik kepedulian gue sebagai penonton.

Dengan memajang cap "Dijamin Mesir Asli" di posternya, film ini nampaknya berusaha keras meyakinkan penonton bahwa shootingnya betulan dilakukan di Mesir; sejak menit pertama. Gue memang nggak berharap KCB menggarap opening creditnya seserius film "Superman Returns" yang punya satu tim khusus untuk bikin opening credit doang, atau film "Watchmen" yang opening creditnya sampe jadi topik bahasan panjang lebar di berbagai forum. Tapi gue masih sulit percaya di era perfilman Indonesia yang udah modern ini masih ada film yang opening creditnya cuma cuplikan-cuplikan kegiatan sehari-hari di Mesir: ada orang jual beli di pasar, taksi lewat, bis lewat, mahasiswa lewat... mirip cuplikan siaran berita tentang kehidupan orang Mesir. Yang kurang cuma narasi berusara nge-bass, "Penduduk Mesir, saat ini berjumlah..." Sama sekali nggak ada kontribusinya terhadap cerita, kecuali lagi-lagi cuma bermaksud meyakinkan penonton: "Ini shootingnya di Mesir lho, nggak kayak film kami yang sebelumnya, yang banyak kesandung masalah perijinan itu, yang ini beneran di Mesir lho... bener deh... sumpah....janji... " Urusan "dijamin mesir asli" ini menjadi ironis saat muncul adegan makan ikan di pantai yang nampak sangat jelas diambil dengan bantuan efek komputer. Warna langitnya aneh, dan bintang-bintangnya seperti lampu hiasan etalase toko.

Abis itu bermunculanlah tokoh-tokoh, semuanya berebutan ingin merebut perhatian penonton dengan dramanya masing-masing, dan di mata gue nggak satupun berhasil. Ada Azzam, mahasiswa miskin yang udah 9 tahun nggak lulus-lulus karena harus kuliah sambil jualan tempe. Ada tokoh Furqon, mahasiswa kaya yang gemar foya-foya. Ada Anna, mahasiswi pasca sarjana yang "cantik, anggun, pintar", tapi bener deh, model jilbabnya bikin gue senewen banget. Kemunculan ketiga tokoh tadi masih direcoki oleh beberapa tokoh kurang penting; ada yang jantungan, ada yang ngasih tumpangan nginep buat penjahat terkenal, ada yang naksir adiknya temen sampe gemeteran waktu bawa nampan minuman. Siapa mereka, dan apa pentingnya mereka dapet porsi sebesar itu dalam rangkaian cerita film ini?

Waktu nonton Ayat-Ayat Cinta, yang juga diangkat dari buku karya penulis yang sama dengan KCB, gue merasa ada terlalu banyak cerita yang mau dipaksakan masuk dalam durasi film yang terbatas. Dulu gue kira AAC adalah film yang pas-pasan, makanya cuma gue kasih bintang tiga. Tapi setelah nonton KCB, tiba-tiba AAC jadi terasa jauh lebih bagus. Minimal, gambar-gambar yang muncul di AAC nampak jauh lebih artistik dan berwarna (sekalipun settingnya bukan "Asli Mesir"). Nggak ada adegan close-up yang berlebihan mirip sinetron. Lagu latar muncul seperlunya di saat-saat yang tepat. Saat para tokoh nangis, penonton merasa masalah mereka memang cukup pelik untuk ditangisi.

Dari segi materi cerita, sebenernya KCB bisa diolah jadi lebih menarik. Misalnya, kondisi di mana orang-orang di sekitar Azzam dan orang-orang di sekitar Anna banyak yang saling mengenal sementara Azzam dan Anna sendiri malah belum kenal, seharusnya bisa jadi modal yang cukup untuk bikin penonton gregetan. Sedangkan urusan si Fadil yang jantungan atau si siapa tuh namanya yang naksir adiknya Fadil tapi nggak berani ngomong, gue rasa nggak perlu terlalu dipaksakan untuk ikut muncul dalam film.

Tapi yah, namanya film kembali ke selera subyektif setiap orang. Ibu gue nampak sangat menikmati film ini, dan saat lampu bioskop nyala langsung nanya, "jadi kapan yang nomer 2 diputer di bioskop?". Juga ada bapak dan ibu yang kebetulan satu lif sama gue berkomentar dengan suara bindeng tersumbat ingus, "saya sampai nangis nonton film barusan... bagus sekali..."

Buat gue, satu hal yang bisa gue simpulkan dari film ini adalah...

...ternyata Habiburrahman El Shirazy, penulis novel KCB yang ikutan main di sini, mirip banget sama Wib ya? Silakan bandingkan sendiri:



Buat Wib, kalo besok-besok ada rencana bikin film kisah nyata tentang kehidupan Habiburrahman El Shirazy, jangan lupa daftar untuk ikutan casting ya!

poster film gue pinjem dari situs resmi KCB.

[review] king


"Indonesia banget, sih!"
Biasanya, sadar nggak sadar, kata-kata barusan gue lontarkan kalo ketemu aneka hal negatif di negeri ini. Misalnya, kalo ketemu orang main serobot-serobotan di jalan raya, denger berita fasilitas umum rusak padahal baru sebulan diresmiin, tersangka korupsi tiba-tiba bisa minggat ke luar negeri, atau yang paling sering kalo atlet / tim olah raga kita tersingkir di babak penyisihan, bahkan kualifikasi.

Tapi syukurlah, "Indonesia Banget" yang gue rasakan setelah nonton film ini jauh lebih positif ketimbang biasanya. Film ini memang "Indonesia Banget"; mulai dari cerita yang mengangkat salah satu olah raga paling populer di Indonesia, gambar-gambar keren yang mengekspos keindahan alam, dan tokoh-tokohnya yang sangat membumi.

Ceritanya sederhana aja: tentang usaha seorang bocah 12 tahun bernama Guntur yang sangat berbakat main bulu tangkis, dan berusaha masuk klub bulu tangkis bergengsi. Dia dilatih oleh bapaknya (diperankan secara sangat - sangat - sangat bagus oleh Mamik Srimulat) dan didukung oleh dua orang sahabatnya, Raden dan Michele.

Berbeda dengan tipikal film-film bertema olah raga ala Hollywood yang selalu menggambarkan tokoh lawan sebagai sosok angkuh yang menyebalkan dan terkadang main curang, di film ini penggambaran seperti itu nyaris nggak ada. Pesan utamanya memang bukan cuma bagaimana perjuangan untuk menjadi juara, melainkan bagaimana menjadi juara dengan cara yang benar.

Entah gimana caranya, tapi gue merasa bahwa pengambilan setiap gambar yang muncul di film ini dilakukan dengan perhitungan yang sangat detil - kalo nggak mau dibilang kompulsif. Komposisi obyek, perpaduan warna, sampe gerakan kameranya dibuat sangat artistik. Coba aja perhatiin waktu kamera menyorot pepohonan yang pucuknya diliputi kabut dari bawah, atau penggunaan helikopter untuk mengambil panorama alam yang menghijau... keren banget! Walaupun begitu, di beberapa adegan menjelang akhir film gerakan kamera yang selalu memulai setiap adegan dari bawah ke atas terasa monoton, tapi secara keseluruhan film ini diambil dengan "sangat mau susah" (karena banyak film Indonesia lainnya yang nampak males menggerak-gerakkan kamera ke sudut-sudut yang ngerepotin).

Rangga Raditya, pemeran Guntur yang baru pertama kali ini main film, tampil lumayan. Masih perlu banyak dipoles, tapi nggak jelek kok. Yang jelas, dia ini kayaknya emang beneran bisa main bulu tangkis, deh. Ada banyak adegan dia bertanding bulu tangkis yang diambil dari jarak menengah, memperlihatkan bahwa memang beneran dia yang bertanding, tanpa stand-in.

Tokoh Raden, sahabat Guntur diperankan oleh Lucky Martin. Kalo nggak salah anak ini adalah pemeran iklan Axis yang judulnya 'Si Amir' (CMIIW). Sebenernya nggak ada yang salah sih dengan aktingnya, tapi... hmmm... gimana ya, buat gue tampangnya rada nyebelin dan tua banget, jadi rasanya rada mengganggu jalannya film. Kalo memang bener dia itu pemeran iklan Axis, dulu gue pernah mengomentari iklan itu dengan "Amir, 12 tahun? Tampangnya kayak anak kuliahan semester 3".

Terlepas dari sedikit kekurangan di sana-sini yang masih dalam batas bisa diabaikan dan dimaafkan, film ini adalah sebuah film yang bisa bikin gue bilang "Indonesia Banget" dengan rasa bangga jadi orang Indonesia...

[review] coraline (graphic novel)

Komik ini gue dapatkan berkat kerelaan Haris nyasar-nyasar di labirin Tebet hanya untuk mengantarkan sebuah buku. Buat Haris, makasih ya!

Pertama-tama sebagai seorang penulis gue sangat menyambut baik terbitnya buku-buku seperti komik Coraline ini, karena keberadaannya di toko buku kemungkinan akan sama dengan buku si mbot yaitu: salah rak! Kalo diliat dari penampakan fisiknya, Coraline adalah komik, atau jaman sekarang orang lebih suka menyebut 'graphic novel', sehingga mungkin akan dipajang di rak-rak komik anak-anak. Ceritanya juga bertokohkan seorang bocah, dengan sudut pandang khas tokoh cerita anak-anak pada umumnya yaitu sering sebel karena diremehkan oleh orang dewasa di sekitarnya. Tapi kalo komik ini dibaca anak-anak, hmmm... gue kuatir para orangtuanya akan kerepotan karena anaknya mendadak nggak berani pipis sendiri di tengah malam!

Sesuai judulnya, komik ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis kecil bernama unik, Coraline. Dia dan kedua orangtuanya baru pindah ke sebuah rumah besar yang juga dihuni oleh orang-orang nyentrik. Ada sepasang ibu-ibu tua mantan penari yang hobi meramal nasib lewat daun teh, juga ada bapak tua yang mengaku sedang sibuk melatih tikus-tikus untuk main sirkus.

Sebagai anak yang nggak bisa diem, Coraline sibuk menjelajah rumahnya yang besar itu sampe akhirnya dia menemukan sebuah pintu ajaib. Saat pertama kali ditemukan, di balik pintu itu cuma ada dinding bata. Menurut ibunya Coraline, di balik dinding itu cuma ada ruang kosong yang nggak dipake lagi. Tapi di lain kesempatan, Coraline kembali mencoba membuka pintu itu dan menemukan bahwa di baliknya ada... sepasang suami istri yang penampakannya persis seperti ayah dan ibunya. Satu hal yang membedakan adalah, mereka nggak punya mata! Sebagai ganti mata, cuma ada sepasang kancing hitam terpasang di muka mereka.

Karena udah bosan nggak punya teman bermain, Coraline senang-senang aja ketemu sosok-sosok aneh yang minta dipanggil "The Other Daddy" dan "The Other Mommy" ini. Apalagi mereka mencekoki Coraline dengan berbagai makanan enak, mainan, dan pakaian yang bagus-bagus. Tapi Coraline mulai merasakan adanya masalah saat kedua orangtua 'baru' ini mulai mendesaknya untuk tetap tinggal bersama mereka, dan di saat yang bersamaan orang tua aslinya lenyap entah ke mana...

Coraline pertama kali diterbitkan tahun 2002 dalam bentuk novel, ditulis oleh Neil Gaiman, seorang penulis asal Inggris. Novel ini sukses mendapat penghargaan di mana-mana, sehingga pada tahun 2008 yang lalu diadaptasi dalam bentuk komik oleh Philip Craig Russell, seorang ilustrator dari Amerika. Bukan cuma itu, bulan Februari 2009 Coraline juga udah diangkat ke layar lebar dalam bentuk film stop motion (animasi menggunakan boneka) dengan sutradara Henry Selick (Nightmare Before Christmas). Lagi-lagi filmnya juga dapet banyak pujian dari para kritikus. Ngeliat trailernya, gue juga jadi penasaran ingin nonton filmnya. Sayang DVDnya baru rilis akhir Juli nanti. Sementara itu, berhubung gue baru baca komiknya, mari kita review komiknya aja.



Dari segi ide cerita, ini adalah salah satu cerita paling sinting, gila, miring yang pernah gue baca. Bukan cuma tokoh-tokohnya yang aneh-aneh, tapi juga reaksi si tokoh utama yang santai-santai aja ketemu orang bermata kancing, atau nemu sebuah gedung pertunjukan yang penontonnya semuanya anjing. Kalo mau dibilang horror, buku ini nggak berusaha menyajikan cerita serem yang bikin pembacanya ngeri karena takut dicaplok setan bertaring, tapi justru dengan menampilkan adegan demi adegan ajaib secara biasa-biasa aja seolah bagian dari keseharian setiap orang. Tapi toh tetap terasa ada sesuatu yang ganjil, gila, nggak normal, yang bikin pembaca tanpa terasa bergidik.



Sebagai ilustrator kawakan, Russell mengambil langkah yang cukup berani saat menterjemahkan novel ini dalam bentuk gambar-gambar realistik, sedangkan cover novel dan filmnya dikemas dalam visualisasi yang 'ngartun'. Dalam salah satu wawancara, Russell mengaku mencoba menterjemahkan setiap halaman novel ke dalam setiap halaman komiknya. Itulah sebabnya jumlah halaman novelnya hampir sama dengan komiknya. Hasilnya adalah sebuah karya yang sempurna: setiap panel gambarnya punya tempo gerak sendiri-sendiri mengikuti alur cerita. Di bagian awal terasa pelan untuk menggambarkan kebosanan Coraline yang kurang kegiatan, tapi makin ke belakang temponya makin terasa cepat dan menegangkan. Dengan nekadnya Russel juga melawan pakem 'komik horror' yang biasanya didominasi warna-warna gelap dan opaque, tapi dia komik ini dia malah banyak memakai warna - warna ceria bersaturasi rendah... seolah semua baik-baik aja, tapi MATANYA DARI KANCING... hiiiy...!!



Buat para orangtua yang mau membelikan buku ini untuk anaknya, jangan ngomel kalo harus bangun malem-malem nemenin pipis. Sedangkan buat para orangtua yang berpendapat sebuah komik anak-anak nggak akan mungkin berhasil menakut-nakuti diri mereka yang gagah perkasa, jangan menyesal kalo belakangan harus bangunin anak untuk minta ditemenin pipis.